Chapter 5 - Masa Lalu Azhar

69 10 0
                                    

Matahari mulai muncul dari ufuk timur. Beberapa orang sudah memulai aktifitasnya. Kendaraan pun lambat laun mulai memadati jalan ibukota. Tak heran jika macet sudah menjadi hal yang biasa bagi para pengendara motor maupun mobil. Ditambah hari ini adalah hari senin. Hari pertama memulai segala aktivitas sesudah hari libur.

"Mbok, Dinda berangkat dulu, ya." pamit Dinda kepada Mbok Juminten, salah satu pembantu di rumahnya.

"Nggak sarapan dulu, Non?" tanya Mbok Jum, sapaan akrab Mbok Juminten.

"Nggak, Mbok. Nanti Dinda sarapan di sekolah aja. Udah mau telat, nih. Yaudah Dinda berangkat. Assalamualaikum." Dinda segera berlalu dan tak lupa ia mencium tangan Mbok Jum.

Mbok Juminten, atau yang kerap dipanggil dengan Mbok Jum adalah seorang wanita paruh baya berusia 50 tahun. Ia sudah bekerja dengan orang tua Dinda sejak Dini dan Dinda masih bayi. Selama orang tua mereka--Dini dan Dinda--bekerja di luar kota, mereka hanya tinggal dengan Mbok Jum. Dan tak lupa juga Pak Dadang, suami dari Mbok Jum yang tak lain adalah sopir pribadi mereka.

Mbok Jum dan Pak Dadang sudah menganggap Dini dan Dinda seperti anak mereka sendiri. Begitupun dengan Dini dan Dinda, mereka sudah menganggap Mbok Jum serta Pak Dadang seperti orang tua kedua mereka. Maka dari itu, mereka sudah terbiasa untuk mencium tangan Mbok Jum dan Pak Dadang ketika hendak pergi.

Dini sudah berangkat lebih dulu dengan menggunakan jasa ojek online. Itu disebabkan karena letak sekolahnya lebih jauh dibandingkan sekolah Dinda. Maka dari itu, ia memilih untuk berangkat lebih pagi.

📷📷📷

"Aduh, ini angkot pada ke mana, sih?" ujar Dinda sambil menghentakkan kakinya pelan. Ia melirik jam tangan miliknya, 15 menit lagi bel berbunyi. Sedangkan waktu yang harus ditempuh dari rumah ke sekolah adalah 10 menit. Itupun jika lancar, belum dihitung jika macet.

'Sial. Ini mah gue bisa telat. Lagian angkot ke mana, sih. Tumben banget pada nggak ada. Ini lagi, kenapa gue nggak bisa install gojek, sih?' Pikir Dinda.

Karena angkot tak kunjung datang dan aplikasi yang ingin diunduh tak kunjung bisa, akhirnya Dinda memilih untuk berjalan kaki menuju sekolahnya. Ia melangkahkan kakinya secepat mungkin. Sesekali ia berlari kecil agar dapat sampai di sekolahnya tepat waktu.

TIN..TIN...
Bunyi klakson sebuah mobil membuat Dinda menghentikan langkahnya. Tiba-tiba sebuah mobil sport berwarna merah berhenti di samping Dinda. Dinda memutar kepalanya untuk mengetahui siapa orang yang mengendarai mobil tersebut.

Tiba-tiba jantungnya berdegup kencang tatkala matanya melihat sosok Azhar yang keluar dari dalam mobil tersebut dan sedang menghampiri dirinya.

"Udah jam segini. Ikut gue aja, yuk?" ajak Azhar dengan senyuman khasnya.

"A-apa?" jawab Dinda gugup. Sedari tadi ia tidak fokus dengan ucapan Azhar. Yang gadis itu lakukan hanya memandangi wajah Azhar yang menurutnya semakin hari semakin tampan.

"10 menit lagi bel masuk. Daripada lo telat, mending lo ikut gue aja." ajak Azhar sekali lagi. Dinda melihat jam tangannya. Memang 10 menit lagi bel masuk. Jika ia memilih untuk tetap berjalan kaki pasti akan memakan waktu lebih lama lagi. Lagipula, kapan lagi ia bisa diajak oleh orang yang disukanya?

"Tapi takut ngerepotin lo, Kak." ujar Dinda. Tidak. Itu hanya sekedar basi-basi ala Dinda saja. Padahal hatinya sudah berjingkrak ria atas ajakan Azhar.

"Nggak papa, Kok. Yaudah ayo cepet. Keburu bel masuk." Azhar berjalan mendahului Dinda lalu Dinda berjalan di belakangnya.

Photograph (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang