Chapter 9 - Scholarship

64 6 0
                                    

"Ma, Pa, Dinda, ada yang mau aku omongin," Dini memecahkan keheningan setelah diyakini anggota keluarganya sudah selesai makan. Mereka yang disebut oleh Dini menatapnya dengan tatapan bertanya.

"Ada apa, Sayang?" tanya Yunita.

"Jadi, sebenernya aku dapet beasiswa ke Inggris." ujar Dini dengan hati-hati. Ia takut mama dan papanya tak mengizinkannya untuk menimba ilmu di Inggris.

"Beasiswa?" tanya Eddy menatap putri sulungnya.

"Iya, Pa. Kalo papa sama mama ngizinin, minggu depan aku berangkat. Untuk urusan paspor, visa, dan lain-lain udah diurus sama pihak sekolah."

"Tapi apa nggak tanggung 1 tahun lagi kan kamu lulus?" tanya Yunita.

"Nah, justru itu kalo aku bisa mertahanin nilai-nilai aku, nanti aku bisa dapet beasiswa lagi buat kuliah di sana," Eddy dan Yunita saling menatap. Sedangkan Dinda sedari tadi hanya diam tak berkutik.

"Tapi mama khawatir sama kamu, Sayang. Di sana itu kan pergaulannya bebas, mama khawatir kamu jadi ikut pergaulan di sana," ujar Yunita cemas.

"Papa juga nggak yakin kamu bisa jaga diri kamu. Apa kamu nggak mau nyelesain SMA kamu di sini aja? Nanti setelah lulus baru papa daftarin kamu sekolah di sana," Eddy melanjutkan.

"Pa, ma, aku janji bakal jaga pergaulan aku, Kok. Lagian yang dari Indonesia kan nggak cuma aku. Kalian nggak usah khawatir aku nggak bisa jaga diri, karena aku pasti bakal jaga diri aku baik-baik. Lagian, kan dari dulu papa tau kalo aku pengen banget dapet beasiswa ke luar negeri. Walaupun aku paham papa sama mama pasti mampu biayain aku, tapi aku nggak mau ngerepotin kalian. Boleh ya, Ma, Pa?" Dini memohon kepada kedua orang tuanya.

Eddy dan Yunita saling menatap satu sama lain. Memikirkan bagaimana nasib putri sulung mereka jika tinggal di salah satu negara di Eropa tersebut.

"Kalo emang kamu mau, yaudah papa izinkan. Tapi, kamu harus janji sama papa, jangan kebawa pergaulan sana. Jaga diri kamu baik-baik. Bergaul boleh, tapi bukan berarti cara bergaul mereka kamu ikutin. Yang baik kamu ambil, yang nggak baik kamu tinggalin. Janji?" Eddy menatap putri sulungnya dengan serius.

Dini yang mendapat persetujuan papanya untuk memekik girang, "Ya, Pa. Dini janji!"

Yunita yang melihat putri sulungnya bahagia pun ikut tersenyum. Antara senang dan tak rela untuk melepas putri sulungnya itu.

Dinda juga sama. Melihat sang kakak mendapat beasiswa di luar negeri menambah rasa kekaguman terhadap kakaknya itu. Tetapi ia juga merasa sedih karena sang kakak akan meninggalkan dirinya. Tidak ada lagi yang bisa ia ajak curhat, hang out, bercanda bersama, nonton drama korea bersama, bahkan begadang bersama.

Seusai makan malam, mereka kembali ke kamar masing-masing untuk beristirahat. Dinda yang masih ingin bertanya bagaimana sang kakak mendapat beasiswa itu pun beranjak dari kamarnya dan menuju kamar sang kakak.

Dini yang baru saja ingin menutup matanya, diurungkan karena melihat sang adik masuk ke kamarnya.

"Kak, udah mau tidur, ya?" Dini langsung duduk bersandar di kepala ranjang.

"Belum, Kok. Ayo, sini masuk!" Dinda mendekat ke ranjang Dini dan duduk di sebelahnya.

"Kenapa?" tanya Dini. Dinda segera menoleh ke arah Dini, "Kakak beneran mau ambil beasiswa itu?"

Dini yang mendengar pertanyaan adiknya itu terkekeh, "Ya iya, dong. Sayang kalo nggak kakak ambil."

"Terus nanti Dinda sama siapa? Nanti pasti papa sama mama jarang pulang. Ntar Dinda sendirian, dong!" jerit Dinda menahan tangis. Matanya mulai berkaca-kaca, dadanya mulai naik turun tak beraturan.

Photograph (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang