Chapter 10 - Au Revoir Dini!

56 3 0
                                    

A/N : Percayalah, butuh perjuangan untuk bikin chapter ini. Tolong hargai, ya!

Walaupun aku sudah tak lagi menghubungimu. Percayalah bahwa namamu akan selalu tertanam di hatiku. Terima kasih untuk kesempatan yang telah kau berikan padaku untuk menjadi sahabatmu.

Walaupun aku sudah meninggalkanmu, percayalah bahwa semua kenanganmu akan selalu ada diingatanku. Terima kasih telah mengizinkanku untuk menjadi sahabatmu. Sampai jumpa!

●●●

Suasana di rumah saat ini bisa dibilang sangat sibuk. Hal itu disebabkan karena hari ini, lebih tepatnya pagi ini Dini akan berangkat ke Inggris. Eddy, Yunita, dan Dinda sedang bersiap-siap untuk mengantar Dini ke bandara. Sedangkan Dini sedang mengecek beberapa barang yang akan dibawanya untuk memastikan semua barang telah tertata rapi di dalam koper.


Setelah dipastikan semua barang telah masuk dan tertata rapi di dalam koper, ia beranjak ke salah satu dinding yang terdapat di sudut kamarnya. Di sana terdapat sebuah bingkai yang ditutupi kain. Ia membuka kain yang menutupi bingkai tersebut lalu ia pandangi gambar lukisan seorang laki-laki yang sedang bermain gitar. Ia mengambilnya dan ia bungkus bingkai tersebut dengan kertas berwarna coklat. Ia berencana membawa lukisan tersebut ke Inggris.

'Meskipun kamu nggak bersamaku, tapi dengan dibawanya lukisan ini aku merasa bahwa kamu selalu dekat denganku, Jal.'

Setelah dipikirkan baik-baik, Dini memutuskan untuk tidak bertemu dengan Ijal. Ia tidak ingin usahanya selama ini sia-sia dan membuat ia berat untuk meninggalkan Indonesia. Keputusannya memang sempat ditentang oleh Dafina dan Salsa. Namun ia mencoba menjelaskan kepada mereka alasan yang membuat ia tak ingin bertemu lagi dengan Ijal.

Berat memang ketika kau harus meninggalkan orang-orang yang kau sayangi saat kau ingin selalu bersamanya, ingin selalu di dekatnya, dan ingin selalu ada di saat ia membutuhkanmu. Lalu, ketika takdir sudah mengatakan harus pergi, kau bisa apa?

"Kak, udah siap belum? Ayo berangkat! 2 jam lagi kakak berangkat, loh!" suara Dinda memecahkan lamunan Dini.

"Iyaa sebentar."

Sekali lagi ia menatap kamarnya. Kamar yang telah ditempatinya selama 16 tahun. Lalu tatapannya beralih pada barang-barang yang akan dibawanya. 2 koper besar berisi pakaiannya, 1 koper lagi yang berisi berbagai aksesoris dan berbagai peralatan miliknya termasuk sketch book beserta teman-temannya, 1 ransel yang berisi berbagai gadget dan dompet miliknya, dan terakhir sebuah lukisan yang sudah ia bungkus rapi.

"Dindaaa bantuin gue bawain barang-barang, dong!" Dini menyelipkan  kepalanya dibalik pintu kamarnya. Dinda yang berada di kamarnya pun langsung menyahut, "Okeee"

Setelah semua barang-barang masuk ke dalam bagasi mobil, Dini mulai pamit kepada Mbok Jum, Pak Dadang, dan juga Pak Jajang. Ia menerima berbagai nasihat dari mereka, terutama Mbok Jum yang notabene-nya sudah merawat Dini sejak bayi.

"Non Dini hati-hati di sana. Jangan lupain ibadahnya, juga jangan lupain Mbok Jum, ya. Non harus belajar yang rajin biar mbok juga ikut bangga sama, Non." ujar Mbok Jum disela-sela pelukannya.

"Iya, Mbok. Mbok sehat-sehat ya di sini. Oh iya, Dini juga nitip Dinda sama Mbok Jum, ya. Nanti kalo mama sama papa udah kerja lagi kasihan dia sendirian," ucap Dini seraya melirik Dinda sekilas.

"Iya, Non. Tenang aja."

Setelah pamit dengan semuanya, mereka pun langsung berangkat menuju Bandara.

Photograph (On Going)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang