[Part 7] Menikah?[revisi]

2.2K 204 16
                                    

"Menikahlah denganku".

Astaga—itu membuatku hampir serangan jantung. Baru saja , pria itu mengucap kata-kata. . oh Tuhan. . Aku tidak percaya ini.

Dia baru saja melamarku?

Tidak, maksudku. Disituasi seperti ini? Disaat aku sedang terlibat dengannya, disaat aku sedang menangis karena sekarang aku muncul ditelevisi sebagai rekan dari seorang pembunuh, dan sekarang,

dia melamarku?

Ya Tuhan, Pernikahan? Bagus! Apa dia bercanda?aku tidak bisa menahan tawa kecil dan gugup dari mulutku. Dia menoleh, dan menatapku dengan kesedihan dimatanya. Aku menahan bibirku dengan jari-jariku agar aku berhenti tertawa. suara tawaku begitu ironis. Terdengar seperti tertawa, gugup, terisak, geli. entah bagaimana semuanya bisa menjadi satu dari dalam tubuhku. Aku. . aku. . tidak tahu. kuusap air mataku dan menatapnya sebelum mataku berubah jadi panas, dan menangis.

"Ethan. . " bisikku saat dia menghampiriku dan mengusap wajahku penuh kasih.

"Ya?".

"Kau sungguh konyol" candaku sambil mengacak-acak rambutnya. Berharap dia meresponku dengan gurauan juga. Tapi dia hanya tersenyum muram dan menatapku dengan menggenggam tanganku ditangannya.

"Apa menurutmu lamaranku konyol, Bianca?".

Aku meneguk ludahku. Sialan.

"Tidak, hanya saja. . ".

Dia memelukku diatas perutnya, dan aku memeluknya, seperti mengadu pada ibu.

"Kenapa kau melamarku Ethan? Dari semua waktu yang bisa kita miliki berdua, kenapa disituasi sulit seperti ini kau melamarku?" tanyaku padanya. dan dia menghela napas.

"aku hanya tidak ingin kehilanganmu Bianca".

Aku terkekeh. "Apa maksudmu? Aku tidak akan pergi darimu Ethan, jika kau berpikir karena aku sekarang terlihat di layar televisi karena terlibat denganmu, kau salah. Aku selalu mencintaimu, dan mungkin kita bisa menyelesaikan masalah kita lebih dulu sebelum kita memutuskan bahwa kita ingin hidup bersama selamanya".

Dia menatapku, sedikit nyengir, tapi aku tahu itu tidak sampai ke mata coklatnya. "Jadi kau tidak suka hidup bersamaku , ya?".

Aku langsung membantah. "Bukan itu Ethan, aku . . hanya. . ".

Dia menundukkan kepalanya dan aku melihat garis-garis hitam disekeliling kepalanya. "Ya aku tahu" Dia berusaha untuk tersenyum.

"Ethan, jika kau ingin menikah denganku, aku akan bersedia untukmu, tapi tidak untuk besok pagi" ucapku mencoba meyakinkannya.

Dia terlihat pasrah dan duduk disampingku sambil menatapku dengan tatapan mengiba dan bingung, ekspresinya terlihat seperti di desak sesuatu dan aku bisa merasakan itu lewat matanya. "Ethan?".

Dia menatapku saat aku menggenggam tangannya. "Bianca. . ".

"Hm?".

"Aku memasukan identitasmu didalam daftar pelanggan salon".

APA? Apa yang baru saja dia. . ?

"Namamu tertera disana".

A--pa Astaga—!

Aku. . tidak bisa merasakan kakiku.

Dadaku terasa sesak lagi.

"Maafkan aku, Bianca. Itulah yang terjadi, dan itulah alasannya kenapa aku harus menikahimu".

Alasan? HAH! ALASAN! Aku menatapnya, dan dia terkejut melihat ekspresiku. Wajahnya tiba-tiba muram.

"Apa dengan cara menikahimu setelah aku terlibat denganmu sebagai pembunuh, setelah aku bertemu denganmu, setelah kau berkata 'Bianca, aku memasukan kartu identitasmu ke dalam daftar pelanggan salon', bisa menyelesaikan masalah ini?".

Dia menatapku, dan aku memutar mata kesal saat beranjak dari kursiku dan membuang wajahku jauh-jauh darinya. brengsek. Tamat sudah. Aku akan tertangkap, dan kami akan tertangkap. Aku mengusap wajahku dan menghapus air mataku dengan jari-jariku. Seharusnya aku tahu kalau sewaktu-waktu aku akan terlibat seperti ini. terlibat dengan seorang pembunuh. Seorang pembunuh.

"kau harus menyerahkan diri" bisikku.

"tidak bisa".

Aku berbalik, "Kenapa tidak bisa? Jika kau bukan pembunuh, seharusnya kau tidak perlu cemas. Kita bisa bebas".

Dia menatapku lagi. dan sialan, aku benci saat dia menatapku seperti itu. tatapan yang paling tidak ingin kulihat.

"Ini kasus tanpa bukti, Bianca. Dan banyak pasang mata yang siap ditunjuk sebagai saksi, dan aku yakin semua tertuju padaku".

"Kalau begitu tanyakan pada para saksi apa mereka melihatmu membunuh atau tidak. Apa kau tidak bisa menyewa satu pengacara saja untuk membelamu? Aku tahu kau memiliki banyak uang Ethan".

Dia menundukan wajahnya saat aku berbicara, dan aku mendengar suara napas yang keluar dari mulutnya.

"Baiklah, akan aku coba. Tapi setidaknya besok aku harus sudah menikah denganmu".

Aku menggeram, sialan. Menikah. Menikah. Menikah. Apa sih yang ada dipikiran pria itu?

Aku menatapnya dan mata coklatnya yang teduh membawa efek mengerikan ke tubuhku. "Hentikan, Ethan. Kau membuatku takut" bisikku.

"Bianca".

"hm. . ?".

"menikahlah denganku" katanya dengan nada memohon.

Aku menundukkan kepalaku frustasi. "Apa itu karena kau takut?".

"Ya".

Aku mendengus napas kesal. "Tentu saja tidak Ethan, berapa kali harus kubilang ? aku tidak akan meninggalkanmu. Kenapa kau harus takut?".

Dia menggelengkan kepala. "Tidak, Bianca. Bukan itu yang kutakutkan, tapi kau".

Aku terkejut. "Aku?".

"Ya" suaranya tiba-tiba melemah.oh sialan.

"lalu apa?".

Dia menatapku, "aku tidak bisa membiarkanmu terlihat oleh mereka(polisi), aku tidak mau kau terlibat dimana aku akan ditetapkan sebagai pembunuh. Aku hanya ingin kau bahagia" gumamnya.

Aku berjalan mendekat kearahnya. "apa maksudmu Ethan?".

Dia meraih tanganku, dan menggenggam tanganku . Tangannya begitu hangat. "menikahlah denganku. ."

"Ethan.. jika aku menikah denganmu maka ayahku juga akan terlibat. Dan akan ada banyak orang lagi yang terlibat" ujar Bianca mencoba menjelaskan.

Ethan sepertinya tahu ini akan menjadi masalah yang berkepanjangan. Namun tekatnya bulat. Karena ia yakin hanya ini satu-satunya cara agar Bianca aman dari ancaman bahaya.

"Aku tidak akan menikahimu. Tidak, Bukan sebagai istri dari Ethan Sheldon"

Apa yang-- .

Dia menundukan kepalanya.

.

.

aku mendengar desahan nafasnya. .

.

.

"tapi sebagai istri dari Erick Stone".

#To Be Continue~ singkat,gajelas,  tapi teka-teki sheldon alias stone berawal dari sini.

Run Away With MR.'SHELDON'Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang