Qilla PoV.
Sudah seminggu lebih tiga hari ini Faqih tak beragumen sama aku, tak mengeluarkan suara sedikitpun ke aku.
Aku merasa sangat bersalah sama Faqih, tapi waktu itu ketika aku minta maaf Faqih hanya diam tak menyahut ataupun berkomentar.
Walaupun aku benci sama Faqih. Kosong. Itu yang kurasakan dihatiku ketika Faqih mulai tak ada suaranya kepadaku.
"Qilla, antarkan ini untuk mamahnya Faqih"
Ibu menyodorkan rantang makanan kearahku yang sedang duduk di sofa ruang tv.
Aku menengok kearah ibu dan mengambil rantangnya.
Mumpung ibu nyuruh aku, ada kesempatan kali ya untuk aku minta maaf.
Ketika kurasa aku punya kesempatan, aku langsung tersenyum ke ibu dan langsung kucium kedua pipinya.
"Ow.. Ow.. Ada apa nih? Bahagia banget anak ibu"
"Hehe, doakan aku ya bu"
Ibu hanya tersenyum saja melihat tingkah anehku.
Aku keluar rumah dan berjalan menuju rumah Faqih dengan doa yang kupanjatkan didalam hati.
Ting nong.
Aku memencet bel pintu rumah Faqih.
Aku memencetnya lagi dan lagi.
Ceklek!
"Assalamualaikum tante,"
"Walaikumsalam"
Mamah Faqih langsung menuntunku masuk kedalam.
"Duh Qilla, mamah kangen banget sama kamu. Gak main-main ke rumah. Mau cari Faqih ya?"
Aku tersenyum lalu mengangguk, "Iya, ini ada titipan dari ibu buat tante,"
"Faqih ada di kamarnya, susul gih. Oh ya ini makasih ya mamah terima nih"
Aku mengangguk.
"Gak apa-apa nih tan aku ke kamarnya, takut ganggu. Qilla pulang aja deh"
"Eit.. Eit.. Eit.. Engga apa-apa Qilla kan bentar lagi jadi mantu mamah"
Aku hanya tersenyum miris saja mendengar perkataan mantu dari mulutnya.
"Yaudah tan, aku izin ke kamarnya ya"
"Boleh-boleh, sekalian bujuk buat makan. Ngomong-ngomong kalian ada masalah?"
"Sip tan, iya gitulah tan. Yaudah, aku kesana dulu ya tan misi"
Aku mulai menapaki kakiku di tangga. Ketika sampai depan pintu kamar Faqih aku mencoba dengan pelan mengetuknya.
Tok-tok-tok.
Tak ada sahutan apapun dari dalam.
Tok-tok-tok.
Ceklek! Terbukalah pintu yang menampilkan sosok Faqih.
Ketika mata kami bersatu Faqih langsung memutuskan kontak matanya dan ingin menutup pintu kamarnya kembali.
Dengan sigap aku langsung menahannya dengan tanganku.
"Lepas" perintah Faqih dingin.
Aku menggeleng, "Gak bakal gue lepasin sebelum elo maafin gue!"
"Lepas!"
"Ada yang mesti gue omongin sama elo Faqih!"
"Lepasin gak!"
Aku tetap menggeleng. Sial, mataku mulai berkaca-kaca.
KAMU SEDANG MEMBACA
Enemy To Love [END]
Teen Fiction"Alasan gue cuma satu, yaitu berubah!" Berubah untuk terlihat kuat dihadapan kalian semua, terutama dia. -Qilla. ♥ END ~
![Enemy To Love [END]](https://img.wattpad.com/cover/80177879-64-k618242.jpg)