[[ TEGA! BUT, I'M HAPPY ]]

430 29 2
                                        

Author PoV.

Grasak-grusuk.

Seorang wanita paruh baya terlihat tidak bisa diam di tempat tidurnya.

Grasak-grusuk-grasak-grusuk-grasak-grusuk.

Terlihat lelaki paruh baya disampingnya sangat tak nyaman juga akan sikap istrinya itu yang tidak bisa diam.

"Ibu gak bisa diem banget udah malem ini. Jam berapa sih?"

Suami dari seorang wanita paruh baya melihat jam diatas nakasnya itu.

"Huaa.. Jam 01.16 pagi, solat tahajud dulu deh."

Setelah menyelesaikan solat dirinya pun tidur lagi dengan hati yang damai.

Istri yang disebelah mengerjapkan matanya lalu menyibakan selimutnya dengan pelan-pelan agar suaminya terjaga lalu keluar dari kamarnya.

"Haduh, pengen es buahnya mpok Weni deh. Sabar ya dedek."

Wanita paruh baya itu mengelus perutnya yang masih rata.

Qilla PoV.

Goncangan yang sangat keras yang kurasakan ditubuhku.

"Qilla, hey bangun Qilla"

Aku mengerjapkan matanya yang masih sangat ngantuk.

"Bentar kak, 5 menit lagi."

Grokk.. Aku pun merajut mimpi kembali.

"Qilla, bangun dong! Ih.."

Bukan! Ini bukan suara kak Rezky yang sering ngebangunin aku.

"Qilla bangun bentar dong!"

Tidur malam ini pun terusik karena ulah orang yang tak kuketahui.

"Ck. Berisik amat sih!"

Aku mengangakan mulut melihat ibu di depanku yang ingin menitikkan air mata.

"Qi-Qilla, kamu marahin ibu,"

Aku menggeleng bingung.

"Huaaa... Huaaa.. Ayah, Qilla jahat sama ibu!"

Aku menutup telinga dan berusaha melihat kearah jam dinding yang tertutupi oleh tubuh ibu.

Jam? Jam 01.36?! Apa?!

Aku yang melihat ibu menangis pun langsung memeluk dan meminta maaf.

"Engga bu, aku gak marahin ibu kok. Cuma aku rada kesel aja, ngapain ibu malem-malem jam satuan bangunin aku? Masih malam tau!"

"Hiks, tuh kan sama aja kamu nyalahin ibu! Huaa.. AYAH... Huaa.."

Aku mengacak rambut pusing melihat ibu menangis di hadapanku ini.

"Sutt.. Ibu, engga-engga aku gak nyalahin dan marahin ibu kok. Suwer."

Tangis ibu pun langsung reda digantikan oleh senyuman, "Sayang, beliin ibu es buahnya mpok Weni dong,"

Aku mengangakan mulut yang untuk kedua kalinya.

Mpok Weni? Yang benar saja bu. Ya Tuhan, es buahnya mpok Weni di siang hari saja sudah habis gimana ini di pagi buta.

"Ibu, Ibu kan tau larisnya es buahnya mpok Weni. Yang lain aja deh bu. Lagian ibu kenapa sih jam segini minta es buah, aneh deh!"

"Tuh kan kamu gak mau! Ayah, hu-"

"Iya-iya aku beliin kalau masih ada ya bu. Mana uangnya?"

Ibu nyengir kuda lalu mengasihkan uang transparan ke tanganku, "Pake uang kamu ya"

Enemy To Love [END]Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang