Denza panik bukan main karena senja. Dengan cepat dia menggendong senja menuju kursi yang tidak terlalu jauh. Dia melihat darah keluar dari hidung senja yang kini sudah di baringkan di pahanya. Sapu tangan berwarna biru dengan inisial 'D' ia elapkan ke hidung senja. Denza sangat panik dengan hal ini, pasalnya selama ini dia tidak pernah melihat senja seperti sekarang, bahkan bercerita punya penyakit pun tidak.
"Senja bangun, please" gumam denza tepat di telinganya, tapi semua itu tidak berhasil sudah lebih dari tiga puluh menit senja tidak bangun juga, jadi terpaksa untuk kedua kalinya denza harus menggendong senja, bahkan harus menuruni tangga, jika dia menaiki eskalator maka akan memperlambat jadi dia akan memilih tangga. Walau dia akan lelah.
Sesampainya di parkiran denza mengambil kunci mobil lalu menghidupkannya, di taruhnya senja di kursi depan, karena takut jika di taruh belakang dia akan jatuh, jadi denza menaruhnya di depan. Laju mobil begitu cepat melewati jalan yang penuh transportasi. Sesekali dia harus membunyikan klakson agar mobil dan motor menyingkir dari sana. Setiap saat dirinya akan menoleh ke arah senja yang bibirnya sudah pucat. Dia memukul stir mobil dengan kasar, karena lampu merah yang belum juga berubah menjadi hijau.
Gedung berwarna hijau tua terlihat jelas dari jendela mobil denza, dia pun menggendong senja, dan melewati banyak pasang matanya yang melihatnya, keringat mulai berjatuhan dari wajah berkulit cokelat sawo matang. Walau dengan keadaan khawatir lesung pipinya terlihat jelas.
Dia terus berlari sambil menggendong senja, namun langkahnya terhenti saat jam tangan senja tersangkut di sweater seorang wanita yang berumur dua puluh lebih.
"Maafkan saya, teman saya sedang sakit" ujar denza dengan menghirup napas dalam-dalam.
"Tidak ap-" ucapan wanita itu terpotong saat melihat jam tangan berwarna merah maroon dengan gambar yang di buat dari spidol. Gambar bergambar gigi kelinci tersebut mengingatkannya kepada seseorang dan orang itu SENJA.
"Se-se-senja" lirih wanita itu saat melihat wajah gadis yang sedang di gendong laki-laki.
"Mbak kenal sama dia" tanya denza pada orang yang kini terlihat lebih khawatir di banding denza.
"Dia pasien tunangan saya" jawab mbak Sari, orang itu mbak Sari.
Denza mengangguk lalu dengan cepat dia berjalan bersama wanita tadi, denza mengikuti kemana wanita itu mengantarnya, dan kini mereka tengah duduk mendengar keluhan dari dokter.
"Pasti dia tidak meminum obatnya" seru dokter itu sambil mencatat sesuatu, denza tidak mengerti tulisan dokter tersebut, ya bisa di bilang tulisan dia seperti cakar ayam yang berantakan.
"Obat, obat ya maksudnya" tanya denza sambil mengernyitkan alisnya.
"Apa dia tidak pernah menceritakan sesuatu yang bersangkutan kesehatannya" dokter itu malah bertanya balik.
Denza menggelengkan kepalanya. Dokter itu tersenyum mengerti, jadi selama ini seseorang yang sudah di anggapnya adik sendiri, tidak pernah memberi tahu tentang penyakitnya pada siapapun, pantas saja dia tidak pernah membawa ibunya, ya dokter itu tahu bahwa ayahnya senja telah tiada.
"Saya fahri, dokter yang merawat senja" ujar fahri lalu mengulurkan tangannya untuk bersalaman.
"Denza" balas denza sambil membalas uluran tangan fahri "ini Sari, tunangan saya" tunjuk fahri pada Sari yang dari tadi mengusap tangan senja dengan minyak kayu putih.
"Jadi sebenarnya senja sakit apa" tanya denza kini dengan wajah serius, fahri melihat senja sebentar lalu kembali.
"Sebaiknya kamu ikut saya keluar untuk menjelaskan mengapa senja seperti itu" denza mengangguk lalu dia dan fahri keluar dari ruangan yang maiah tersisakan Sari.
"Mbak.." sebuah panggilan membuat Sari memgankat kepalanya, dan menatap mata berwarna coklat yang kini terbaring lemas.
"Senja, kamu udah bangun"
"A-aku ke-kenapa bisa di sini, siapa yang bawa" senja menatap Sari dalam dalam. Yang dia ingat saat itu dia sedang bersama denza, lalu dia pingsan..
"Denza" ucapan itu keluar dari keduanya, yang satu menyebutnya seperti sebuah pernyataan, dan yang satu menyebutnya seperti pertanyaan. Beda makna namun sama arti.
"Kalau bener denza dimana dia mbak"
Pintu kamar terbuka, menampakkan dua pria dengan ekspresi berbeda pria dengan jas putih yang tak lain fahri terlihat senang mendapatkan senja sudah sadar. Sedangkan pria di sampingnya menatap datar dan terlihat sedang memikirkan sesuatu.
"Denza, lo-" ucapan senja terpotong saat denza berlari lalu memegang tangan senja dengan sedikit kasar.
"Kenapa, kenapa lo bohong sama semua orang, bahkan lo bohong sama bunda lo" bentak denza membuat senja diam seribu bahasa.
Kenapa jadi gini sih. Ujar senja namun ia hanya mengatakan itu dalam hati.
"Lo egois kalau cuma mementingkan diri lo sendiri, kalau sampai mia, dan bunda lo tau gimana" lagi lagi bentakkan denza membuatnya diam. Selama ini tidak pernah terpikir bahwa bahkan seperti ini jadinya. Ucapannya saat pertama ia tahu bahwa penyakitnya ini akan membuat orang lain menderita ternyata benar.
"Gue buat lo sama yang lain menderita ya" lirih senja, air matanya mulai jatuh dari pelupuk matanya. Sekarang denza yang diam mendengar ucapan senja yang begitu menderita.
"Gue udah duga kalau mereka tau pasti mereka bakal menderita, dan kasihan sama gue"
"Dan untuk sekarang gue sadar, ternyata gue egois"
"Kenapa" isakan terus keluar dari mulut senja, Sari sudah memeluk senja dari tadi mengusap kepalanya dengan lembut, fahri hany tersenyum getir, ini bukan salah siapapun, dan ini juga bukan salah takdir.
"Senja"
"Kenapa denza, jawab kenapa tuhan ngasih gue cobaan yang gue gak bisa, kenapa dia memberi gue penyakit yang bakal membuat semua menderita, kenapa, apa gue punya kesalahan sama seseorang hingga gue seperti ini, kalau iya gue minta maaf" tangisan senja lagi-lagi makin kencang, bahkan dia sudah menjambak rambutnya sendiri, dan memukulnya beberapa kali.
"Sen, maaf" gumam denza dengan nada yang tak kalah lirih dengan senja.
"Untuk apa, untuk apa lo minta maaf, lo gak salah, yang salah di sini gue, iya gue yang salah, dan akan seperti itu, gue itu selalu salah, jadi lo gak usah minta maaf"
"Senja, please jangan nangis" ujar Sari yang masih memeluk senja.
"Aku salah mbak, aku aku bakal selalu salah" lagi-lagi senja menangis.
"Senja, kakak rasa kamu harus istirahat dan pulang, Sari kamu ikut senja ya" fahri terpaksa harus menyuruh mereka pulang karena jika tidak semua orang di sini akan penasaran dan menguping pembicaraan mereka.
"Mbak gak usah ikut, aku bisa pulang sendiri" senja memalingkan wajahnya ke arah fahri sambil tersenyum, dengan tatapan bahwa dia bisa sendiri.
"Enggak, lo pulang sama gue, pokoknya lo gak boleh pergi sendiri" teriak denza lalu menggendong senja kembali, senja kaget karena ini baru saja ia ingin menolak, denza menatapnya dengan tatapan mebunuh, dan jika sudah seperti itu dia tidak bisa menolak sama sekali.
"Gue janji senja, gak akan ngasih tau soal ini sama semua orang, tapi gue gak janji akan itu, karena gue takut lo kenapa-napa" bisik denza yang masih menggendong senja di koridor rumah sakit.
-
Hyeee, hmmm part ini, gak ada naufaznya, gimana seru gak. Kata kalian pilih senja sama denza atau senja sama naufaz.
Aku sih gak dua-duanya wkwk. Gimana sedih gak, yah kalau gak sedih sayang banget.
Tapi gak masalah. Oh iya aku tunggu vote sama commentnya.
Inget di tunggu dahh🌷💫✌
KAMU SEDANG MEMBACA
Senja Setelah Gerimis
Teen Fiction"Aku adalah diriku. Dan kamu adalah dirimu". Bagimana kehidupan Senja Alavia ketika dia merasa dirinya tidak bisa memiliki kebahagiaan, dan apa jadinya saat dia bertemu mantan kakak kelas di SMA nya, dan orang itu Naufaz Rivana. Apakah naufaz bisa...
