Mata sembab menghiasi wajah senja. Lingkaran hitam begitu mendominasi dengan kulit putih yang kini lebih mencokelat. Semua orang selalu melihatnya dengan tatapan aneh, ada juga yang bertanya pada dirinya, tapi dia hanya menanggapi kurang tidur. Sama seperti sekarang.
"Udah di bilangin gue kurang tidur mia" jawab senja untuk kesekian kalinya, mia hanya menatap senja kesal.
"Lo bohong, kalau emang lo kurang tidur dan gak nangis kenapa mata lo bisa jadi sipit" mia mengangkat satu alisnya, dan kini senja sudah kehabisan kata-kata. Dengan berat hati ia menganggukkan kepalanya.
"Gue kangen bunda gue mia, jadi gue nangis" sebuah kebohongan bagus untuk senja yang keluar dari mulutnya, mia akhirnya percaya saja. Sedangkan yang berbohong tersenyum lirih melihat temanya itu.
Senja berjalan menuju ruang eskulnya untuk membereskan sesuatu karena nanti setelah pulang sekolah dia tidak akan mengikuti eskul lukis terlebih dahulu.
Namun tuhan malah mengirim senja kesebuah ruangan yang terlihat klasik, dinding berwarna cokelat dan putih membuat pemandangan indah. Perlahan tapi pasti senja melangkahkan kakinya kesebuah alat musik berwarna putih. Rasa takut kembali mengisi perasaan gadis itu. Langkahnya hanya tinggal satu saja untuk sampai tapi dia mundur hingga menabrak kursi yang ada di belakangnya, membuat yang jatuh meringis kesakitan.
"Bodoh" gumam senja pada dirinya sendiri.
Dia bangkit lalu berjalan kembali ke arah alat musik itu, gadis itu duduk di sebuah kursi berwarna putih juga. Tanganya terulur untuk menekan tombol-tombol berwarna putih dan hitam, dengan tangan yang bergetar, jari nya menekan tombol itu dengan pelan. Bukan tanganya saja yang bergetar saat ini tapi seluruh tubuhnya juga ikut bergetar. Lantunan dari alat musik itu mulai terdengar, walau tubuhnya menolak tapi hatinya tidak bisa, ia tidak bisa menghentikan untuk bermain alat musik bernama PIANO.
Tubuhnya kini lebih rileks, rasa nyaman menyelimuti gadis itu. Sweater merah maroon yang ia gunakan pun tak bisa menghangatkan tubuhnya, tapi alunan dari piano ini bisa membuat tubuhnya hangat. Tanpa ia sadari sesuatu tengah melihatnya dari balik pintu kamar mandi, laki-laki itu keluar dari sana, berjalan ke arah senja yang tengah menikmati alunan yang sudah lama tak ia mainkan.
"Permainan yang bagus" suara bass itu menghentikan senja, gadis itu melihat ke arah kiri dan menemukan orang itu.
"Makasih untuk kak naufaz" senja bangkit dari duduknya, namun naufaz menarik pergelangan tanganya sehingga ia terduduk di kursi yang baru saja ia duduki beberapa detik lalu.
"Lanjutin" perintah naufaz, membuat senja menatap laki-laki itu tajam.
"Gak" jawab senja sambil memalingkan wajahnya.
"Lanjutin"
"Gak mau"
"Gue mohon lanjutin"
"Gak"
"Lanjutin gak"
"Gak akan"
Senja bangkit lalu berlari ke arah pintu, namun naufaz lebih cepat sehingga pintu itu lebih dulu di tutup oleh naufaz. Senja mundur dari arah pintu lalu menatap naufaz memohon tapi tidak sesuai perkiraan naufaz malah mendorong senja lalu berjalan ke arahnya. Laki-laki itu memegang kedua bahu senja, membuat gadis itu menatapnya. Perasaan aneh terjadi pada senja, hatinya terasa lega menatap mata milik naufaz. Begitupun dengan naufaz, keduanya terdiam, mereka seperti berbicara lewat mata yang masih memandang satu sama lain.
Lampu ruangan itu mati secara tiba-tiba membuat keduanya mengalihkan pandangan ke arah lampu yang menggantung di langit-langit ruangan itu. Keduanya kini saling pandang lagi lalu berjalan ke arah saklar lampu. Namun nihil lampu itu tidak juga menyala. Dan kini lebih buruknya pintu berwarna coklat itu tidak bisa di buka. Naufaz berdecak kesal, senja yang berada di sampingnya terlihat takut karena laki-laki itu. Padangan naufaz saat ini benar-benar menakutkan. Senja hanya diam lalu berjalan menuju gitar akustik yang ada di pojok ruangan. Jarinya memetik gitar itu dengan hati-hati, pasalnya dia kurang mahir bermain gitar. Yang dia bisa hanya bermain piano dan biola. Naufaz seketika merubah ekspresi mukanya menjadi tenang saat mendengar petikan senar dan suara senja.
KAMU SEDANG MEMBACA
Senja Setelah Gerimis
Подростковая литература"Aku adalah diriku. Dan kamu adalah dirimu". Bagimana kehidupan Senja Alavia ketika dia merasa dirinya tidak bisa memiliki kebahagiaan, dan apa jadinya saat dia bertemu mantan kakak kelas di SMA nya, dan orang itu Naufaz Rivana. Apakah naufaz bisa...
