Senja berjalan di koridor sekolah sendirian, entahlah Mia hilang begitu saja saat di perpustakaan, dan itu membuat senja sedikit malas. Ia berjalan menuju kantin karena perutnya sudah terasa kosong dan lapar. Jujur,kini di otak senja di penuhi oleh pria itu, pria yang entah bagaimana selalu bertemu dengannya dan ingat selalu dapat masalah juga. Bagaimana saat adik kelasnya yang menjaga uks bercerita tentang pria itu, dan cara pria itu membuat banyak perempuan ingin, apa lagi pria itu cukup di bilang tampan oleh banyak orang. Termasuk seoarang Senja.
Setelah kejadian tadi senja langsung menuju kelasnya dan melihat mia yang panik tapi semua masalahnya teratasi dengan cara yang sama, yaitu berbohong. Senja sengaja mengajak mia ke perpustakaan agar melupakan apa yang terjadi tadi, tapi nyatanya kini mia malah menghilang entah kemana padahal dia sangat ingin mengajak mia ke kantin untuk makan siomay Bandung yang berada di kantin. Senja sampai di kantin dengan cepat dia berjalan ke tempat siomay itu berada tapi tanpa sengaja seseorang menabraknya dan membuat air yang kental dan manis berwarna hijau jatuh di seragam yang ia pinjam di uks. Dia mendongak menatap siapa yang menabraknya dan matanya kini beradu dengan mata coklat milik 'mantan sahabatnya' itu, walau tidak ada mantan sahabat dalam kamus manusia, tapi dia bisa membuatnya di kamusnya sendiri. Cukup lama mereka saling menatap hingga senja membuka mulutnya duluan.
"Wow pengkhianat" opss senja keceplosan, walau sebenarnya dia memang ingin mengatakan itu tapi entah dia kesal atau marah dia mengucapkan kalimat itu. Vita menggeram tak suka lalu ia mendorong senja sehingga senja terjatuh dan tangannya mengenai pecahan kaca dari gelas jus alpukat yang vita bawa. Senja meringis kesakitan pada punggung tanganya yang terkena pecahan kaca tersebut. Tiba-tiba seseorang mengulurkan tangan untuk menolong senja dengan cepat dia membalas uluran tangan itu. Dan kini senja kaget melihat orang yang menyelamatkanya. Pria itu, pria yang sejak tadi menghantui pikiran senja.
"Jangan main kasar dong, bukannya lo yang nabrak dia tapi lo malah dorong dia" bentak naufaz pada perempuan di hadapannya yang ia tahu namanya Vita tertata jelas di name tag yang perempuan itu pakai, tidak seperti perempuan yang berada di genggamannya tidak menggunakan name tag.
"Eh kok jadi nyalahin gue, emangnya lo siapa, tunggu ah lo kakak kelas yang dulu ternyata" sewotnya pada naufaz dan di situ naufaz sudah mencapai Puncak ke marahanya.
"Lo bisa sopan dikit gak sih" bentakkan naufaz makin besar dan membuat vita sedikit kaget lalu dia mundur beberapa langkah hingga punggunya menabrak seseorang dan itu adalah Denza. Senja yang melihat denza dan membuatnya semakin menggenggam tangan pria di sampingnya, dia merasa terlindungi jika berada di samping pria berbadan tegap ini, rasanya juga nyaman. Rasa sakit kembali di dalam hatinya, naufaz yang menyadari dengan sigap membalas genggaman tersebut.
"Lo bisa gak sih gak usah ngebentak" teriak denza pada naufaz dan naufaz tetap memasang muka datarnya. "Kalau orang ngomong jawab" sahut denza lagi.
"Emangnya lo siapa" tanya naufaz dan itu membuat senja sedikit lagi merasakan sakit.
"Dia itu cewek gue jadi lo gak berhak bentak dia" balas denza.
"Ck, pantesan ceweknya gak sopan, ternyata cowonya juga sama gak punya kata sopan santun" ledek naufaz pada denza yang sudah mulai kesal, denza melirik senja yang dari tadi diam dengan tatapan tajam miliknya.
"Lo tau dia di dorong sama cewek lo dan tanganya berdarah" ujar naufaz dengan nada tidak suka.
Gue pantes dapet itu. Batin senja saat mendengar kalimat naufaz.
"Dan yang salah berarti cewek lo bukan dia lo ngerti" lanjut naufaz lagi.
Gak yang salah itu gue, dan akan selalu begitu meski gue benar. Sekali lagi senja membalas kata-kata naufaz dalam hati.
"Apa maksud lo" denza yang sudah marah meraih kerah kemeja berwarna putih milik naufaz dan melayangkan tinjuan pada wajah yang hampir sempurna itu.
Bughh
Bughh
Bughh
Tiga tinjuan mendarat halus di rahang kokoh naufaz, baru saja naufaz ingin membalas tangan perempuan di sampingnya menghalagi niatnya.
"Jangan balas dia, lo sama aja kayak mereka kalau lo balas" ujar senja pada naufaz yang membuatnya tertegun "ikut gue, lebih baik kita pergi" lanjutnya lalu menarik tangan pria itu untuk menjauh dari sana.
"Kenapa lo tarik gue, lo tau gue ngebela lo sampai di pukul dan lo malah biarin mereka lolos gitu aja" tanya naufaz dengan nada kesalnya. Senja menghela napasnya.
"Kan gue bilang kalau lo ngebales maka lo bakal sama kayak mereka" jawab senja sambil mengeluarkan tissue yang ia beli dari saku seragamnya. Dia mengelap luka dekat bibir naufaz yang sobek dan pelipis naufaz yang berdarah. Tangan naufaz menyentuh tangan senja dan membuat senja meringis karena naufaz memegang tangan yang terkena pecahan kaca tadi.
"Aw..sa-sakit" lirih senja namun naufaz dapat mendengarnya lalu dia merebut tissue yang ada di tangan senja sehingga dia dapat membersihkan luka di punggung tangan senja.
Setelah selesai naufaz mengulurkan tanganya"Naufaz" kata naufaz pada senja, namun senja menahan tawanya.
Mata senja melirik ke arah tangannya, lalu membuat naufaz sadar dari kebodohannya sendiri, dan kini naufaz sedang menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Hmm Senja" balas senja dan menghentikan kecanggungan antara mereka.
"Wahh tadi baik kayak anak kucing sekarang galak kayak anak singa" gumam senja saat melihat naufaz merubah ekspresi wajahnya menjadi datar.
"Masalah" sewot naufaz sambil melirik senja, sedangkan yang di lirik mendengus kesal.
"Udah ah gue mau balik ke kelas, mmm dan bye Kak naufaz" ledek senja dengan embel-embel 'Kak'. Naufaz membulatkan matanya saat itu juga lalu mengubah kembali wajahnya menjadi datar.
Kini dia berpikir bahwa satu langkah telah ia ambil dan jika kalau langkah lainnya berhasil dia dapat memenuhi semua yang ia mau. Sedangkan senja kini melangkah sambil bersenandung kecil melewati banyaknya orang, entah kenapa hari ini dia senang dan itu selalu bersangkutan denagn pria yang bernama naufaz tersebut, selama ini senja penasaran akan nama pria itu dan sekarang dia tahu siapa pria itu dan tentun namanya juga.
Niat mereka memang berbeda yang satu demi keuntungannya sendiri, dan yang satu merasa bahwa itu memang bisa saja terjadi, dan itu bukan hanya menguntungkan satu pihak,karena itu menguntungkan beberapa pihak. Tanpa mereka sadari walau sebenarnya bukan karena kepentingan mereka saja tapi karena perasaan kecil dari hati mereka yang belum mereka rasakan sejauh mungkin atau terlalu dalam.
Bahwa mereka membutuhkan satu sama lain...
Gimana? Seru gak? Wah senja udah tahu naufaz sama namanya, dan di bela, bikin baper gak hehe.
Jangan lupa vote dan comment ya, sama baca terus ceritanya hehe
Peace loh ✌✌✌✌
KAMU SEDANG MEMBACA
Senja Setelah Gerimis
Novela Juvenil"Aku adalah diriku. Dan kamu adalah dirimu". Bagimana kehidupan Senja Alavia ketika dia merasa dirinya tidak bisa memiliki kebahagiaan, dan apa jadinya saat dia bertemu mantan kakak kelas di SMA nya, dan orang itu Naufaz Rivana. Apakah naufaz bisa...
