6.Ribut lagi

34 8 0
                                        


Setelah kejadian kemarin senja selalu membeli permen lolipop, dan parahnya yang ia beli malah permen lolipop seharga seribu rupiah. Bisa di bayangin kalau permen itu yang sering di makan sama anak SD yang lagi gak punya duit. Mia yang notabenenya sahabat senja, merasa bingung dengan temannya ini, setiap mereka ke kantin hal yang pertama senja cari pasti permen lolipop. Bagi senja lolipop telah mengalahkan marshmallow, lolipop bagaikan candu untuknya, entahlah apa itu karena pria yang memberikan permen lolipop itu atau karena memang dia menyukainya. Dan ya senja berpikir bahwa hidupnya sama seperti lolipop, manis di awal namun akan hilang seiring waktu yang di habiskan sampai rasa manis itu pun lenyap di makan. Setelah senja putus dari denza dia gak pernah bertemu lagi terutama vita walau mereka sekalas tapi melirik pun tidak, toh itu bukan jadi masalah dan tidak penting. Kini senja sedang asik makan permen lolipop itu di pinggir lapangan, melihat mia yang suka banget sama basket, senja juga suka tapi saat ini dia lebih memilih memakan permen sambil melihat mia bermain.

"Mi mau minum gak" teriak senja membuat mia melihat ke arah senja.

"Gak, dan jangan panggil gue mi, nanti di kira mie ayam haha" teriak mia pada senja, sedangkan senja menggeleng kepalanya pelan, melihat tingkah temannya yang aneh.
"Ah udah abis" gumam senja saat melihat permen lolipopnya sudah enyah di makan olehnya. Dia membuang batang permen lolipop itu di tong sampah.

"Mia lempar bolanya" teriak senja pada mia yang tengah sibuk memasukkan bola ke ring basket. Mia melirik senja lalu melempar bola itu. Tapi sayangnya bola itu tidak di tangkap oleh senja melainkan mengenai seseorang yang ada di belakang senja.

"Aw..." ringis orang itu, dan senja yakin orang itu pasti pria.

Senja membalikkan tubuhnya 180° hingga dia bisa melihat wajah korban dari bola basket tersebut. Dan sekarang senja benar-benar berdoa agar dia bisa pergi dari tempat ini sekarang juga.

Kenapa dia lagi. Ucap senja dalam hati.

Pria itu mengangkat kepalanya, dan menatap senja tajam, saat ini dia benar sudah tidak kuat berada di sekolah ini, anehnya kenapa baru sekarang bukan dulu saja. Senja maju satu langkah agar bisa melihat pria yang sudah sering ia temui.

"Sakit gak" tanya senja sambil meneliti wajah pria tersebut. Pasti sakitlah Batin senja.

"Apa, lo gak usah liatin gue kayak gitu" ujar naufaz yang risih karena perempuan di hadapannya ini, dan ingat sudah berapa kali dirinya sial saat berada di dekat perempuan di hadapannya. "Dan pertanyaan lo tadi itu gak masuk akal" lanjutnya.

"Astagfirullah anak orang atau anak singa" ledek senja, entah bagaimana kalimat itu keluar dari mulut senja, dan sebuah senyuman muncul di wajah manis senja, mungkin itu akan menjadi salah satu hobi baru yang ia miliki, meledek orang yang ada di hadapannya.
"Jaga tuh mulut, gue denger lo ngomong apa" sewot naufaz pada senja. Sedangkan senja semakin melebarkan senyumnya menahan tawa yang mungkin akan menyembur keluar.

"Hahahahahahahaha" tawa senja sudah tidak bisa di tahan, dan dirinya sekarang tengah jongkok sambil menepuk nepuk rok nya.
Sedangkan yang di tertawakan menautkan alisnya dengan ekspresi bingung.

"Kenapa ketawa" tanya naufaz dengan ketusnya membuat senja menghentikan tawanya namun ia lanjutkan lagi.

"Lo haha lucu haha" tawa senja makin jadi saat ini dan membuat naufaz ingin melemparkannya dengan bola basket yang ada di dekat kakinya. Namun pandangannya terhenti saat melihat cairan merah keluar dari hidung senja, senja yang bingung mengernyitkan alisnya lalu tersentak saat cairan merah itu menetes di tangan senja. Dengan cepat senja menutup hidungnya dan berlari meninggalkan naufaz yang mematung, tapi itu tidak berlangsung lama setelah dia mengejar senja dari belakang.

"Tunggu!!!" teriak naufaz, karena berkali-kali ia berteriak perempuan itu tidak akan menengok kebelakang, dan yang lebih parah kini mereka berdua sedang menjadi tontonan murid yabg lain.

Ck. Mereka pikir lagi syuting drama India apa. Batin naufaz yang sudah kesal.

BRUKKK!!!

Suara itu membuat naufaz berhenti lalu menoleh kebelakang, dan di lihatnya tubuh perempuan yang sedari tadi ia kejar sedang tergeletak tak berdaya di lantai. Dengan sedikit berlari naufaz menyingkirkan orang-orang yang sudah mengerumuni senja.

"Permisi, aduh permisi, jangan pada di jalan , awas dong, jangan di situ" tegur naufaz yang sudah kesal lalu dia sampai di mana perempuan itu pingsan. Darah yang mengalir di hidungnya sudah banyak di kemeja sekolahnya yang berwarna putih, dan tangan kanannya. Naufaz menghembuskan napasnya secara perlahan lalu mengulurkan tanganya untuk menggendong perempuan aneh tersebut untuk ke dua kalinya.

Dan untuk kedua kalinya lagi naufaz masuk ke ruangan kesehatan atau banyak orang menyebutnya 'UKS' di sana terdapat seorang gadis yang naufaz yakinin adalah anggota 'PMR' di sini. Dengan hati-hati naufaz membaringkan tubuh senja di kasur, lalu menatap anggota PMR itu sekilas.

"Kalau udah selesai ngobatin, tolong ambilkan dia baju di koperasi" ujar naufaz lalu melangkah menuju pintu "dan satu lagi, tolong bilang ke guru piket kalau dia sakit" lanjutnya sambil menunjuk senja yang masih terbaring dengan memejamkan matanya, mambuat bulu matanya yang lentik semakin terlihat. Lalu dia keluar dari sana dengan wajah yang terlihat lelah belum lagi tanganya yang terdapat sedikit darah dari perempuan yang sudah dua kali ia tolong. Naufaz berjalan menuju wastafel yang berada di kamar mandi lalu memutar keran air untuk membasuh tangannya tersebut. Tidak lupa juga dia mengambil sapu tangan yang sempat ia gunakan saat mengendong perempuan itu untuk mengelap darah yang terdapat di wajah perempuan tadi. Setelah selesai dia langsung keluar dan kini dia sangat tidak suka menjadi omongan banyak orang, apa lagi untuk ukuran perempuan yang cerewet dan suka ngegosip seperti yang berada di sampingnya kini.

Naufaz sedari tadi menahan napas, menahan amarah, menahan malu, dan menahan rasa kesalnya, tapi mau bagaimana lagi, toh salah sendiri ngejar-ngejar perempuan yang selalu membuat hidupnya seperti terus-menerus mendapat masalah.

Kenapa jadi pada ngomongin sinetron tentang tadi sih Keluh naufaz dalam hati.

Langkahnya kini berada di dekat kantor guru, lalu berhenti saat pintu putih itu terbuka memperlihatkan wanita yang sering ia temui, siapa lagi kalau bukan bu elma. Dengan malah naufaz memberikan senyumannya kepada guru nya itu.

"Ibu mau bicara dengan kamu naufaz, bisa ikut ibu keruangan ibu" ujar bu elma lalu membuka pintu kembali dan mempersilahkan naufaz duduk di kursi kayu di depannya.

"Sebenarnya..." ujar bu elma.

Udah part 6 gimana nyambung gk, pasti banyak typo hehe.
Baca terus ya dan jangan lupa vote sama commentnya.

Makasih ya hehe 😂

Btw,di sini ada yang suka bts gk?

Senja Setelah GerimisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang