Seminggu berlalu........
Sudah seminggu naufaz tidak datang ke sekolah lamanya, bukan karena malas, atau karena cewek yang selalu membuat dia menjadi ketiban sial, tapi karena dia sedang sakit, sudah seminggu ini dia di rumah karena sakit demam yang tidak juga mereda, padahal dia sudah memanggil dokter dan meminum obat dari dokter itu, namun hingga kini panasnya masih ada, walau sudah membaik. Dia juga tidak kuliah, bahkan di ponselnya banyak sekali notifikasi yang masuk dari teman satu kulihannya.
Endra:eh curut, udah sembuh belum?
Alhamdulillah belum, hahaha:D
Naufaz memang orang yang humoris tapi hanya pada temannya ini, tidak dengan orang yang baru saja ia temui atau bertemu.
Endra:najiss, kalau di sekolah dingin di handphone alay🙅
Naufaz terkekeh dengan kalimat temannya itu, itu semua memang benar, dia memang pendiam dan dingin, tapi sudah berkali-kali di ucapkan bahwa dia sebenarnya humoris.
Yey, udah ah gue mau tidur lagi, dan ya besok gue masuk jam kuliah okeyy
Endra:aye aye captain:*
Najissssss!!!!!
Endra:masa?
Read.
Naufaz hanya membacanya saja. Lalu dia bangkit dari kursi menuju dapur, dari pagi dia belum makan dan sekarang dia harus makan, karena perutnya sudah pasti berbunyi berulang kali. Dia mencari bahan-bahan yang bisa dia makan, dan sialnya hanya ada indomie goreng saja di sana. Naufaz memang memiliki rumah sendiri dan yang jelas dia akan tinggal sendiri, orang tua naufaz berkerja di luar kota sehingga membuat keluarga yang dulunya harmonis berpisah mementingkan urusan masing-masing.
"Ya elah masa cuma mie doang, gak ada yang lain gitu huftt" keluhnya dengan helaan napas yang panjang.
Naufaz mulai mengambil panci yang telah di isi air, dan dia dengan gerakan cepat menyalakan kompor tersebut. Setelah selesai naufaz langsung duduk di meja makan, sendiri. HANYA SENDIRI.
Dan itu membuat naufaz merindukan keluarganya.
"Naufaz ayah cuma sebentar, entar juga ayah pulang, lagi pula kamu udah besar, udah bisa urus diri sendiri" sahut ayahnya pelan, namun untuk naufaz itu begitu penuh penekanan.
Naufaz melihat ibunya yang juga sudah rapih dengan pakaiannya.
"Ayah bener faz, kita juga nanti bakal ngunjungin kamu kok" ibunya tersenyum penuh makna, dan itu membuat nuafaz menerima bahwa ayah dan ibunya akan pindah jauh ke luar kota.
"Naufaz sayang ayah, dan ibu juga" naufaz tersenyum lalu memeluk kedua orang tuanya, walau dia tahu rasanya sakit di saat orang lain bersama orang tuanya, dia malah di tinggal di rumah yang besar ini bersama neneknya.
Rasanya sakit menurut naufaz, saat usianya menginjak umur tiga belas tahun, orang tuanya harus pindah ke lombok sedangkan dia di Jakarta sendiri tanpa siapa pun, karena neneknya sudah meninggal sejak dua tahun lalu.
Ck. Itu menyedihkan. Batinnya.
Dengan malas dia memasukkan mie itu ke mulutnya. Setelah selesai naufaz mengambil jaket berwarna hitamnya dan kunci mobil yang berada di atas meja kaca. Naufaz kini berniat pergi ke supermarket terdekat untuk membeli bahan makanan.
Sesampainya di sana tempat yang pertama dia kunjungi adalah tempat pasta dan yang berhubungan dengan pasta. Setelah lama berkeliling mata dia berbinar ketika melihat permen marshmallow. Dari kecil naufaz suka marshmallow, dan itu terjadi hingga sekarang. Belum sempat dia mengambil permen itu sudah di tangan seorang gadis dan gadis itu.....
"LO!!" teriak naufaz saat dia tahu siapa pemilik tangan yang telah mengambil permen marshmallow nya.
"Ngapain lo ada di sini" lanjutnya ketika melihat gadis itu menaikkan alisnya.
"Lah orang ya kesini mau belanja, ya kali mau dangdutan" gumam senja pelan namun naufaz masih bisa mendengarnya.
"Gue denger" sinis naufaz, tapi matanya tak lepas dari permen lembut itu. Sedangkan senja sedang menimbang-nimbang apa dia harus memberikan permen marshmallow yang sejak lama ia mau atau dia bersikap egois dengan tidak peduli orang di hadapannya.
Kasih gak ya, tapi dia yang katanya nolongin senja yang baik ini. Ujar senja dalam hati.
Senja sedari tadi memaju dan mundurkan permen marshmallow nya, dan itu membuat naufaz menahan amarah yang mungkin sudah lama berkoar di dalam dirinya ini.
Nyeblin banget nih cewek. Batin naufaz yang masih melihat senja.
Dengan berat hati senja menyondorkan bungkus permen marshmallow itu ke arah naufaz, sedangkan naufaz mengernyitkan alisnya.
"Maaf, dan makasih" senja langsung pergi dengan sedikit berlari setelah dia menaruh bungkus itu di tangan pria itu, jujur dia sangat kesal, marah, sebal, emosi, kecewa, ingin menangis tapi dia tidak bisa, toh itu cuma permen marshmallow, lagi pula dirinya harus berterimakasih pada pria itu karena telah menyelamatkannya, dan soal perasaan kesal dan yang lain itu terlalu alay menurut senja, sudut bibirnya terangkat karena dia sudah meminta maaf walau tak rela mengikhlaskan permen marshmallow, dan dia masih mempunyai salah yang belum bisa ia tebus ke pria itu. Entahlah gara-gara mia bilang bahwa pria itu yang menyelamatkannya malah membuat senja bersalah saja. Dan saat seminggu yang lalu senja selalu berharap bertemu pria itu untuk bilang makasih, nyatanya saat itu tidak ada, tapi kini dia bertemu dan sudah berterimakasih. Senja berjalan keluar dari supermarket tapi cekalan tangan seseorang membuat senja berbalik dan menemukan sosok yang beberapa menit lalu bertemu dengannya.
"Nih" seru pria itu dengan menyondorkan sesuatu. Mata senja berbinar melihat apa itu. Permen LOLIPOP.
Dengan cepat senja mengambil permen itu.
"Makasih loh" ujar senja yang kelewatan senang, sejujurnya sih biasa tapi permen lolipop tidak pernah senja berpikir untuk mencoba permen ini dan sekarang dia akan mencobanya.
"Itu ganti untuk permen marshmallow yang tadi lo Kasih ke gue, dan iya maksud lo makasih tadi apa" tanya naufaz di akhir kalimat membuat senja bingung ingin bilang apa.
"Eng anu itu apa ya ah iya eh gak deh" ucapan nya terbata bata, senja masih saja bingung apa dia bilang atau tidak.
"Apaan yang bener" ujar naufaz pada senja, tapi dengan cepat senja berbalik dan berlari. "Nyokap gue udah pulang jadi nanti aja byee" teriak senja yang sudah berada di parkiran sedangkan naufaz masih melihat senja yang terlihat tegang itu.
"Ahh kok gue bego ya, tadi kan gue nanya dan kenapa malah di biar pergi" naufaz menjambak rambutnya lalu menghela napas.
"Kenapa setiap ketemu cewek itu selalu aja ada masalah, kalau enggak sikap gue jadi aneh dan jadi terlihat bodoh di depan banyak orang, sebenarnya gue kenapa" ujar naufaz sedikit dramatis dan itu membuat pengunjung di supermarket meliriknya dan juga mengomentari dirinya.
'Mukanya cakep tapi lihat dari tadi ngomong sendiri, terus jambak rambutnya sendiri lagi'
'Mungkin di putusin sama ceweknya jadi gitu'
'Ganteng sih tapi aneh'
'Coba ada duplikatnya'
'Anak jaman sekarang beda sama dulu, liat di putusin aja jadi gila kayak gitu'
'Mah itu akaknya lucu ya'
'Loh naufaz bukan sih itu'
Dengan cepat naufaz keluar dari supermarket sebelum makin banyak komentar pedas dari banyak orang, terutama yang mengenalnya. Setelah sudah jauh dia hanya menghela napas dan fokus ke pada jalan walau jujur dia masih bingung....
Hihi....
Gimana di part ini seru gak, eh gak ada yang bikin baper ya, hehe aku mungkin gak suka baper jadi gak tau cara baperin orang. Tapi makasih yang udah baca dan jangan lupa vote sama commentnya
Di tunggu?
KAMU SEDANG MEMBACA
Senja Setelah Gerimis
Roman pour Adolescents"Aku adalah diriku. Dan kamu adalah dirimu". Bagimana kehidupan Senja Alavia ketika dia merasa dirinya tidak bisa memiliki kebahagiaan, dan apa jadinya saat dia bertemu mantan kakak kelas di SMA nya, dan orang itu Naufaz Rivana. Apakah naufaz bisa...
