4.A I Wrong

41 9 1
                                        

Senja seharian ini sangat lelah dan dia malah tidak membawa obat, sudah cukup kemarin-kemarin dia tidak minum obat, dan hasilnya memburuk, maka dari itu dia harus buru-buru pulang untuk meminum obat, sekarang dia baru tahu bahwa hidupnya hanya akan selalu bergantung pada obat. Obat.
Rasanya itu buruk sekali, setiap jam harus meminum obat, tapi apa dia bisa mengubah takdir, ya dia bisa merubahnya hanya dengan niat dan usaha.

Senja masuk ke dalam kamarnya, yang sudah jelas berwarna merah maroon, lalu dia tersenyum melihat kamarnya yang terdapat banyak poster artis artis korea yang memiliki mata sipit, dan tidak lupa foto berukuran besar dengan gambar keluarga yang bahagia.

"Kangen ayah, bunda dan alav, hehe, sekarang gak ada lagi yang manggil senja alavia dengan panggilan alav, senja kangen ayah" lirih senja yang sudah berada di depan foto berukuran besar itu, bahkan poster korea di dalamnya pun kalah besar.

"Senja terluka yah, senja bahkan sangat terluka, ayah tau kan kalau senja sakit, tapi kenapa ayah gak nyuruh yang di atas buat manggil senja supaya nyusul ayah"

Pertahanan senja sudah hancur dia menangis, kakinya roboh hingga dia terduduk lemas di lantai kayu jati tersebut.
Kenangan masa kecilnya tergelincir keluar sedikit demi sedikit.

"Ayah jika senja besal, senja mau ayah janji sama senja kalau ayah bakal ada buat senja, supaya senja bisa banggain ayah dengan yang ayah liat" senja kecil bahagia ketika melihat ayahnya yang amat ia sayang mengangguk.

"Ayah janji, pinky promisenya mana" seru ayah nya sambil memainkan kelingking tangannya, senja yang tidak mengerti hanya mengikutinya lalu tertawa.

Nyatanya kini ayahnya tidak ada, bahkan sebelum ia membanggakannya. Senja perlahan bangkit menuju laci dekat kasurnya, mengambil obat yang sama yang selalu ia minum.
Setelah selesai senja keluar dari kamarnya dengan pakaian yang rapih, hari ini dia akan pergi bersama mia ke toko buku, awalnya sih mereka hanya ingin pergi ke starbucks tapi karena mia ingin membeli buku jadi ia ikut saja, lagi pula dia juga ingin membeli beberapa buku novel dan pelajaran. Senja menuruni tangga, dan ya rumahnya bahkan sepi sekali, pasti pengurus rumahnya sedang di belakang, tanpa lama senja keluar rumah dengan membawa tas ranselnya.

Senja pergi menggunakan ojek, lagi pula untuk apa menggunakan taksi membuang uangnya saja, lebih murah ojek, dan yang jelas ojek online.

"Berapa pak" tanya senja dengan sopan, lagain jika dia bertanya dengan kasar kan kasihan toh yang mengemudi sudah tua mungkin sama dengan ayahnya, tapi lebih tua bapak ojeknya juga.

"Dua puluh ribu, nak" jawab bapak itu ramah, senja mengulurkan senyum, dia sungguh mengingat sosok ayah jika bersama orang yang umurnya hampir sama dengan ayahnya. Senja memberi uang sepuluh ribuan dua.

"Makasih pak" gumam senja sebelum pergi dan dia dapat mendengar bahwa bapak itu mengucapkan 'sama-sama'.

Lihat sekarang mia sudah menunggu senja lama, dan dirinya belum memesan apa pun karena senja. Tapi senyumnya mengembang melihat senja berjalan ke arahnya.

"Mia, aku datang" teriak senja pada mia tapi kalian tahu sebuah kejadian memalukan sungguh terjadi. Senja terpeleset di lantai. SENJA TERPELESET DI LANTAI.

Suara senja yang terpeleset menggema di di dalam starbucks, sedangkan yang jatuh hanya melongo tanpa dosa melihat semua orang yang tengah melirik dirinya.

Aduh malu banget dah gue. Batin senja merutuki dirinya sendiri.

Senja berusaha bangun, tapi sialnya dia jatuh kedua kalinya, dan mia yang melihat itu menepuk jidatnya.

"Sakit njirr" gumam senja yang mengusap kakinya yang tragis, akibat lecet. Tanpa sadar seseorang mau melewati senja namun senja menahan tangan pria itu tanpa melihat siapa.
"Help me please, bangunin dong" ucap senja sedikit merengek sedangkan pria itu langsung menarik senja untuk bangun tanpa melihat siapa perempuan yang ia tolong, begitu pun sebaliknya.

"Makasㅡ...." ucapan senja terpotong saat melihat si penguras tabungan oppa ada di hadapannya.

"Penguras tabungan oppa" teriak senja membuat kembali orang yang ada di sana melirik sedangkan senja hanya menampilkan deretan giginya.

"Lo lagi, ck loh tuh gak bisa bikin gue tenang ya, setiap gue ketemu sama lo gue sial" ujar pria itu yang tengah menahan emosi "mana gitar gue, udah di ganti" tanya pria itu.

"Sial!!" lirih senja namun pria itu mendengarnya.

"Inget, lo harus ganti gitar gue, ingetkan apa yang kemarin gue bilang" pria itu berlalu dari hadapan senja yang masih belum nyambung dan ketika dia mengerti dia menghentakkan kakinya ke lantai.

Awas bakal gue bales, gue kan Jadi malu. Ucap senja dalam hati.

Sedangkan pria itu menarik napas dalam-dalam lalu mengeluarkannya secara perlahan. Dia berpikir mengapa dia selalu bertemu perempuan itu dan hal yang terjadi dia sial dan itu membuatnya sedikit geram.

"Astagfirullah, senja lo gak apa kan, eh tunggu" tanya mia yang sudah berada di hadapan senja, dengan posisi berpikirnya.

"Gue gak apㅡ...." ucapan senja terpotong oleh teriakan mia "itu'kan yang nolongin lo senja, iya iya itu orang yang gue bilang waktu itu" senja shock mendengar ucapan mia, apa yang tadi mia bilang 'nolongin' 'yang gue bilang' semua itu berputar di kepala senja.

"Ma maksud lo apa" ujar senja dengan suara kecil. Rasa takut menghampirinya.

Jangan bilang orang itu yang nolongin gue pas pinsan. Ucapnya dalam hati.

"Iya itu yang nolongin lo waktu pingsan, lo kayaknya kenal dia ya, tapi kok gak kenalin ke gue" ucap mia merasa geli melihat sifat temannya ini,bisa-bisa dia ikut gila jika terus bersamanya.

"Gue gak kenal,udah ah gue mau duduk dulu, buruan" jawab senja lalu meninggalkan mia yang sedang menggaruk kepalanya.

"Bikin pusing" gumam mia.

Setelah kejadian di sturbucks dan selanjutnya ke toko buku, pikiran senja masih terpaku pada pria itu, dimana dia yang menjatuhkan gitar pria itu hingga rusak, kedua dia malah meminta tolong padanya, dan sekarang fakta baru bahwa pria itu yang menyelamatkannya, tidak bukan menyelamatkan itu mungkin terlalu alay, maksudnya telah menolongnya saat pingsan beberapa hari lalu.

Ada rasa bersalah dalam diri senja, tapi ada rasa kesel juga.

"Ya kali gue minta maaf, lee min hoo oppa, jebal" rengek senja di depan poster lee min hoo yang tidak terlalu besar, lalu dia bergeser ke arah poster sebelah.

"Joen jungkook oppa, bantuin" sekarang dia berahli ke poster jungkook anggota boyband korea bernama 'BTS'.

Semua kata kata ia keluarkan dari yang baik sampai yang kasar pun jadi, tapi bagaimana lagi, senja malah seperti orang gila berbicara seperti tadi.

"Gue gila beneran ini" teriak senja frustasi lalu menghempaskan dirinya kekasur dan menutup matanya dengan bantal tidurnya.

Part ini gimana? Comment ya? Makasih, vote juga salam dari shrn.

Senja Setelah GerimisTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang