"Kok lo ada di sini" tanya senja pada naufaz.
"Gue sama kayak endra" jawab naufaz. Senja tersenyum lalu kembali melanjutkan makannya. Endra tadi sudah pergi dan kini tinggal senja dan naufaz saja.
"Mau.." tawar senja sambil menyodorkan cupcake cokelat. Naufaz mengambilnya lalu memakanya, pandangannya lurus kedepan, memandang suasana tempat ini. Begitupun senja. Kedua diam tak ada yang bicara.
Senja menatap naufaz "Nyanyi faz".
Naufaz kini memandang senja sebentar lalu mulai bernyanyi.
“In my dreams you're with me
We'll be everything I want us to be
And from there–who knows
Maybe this will be the night that we kiss for the first time
Or is that just me and my imagination”
Naufaz berhenti bernyanyi. Dia berfikir sejenak. Mengapa dia jadi akrab dengan gadis perempuan di hadapanya. Bukannya mereka akan ribut setiap kali bertemu.
"Kenapa berhenti?" tanya senja pada naufaz yang malah melamunkan sesuatu "Heh".
"Hah apaan" senja tertawa karena muka naufaz yang begitu aneh, jarang-jarang dia akan akur seperti ini.
"Benerkan mirip Ufo haha" tawa senja tidak dapat di tahan kembali. Jika dia bersama naufaz pasti tawanya selalu saja pecah.
"Berisik" tegur naufaz pada senja. Baru saja dia berpikir positif. Tapi orang yang kini berada di hadapanya malah membuat ulah.
"Gue gak bermaksud ngajak ribut." ujar senja sambil menaik turunkan alisnya.
"Hmm."
"Gak asik lo, gue capek makan terus apa lagi sama Lo.." Senja berlari meninggalkan naufaz yang membelalakan matanya.
"Bocah itu benar-benar nyebelin, coba kalau gak karena bu bla pasti gue gak akan kenal sama itu orang." Gumamnya sambil mencomot cupcake.
Senja berjalan sambil menatap langit-langit di ruangan tersebut. Matanya tertuju pada vita yang kini tengah berpelukan dengan seorang pria. Bukan denza. Tapi orang yang sama sekali senja tidak kenal.
"Heii." Sapa seorang pria dengan blazer hitamnya.
Senja mengernyitkan alisnya bingung. "Ehh iya kenapa?"
"Boleh kenalan?" Pria itu mengulurkan tanganya pada senja. Dengan ragu senja menerima uluran tangan itu. Namun senja lebih terkejut saat pria itu mencium punggung tangannya. Dengan cepat senja menarik tanganya.
"Maaf." Buru-buru senja pergi dari sana. Tapi cekalan dari pria itu membuat senja sulit bergerak.
Pria itu menarik senja dengan kasar. Senja hanya bisa meringis saja, ingin dia meminta tolong tapi suara musik lebih besar dari suaranya. Tanganya saat ini sangat sakit.
Hanya satu yang kini bisa dia lakukan yaitu berdoa.
Tempatnya terlihat sepi. Pria itu menghempaskan senja ketembok. Perempuan itu mengeluh sakit tapi tidak di hiraukan oleh pria itu. Tatapan membunuh di arahkan pada senja membuat dia ketakutan.
"Aku mohon lepasin aku." pria itu tertawa mendengar penuturan gadis di hadapanya.
"Enak banget main di lepasin."
Senja berjalan perlahan ke samping. Dia pun berlari. Tapi sialnya dia malah terjatuh.
Pria itu berjalan kearahnya. Menarik rambutnya lalu menghempaskan kepala. Rasa pusing menjalar di saraf kepalanya. Obat, obat saat ini dia butuh obat.
Lagi-lagi rambutnya di tarik oleh pria itu dan di hempaskan lagi. Air mata senja sudah mengalir di pelupuknya. Pandanganya buram tapi dia bisa lihat jelas sepasang sepatu di hadapanya. Dia pun mendongakkan kepalanya ke atas. Menemukan Naufaz di sana.
Dengan tenaga yang masih ada senja bangkit lalu memeluk naufaz. Takut yang kini dia rasakan.
"Gue minta lo duduk di sana." perintah naufaz membuat senja mengangguk.
"Cihh, jangan sok jadi pahlawan." teriak pria itu pada naufaz. Satu pukulan berhasil mendarat di wajah naufaz. Senja yang kaget langsung meneriaki nama naufaz.
Naufaz bangkit lagi. Rasa sakit di wajahnya tidak ia hiraukan. Rahangnya mulai mengeras.
Bughhh.
Naufaz memukul balik. Terus saja terjadi pukul-pukulan itu. Membuat senja benar-benar menangis. Pria yang tadi memojokkan senja pergi berlari meninggalkan naufaz yang terluka parah.
"Naufaz, kamu gak apa?" Tanya senja yang membuat naufaz memutar bola matanya malas.
"Lo bisa liat sendirikan.” Kata naufaz penuh penekanan. Senja terkekeh lalu mulai menopang naufaz. Ya walau tubuh senja kecil sih.
Keduanya saling membantu, terlihat senja sangat khawatir pada naufaz. Luka di wajah naufaz begitu mengerikan. Duduk di rumput hijau itu yang kini mereka lakukan. Senja tengah membersihkan luka naufaz dengan sapu tangannya. Sedangkan naufaz selalu saja menatap senja.
Apa dia menyukai gadis menyebalkan di hadapannya. Tidak, itu tidak mungkin.
“Gue udah baikan sekarang.” Kata naufaz sambil menyingkirkan tangan senja dari wajahnya.
“Eh tapi itu-”
“Lebih baik lu pulang, biar gue yang anter.”
Senja mengangguk dan mengikuti naufaz dari belakang. Tapi belum beberapa langkah senja berjalan, gadis itu sudah pingsan terlebih dahulu.
Dengan panik naufaz menggendong senja dan memanggil sebuah taksi yang melintas.
Entah mengapa saat ini hatinya di penuhi dengan rasa khawatir pada senja. Apa yang terjadi padanya tidak penting yang ia pikirkan hanya satu Senja segera di bawa kerumah sakit.
Peluh kini membanjiri wajah naufaz yang memerah, bukan karena amarah namun karena hatinya yang berkecamuk tak tenang. Tangannya mengenggam erat tangan senja yang dingin, menautkan jari-jari miliknya ke jari milik senja.
Segala doa telah dia ucapakan agar senja segera bangun. Mata cowok itu memandang sayu wajah pucat senja, bibir mungil yang tadi terlihat mekar seperti kelopak Mawar kini mengerut pucat.
***
Akhirnya belum selesai:c
Gak pinter buat adengan berantem yang memanas hehe..
KAMU SEDANG MEMBACA
Senja Setelah Gerimis
Teen Fiction"Aku adalah diriku. Dan kamu adalah dirimu". Bagimana kehidupan Senja Alavia ketika dia merasa dirinya tidak bisa memiliki kebahagiaan, dan apa jadinya saat dia bertemu mantan kakak kelas di SMA nya, dan orang itu Naufaz Rivana. Apakah naufaz bisa...
