Part 6

45 5 2
                                    

jangan lupa vote dan komen nyaaa....

itu sangat amat berarti bagi penulis pemula seperti saya:)

****

Alvino Pradipta A (Pov')

Aku langsung menghidupkan motorku dengan sedikit terburu, baru saja aku mau menginjak gas dengan tiba-tiba ada seseorang yang langsung meluncurkan bokongnya pada jok belakang motorku. Aku langsung memutarkan sedikit badanku dan yang kudapatkan adalah gadis berkuncir satu dengan kacamata yang bertender di hidungnya memberikan cengiran kuda dengan tatapan merayu agar dikabulkan permintaannya. Aku langsung mengeram kesal padanya sedang dia langsung memelukku dari belakang, "ayo dong, Dip. Aku kan juga temennya. Aku nggak bakal rewel, bawel, cerewet sama kamu," dia mengoceh lagi. Natha.

"Turun!" ujarku sambil berusaha melepaskan tangannya. Namun dia masih erat memeluk pinggangku. Astaga! "Aku mau ambilin kamu jaket, Nath," geramku.

"Oke Dip-dip."

Aku langsung melemparkan jaket kulit padanya dan tanpa interupsi panjang lebar, dia langsung mengenakan jaket kulit yang kuberikan. Tak lupa juga kupakaikan helm di kepalanya. Kami langsung meluncur membelah kepadatan lalu lintas dengan kecepatan tinggi dan sudah kupastikan Natha yang berada di belakangku tengah menunduk menenggelamkan wajahnya di punggungku dan memelukku erat.

Saat telah sampai, Natha tetap tak bergeming. Astaga, aku membuatnya ketakutan selama di perjalanan terbukti dari genggaman tangannya yang begitu kuat dan putih memucat. Aku berusaha menyadarkannya dengan berusaha melepaskan pegangannya pada pinggangku. Syukurnya itu berhasil, setelah turun, tangannya tetap saling bertautan, wajahnya putih pucat. Aku meraih tangannya yang dingin sedingin es dan meremasnya pelan menyalurkan kehangatan, "maaf buat kamu takut, soalnya buru-buru," ujarku padanya. Dia mengangguk patuh dan langsung kutarik dia menuju tempat kejadian di mana Keyra disekap dan hamper kehilangan nyawanya.

Tubuh Keyra melewati kami dengan menggunakan tandu. Keyra langsung masuk ke dalam mobil ambulance, bersamaan dengan bertemu pandang Inspektur denganku. Aku langsung berlari menghampirinya dengan menyeret tangan Natha di tanganku. "Pelakunya?"

"Lewat" tanpa semangat Inspektur menjawab.

"Kok bisa? Pelakunya pasti masih disekitar sini, coba cari lagi," geramku dengan kesal.

Natha meremas tanganku kuat dan menatapku takut, "kalo kayak gitu, Keyra nggak aman, bisa jadi diantara petugas kesehatan itu psikopatnya." Kata Natha dan setelah itu ia berlari menyusuri koridor dengan aku di belakangnya.

Saat dia berhenti tepat di belakang mobil ambulance yang belum berjalan, seseorang menubruk tubuhku dan yang aku dapatkan adalah Inspektur. Natha mencoba membuka pintu ambulance namun kucegah, hal yang terburuk jika memang yang dipikirkan Natha benar adalah Natha akan dibunuh di depan mata setelah Natha membuka pintu, tapi, itu bukanlah pemandangan yang ingin aku lihat. Sebelum hal yang terburuk itu terjadi, aku langsung mencengkram tangannya dan menginterupsi agar dia mundur ke belakangku. Dia mengangguk dan menurutiku.

Aku membuka pintu tersebut dengan sangat pelan, aku mana mau menjadi sasaran gila psikopat itu. Saat pintu ambulance telah terbuka lebar, yang kami bertiga temukan adalah isi yang kosong. Keyra menghilang! Aku langsung menyeruak masuk bersama dengan Natha dan Inspektur. Kami tidak menemukan petunjuk apapun di dalam sana, termasuk surat sekalipun—seperti ftv biasanya.

Inspektur langsung keluar dan memanggil para polisi untuk menghadap padanya, "semuanya menyebar ke seluruh penjuru sekolah, pelaku diperkirakan masih berada di sini. Korban menghilang saat berada di ambulance. Semuanya menyebar ke titik-titik di mana dapat diperkirakan sebagai tempat persembunyian!" ujar Inspektur tegas.

The Black MirrorsTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang