Ferdinand's POV
Aku tahu bahwa gadis itu adalah dia. Bahkan sejak pertama kali papa ku menyebutkan namanya. Gadis itu telah berubah menjadi wanita dewasa yang sangat cantik. Tingginya hanya sebatas bahu ku. Tapi itu tidak mengurangi kecantikannya, ditambah lagi dengan bentuk tubuhnya yang proporsional. Aku tergoda untuk mengusap kepalanya seperti dulu. Ingin merasakan kelembutan rambutnya yang diikat ekor kuda. Meskipun usianya sudah menginjak dua puluh lima tahun, tetap saja dia terlihat seperti remaja. Apalagi dia hanya memakai celana jeans hitam, kaos putih dilapisi cardigan abu-abu. Juga jangan lupakan sepatu converse putih yang dikenakannya. Benar-benar seperti remaja.
"Alexis Rima Wijaya?" Dia hanya menatapku dalam diam untuk waktu yang lama. Mungkin dia tidak yakin bahwa aku adalah mas Ferdi-nya. God, aku ingin memeluknya.
"Iya pak, saya Alexis. Mari, saya bawakan koper bapak." Apa dia bercanda? Tentu saja aku tidak akan membiarkan dia membawa koper ku. Ini seperti melukai harga diriku sebagai laki-laki. Lagi pula, aku tidak ingin melihatnya kesusahan.
"Tidak perlu, saya ragu apa kau bisa membawa koper ku dengan tubuhmu yang kecil itu." Dia membelalakkan matanya saat mendengarku. Aku sangat suka ini. Aku suka ekspresinya saat ku goda dia seperti tadi. Biasanya dia akan marah-marah dan berbicara dengan sangat cepat. Membuat aku ingin menciumnya.
Aku berjalan mendahuluinya. Sebenarnya, sangat susah untuk berjalan disampingnya. Aku harus menahan keinginan untuk menarik dia kedalam pelukanku. Untuk itu lah aku menghindari dia.
"Aaw," dia mengerang saat hidungnya menabrak badan ku. Astaga, hanya dengan mendengar erangannya membuatku turn on.
"Apa kau tidak mau menunjukkan dimana mobilnya diparkir?" Tahan Ferdinand, tahan.
"Ahh, maaf pak. Mari ikut saya."
Pilihan yang salah Ferdinand. Dengan berjalan dibelakangnya aku jadi bisa melihat kulit lehernya yang putih mulus, juga pantatnya yang bergoyang seiring dengan langkahnya. Sialan. Ini tidak bagus. Aku mengalihkan pandanganku dari Alexis. Hanya untuk menghindari aku menerjang dia.
Dia membuka pintu bagasi dan merebut koper dari tangan ku. Sentuhannya mengirimkan getaran aneh ke seluruh tubuhku. Segera saja aku masuk ke dalam mobil, untuk menenangkan diriku. Hey, aku ini laki-laki normal tahu.
Aku berpura-pura tidur selama perjalanan. Tapi meskipun begitu, aku tidak bisa mengabaikan tatapannya yang sesekali memandangi ku. Sial, Alexis. Jangan lakukan itu. Ingin sekali aku mencium bibir mungil yang merah alami itu.
"Apa kau akan terus memandangi ku? Apa kau bahkan tidak tahu bahwa kau telah menimbulkan kekacauan?" aku berkata masih dengan memejamkan mata. Apa dia pikir aku tidak tahu? Aku penasaran bagaimana reaksinya. Apa pipinya akan merona dan dia akan menggigit bibir bawahnya seperti dulu. Lucu sekali, aku melupakan fakta bahwa aku tidak pernah lupa satupun tentang dia.
Kami telah sampai di halaman rumahku. Kedua orang tua ku berdiri di depan pintu. Tidak ada yang berubah dari tempat ini. Hanya saja mereka terlihat bertambah tua. Aku turun dan berjalan menuju orang tua ku. Mama memeluk ku dengan erat, seolah kami tidak pernah bertemu selama berpuluh-puluh tahun. Well, sebenarnya hanya lima tahun. Itu bukan waktu yang lama kan?
"Terima kasih Alexis, bagaimana jika kamu ikut sarapan di dalam?"
"Sama-sama pak. Aah, sepertinya tidak bisa pak. Saya ada janji untuk sarapan dengan teman saya. Mungkin lain kali." Katanya dengan senyum manis di wajahnya. Aku merindukan senyuman itu.
"Baiklah kalau begitu, hati-hati dijalan ya. Terima kasih sekali lagi."
Sepertinya papa sangat dekat dengan dia. Yaa, siapa yang tidak suka dengan seorang Alexis Rima Wijaya? Gadia polos yang memiliki kecantikan alami, juga dengan segala sifatnya yang periang dan banyan bicara. Aku jadi penasaran temannya itu apakah laki-laki? Atau mungkin pacarnya?
Alexis Rima Wijaya. Mana mungkin aku melupakan mu. Gadis kecil yang manis sekarang sudah berubah menjadi wanita dewasa. Aku ingin sekali memeluk kamu. Mengusap rambutmu seperti dulu. Andai saja aku bisa. Mungkin Tuhan memiliki rencana sendiri untuk kita. Aku tidak tahu takdir seperti apa ini. Kenapa setelah sekian lama tidak bertemu, tiba-tiba saja Tuhan mempertemukan kita.
Memposisikan mu sebagai sekretaris ku, memungkinkan kita untuk selalu bertemu.
Aku tidak tahu harus bersikap seperti apa. Andai saja dulu aku tidak pernah pergi. Mungkin kita masih sama seperti dulu. Hanya saja, semuanya tidak semudah menjalankan perusahaan. Yang bisa aku lakukan hanya menjalani apa yang dituliskan oleh-Nya. Jika memang berpura-pura tidak saling mengenal adalah yang terbaik, maka akan aku lakukan.
Karena kenyataanya, semua tidak lagi sama seperti dulu.
YOU ARE READING
Past and Present - Original story
RomanceLelucon macam apa ini, Tuhan? Kenapa setelah delapan tahun, Kau kembali mempertemukan kami? Kenapa disaat aku mulai melupakan dia? Dia masih sama, bahkan bertambah tampan. Dengan bahunya yang tegap dan dadanya yang bidang. Dia masih sama. Suka seka...
