Duapuluh Empat

2.6K 115 0
                                        

Ada banyak hal gila yang telah di lakukan seorang Ferdinand Surya Sumirat. Dan aku telah melihat beberapa selama aku remaja. Tapi yang di lakukan nya kali ini adalah aksi bunuh diri. Aku terkejut saat mengetahui nya.

Yeah, laki-laki itu yang mengirimkan paket untuk ku.

Aku akan menjemput mu jam tujuh. Jangan lupa untuk mengenakan ini.

Love,
Ferdinand

Seperti itu lah kalimat yang tertulis di kertas dalam kotak yang dikirim kak Ferdi. Rasa nya aku ingin melempar kotak ini ke kepala nya. Dia itu bodoh atau apa? Dia bisa saja habis di tangan kak Alex bila kakak ku sampai tahu. Tapi, tetap saja, apa pun yang terjadi nanti malam tidak akan bisa menghilangkan degup kencang pada jantung ku.

Kak Ferdi masih punya efek yang sama. Apa lagi melihat mini dress putih yang ada di dalam nya. Sungguh aku tidak bisa menyembunyikan senyuman ku. Tapi di sisi lain, rasa bersalah juga menyadarkan ku dari kesenangan semu ini. Aku tidak lebih dari penghancur hubungan orang.

Ini sudah jam enam lebih tiga puluh dan aku masih belum memutuskan apa yang akan aku lakukan. Aku tahu ini salah. Tapi sebagian diri ku menginginkan nya. Ya, mungkin aku memang wanita egois. Tapi aku ingin melakukan nya. Sebelum pernikahan ku terjadi dan aku tidak akan bisa bertemu kak Ferdi lagi.

Jadi, aku melakukan nya.

Memakai dress dan high heels pemberian kak Ferdi. Merias wajah ku dengan sederhana. Well, aku tidak ingin terlihat berlebihan. Meskipun aku ingin sekali tampil cantik di depan nya. Aku tidak boleh terlihat sangat antusias dengan ajakan nya.

Dan kemudian, bencana itu datang.

"Mau pergi kemana kau?" Kak Alex bersandar di kusen pintu dengan tangan terlipat di depan dada.

"Umm, well, I.. I just.. wanttomeetFerdi." Ucap ku dengan cepat sambil menunduk dan memilin-milin ujung dress ku.

Oh, this is gonna be bad.

"Woo, slowly honey, say it again. You want to meet who?"

"Kak Ferdi," aku menggigit bibir ku untuk menutupi kegugupan ku.

"Apa? Kau bercanda, kan? Did you lost your mind?"

And here we go again.

"Kak, please. Aku tahu dia brengsek dan menyebalkan dan keterlaluan. Tapi, please ijinkan aku menemui nya malam ini. Ini akan menjadi yang terakhir. I promise,"

"Apa-" kami melirik pintu depan bersamaan.

Oh, itu pasti dia.

"Tidak, tunggu." Tangan kak Alex menarik ku ke belakang tubuh nya. Seolah yang berdiri di luar sana adalah penjahat. Well, he is. Bagi kak Alex, kak Ferdi adalah seorang penjahat yang harus dijauh kan dari ku.

"Kau cukup berani untuk datang kemari, Ferdinand." Kata nya saat membuka pintu.

"Well, hola Alex, my old friend. Yeah, apapun untuk wanita yang ku cintai." kak Ferdi menyeringai dan memasukkan tangan nya ke dalam saku celana nya.

He looks good.

As always.

"Old friend, huh? Yeah, ternyata roda memang benar-benar berputar, bukan begitu Ferdinand?"

Ya Tuhan, kapan ini akan selesai?

Roda memang berputar. Mengingat delapan tahun lalu aku berusaha keras untuk menarik perhatian nya dan laki-laki itu hanya menganggap ku sebagai adik kecil nya. Sekarang, keadaan berubah. Dia berkata di depan kakak ku bahwa aku adalah wanita yang dicintai nya.

Past and Present - Original storyStories to obsess over. Discover now