"Jadi, kau bekerja dimana sekarang? Aku dengar dari Ferdi kau sudah lama mengundurkan diri."
Mereka tengah makan malam di ruang makan kediaman Sumirat dengan diselingi obrolan ringan.
"Aku tidak bekerja, sir. Aku-"
"Alexis sedang mengistirahatkan pikiran nya, pa. Terlalu banyak pikiran tidak baik untuk dia. Setelah itu dia akan mengurus butik yang dia dirikan bersama teman-teman nya. Bukan begitu, Alexis?"
Alexis menatap Ferdinand penuh tanya. Sedangkan yang ditatap hanya tersenyum kecil dengan masih memakan makan nya.
Apa yang dia kata kan? Kenapa dia memotong ku? Apa dia tidak ingin orang tua nya tau kalau aku akan segera menikah? Tapi kenapa?
"Ya, begitu lah, sir."
Pada akhirnya Alexis hanya mengiyakan apa yang dikatakan Ferdinand. Entah apa yang terjadi dengan hati dan pikiran nya. Pikiran nya tentu mengatakan bahwa ini sangat salah. Tapi, hati kecil nya pun tidak ingin orang tua Ferdinand tau tentang rencana pernikahan nya.
Dan sepertinya laki-laki disamping nya puas dengan jawaban Alexis. Terlihat jelas dari sudut bibirnya yang terangkat. Menyeringai puas.
Aku tau kau masih mencintai ku, sayang. Sebentar lagi. Some little acts more, and you'll be mine.
"Oh, please, jangan terlalu formal. Kau bisa memanggil ku papa, Alexis."
"Dan kau bisa memanggil ku mama. Aku tau kau pasti sangat spesial bagi anak nakal ini karena dia telah membawa mu kemari dan mengenalkan mu pada kami. Kau tau, selama tiga tahun ini Ferdinand tidak pernah membawa seorang gadis kemari. Jadi, yeah, kau tidak perlu sungkan."
Alexis tersedak saat mendengar apa yang dikatakan Surya dan istrinya, Janette.
"Apa kau baik-baik saja? Minum lah dulu." Ferdinand menyerahkan segelas air yang langsung ditenggak Alexis dengan cepat.
"Pa, ma, kalian membuat dia terkejut. Tentu saja dia spesial bagi ku. Aku pun sudah mengatakan nya berulang kali. Tapi memanggil kalian dengan mama dan papa? Bukan kah ini terlalu cepat?"
Janette mengibas-ibaskan tangan nya di udara.
"Tentu tidak, kau sudah tiga puluh tahun. Mama akan sangat senang jika kau segera menikah lagi. Dan sepertinya Alexis adalah gadis baik-baik. Tidak seperti jalang itu yang dengan berani berselingkuh dibelakang mu."
"Ma, ada Kenzo disini. Jangan berkata seperti itu." Ferdinand menegur mama nya kemudian menatap Kenzo yang tengah serius dengan makanan nya. Tidak menghiraukan apa yang sedang dibicarakan oleh oran-orang dewasa disekitarnya.
Ferdinand menghembuskan nafas lega.
Oh, astaga ini benar-benar buruk. Sebenarnya apa yang sedang direncanakan laki-laki gila ini? Kenapa dia berkata bahwa kami punya hubungan khusus? Mati lah kau, Alexis.
Alexis mencuri-curi pandang pada laki-laki disamping nya dan mendapati nya tengah tersenyum sambil tetap memakan makanan nya.
Baik, sepertinya memang ini yang direncana kan laki-laki itu.
Benar-benar brengsek.
"Jadi apa kalian ingin bertunangan dulu atau langsung menikah?"
Alexis tersentak saat Surya bertanya seperti itu.
Ini benar-benar sudah keterlaluan. Apa mereka tidak melingkar di jari manis ku? Dan kenapa kak Ferdi tampak santai dengan pertanyaan papa nya? Dia sudah gila!
"Kita tidak mau terburu-buru, pa. Lagi pula kami baru saja berpacaran. Masih ada banyak waktu untuk semua itu. Benar kan, babe?"
Feridinand memandang Alexis yang sedang menatap nya tajam. Lalu membalas nya dengan senyum simpul.
"Benar kah? Tapi, mama melihat cincin indah di jari Alexis. Apa kau melamarnya dibelakang kami?"
Ah, akhirnya. Kebohongan ini akan berakhir.
"Ini cincin dari pa-"
"Itu cincin dari papa nya ma, Alexis sangat menyukai nya jadi dia terus memakai nya. Tentu aku akan langsung melamar nya di depan orang tua nya. Untuk apa sembunyi-sembunyi."
Mata Alexis melotot tajam pada Ferdinand. Alexis akan mengatakan pacar nya, tapi si brengsek Ferdinand dengan lihai mengubah semua nya.
Aku tau kau mungkin akan membenci ku setelah ini. Tapi, aku tidak peduli. Hanya ini satu-satu nya cara yang terpikir oleh ku. Kau tidak mungkin berani mengatakan yang sebenarnya pada mereka kan, sayang? Aku benar-benar mencintai mu. Akan ku lakukan semua nya agar kau kembali pada ku.
***
Keheningan menyelimuti suasana mobil Ferdinand. Sesekali mata pria itu melirik gadis disamping nya. Lalu menghela napas pelan.
Alexis sama sekali tidak mengacuhkan nya. Gadis itu hanya diam dan menatap keluar jendela. Ini lebih buruk daripada mendengar segala makian yang dapat dikeluarkan gadis itu untuknya.
Ferdinand tau Alexis sangat sangat marah besar pada nya. Atau mungkin kecewa. Tapi Ferdinand tidak tahu bahwa dia akan mendiamkan nya seperti ini. Dia lebih memilih terkena tamparan keras dari tangan lembut Alexis daripada didiam kan seperti ini.
Ferdinand sekali lagi menghela napas pelan.
"Alexis bicara lah sesuatu," tangan nya meraih sebelah tangan Alexis lalu menggegamnya erat.
"Fokus saja lah pada jalan mu, aku belum ingin mati." Suara Alexis terdengar dingin, membuat Ferdinand lagi-lagi menghela napas lelah.
Ferdinand tiba-tiba menepikan mobil nya di pinggir jalan yang sepi, membuat dahi Alexis mengernyit bingung menatap pria di sampingnya. Ingin sekali Alexis bertanya namun dia sedang dalam mode marah pada laki-laki brengsek ini. Jadi, gadis itu memutar kepala nya dan memandang lurus ke depan.
Lama mereka hanya diam memandang jalan di depan, membiarkan kesunyian mengambil alih. Sampai Ferdinand menghembuskan napas kasar lalu dengan cepat mencium Alexis.
Bibir Ferdinand mencium bibir Alexis dengan ragu. Takut gadis itu akan menampar nya dan semakin membencinya. Tapi, reaksi Alexis sangat jauh dari perkiraan nya. Gadis itu dengan perlahan membalas ciuman Ferdinand. Lalu sebelah tangan nya naik ke rahang tegas Ferdinand.
Tanpa basa-basi, Ferdinand dengan cepat menarik Alexis ke pangkuan nya. Kemudian ciuaman mereka menjadi lebih intens. Ferdinand mencium Alexis dengan rakus seolah tidak ada hari esok. Ferdinand menggigit bibir Alexis lalu menarik nya turun. Lidah nya masuk untuk menemukan pasangan nya. Lama lidah mereka saling menari dan melilit. Satu tangan Ferdinand berpindah ke tengkuk gadis di depan nya dan tangan yang satu nya meraba paha putih Alexis.
Ciuman itu hampir berlangsung lima menit, lalu saat Ferdinand merasa tidak ada cukup oksigen di paru-paru nya, dia melepaskan nya. Laki-laki itu menempelkan dahi nya pada dahi Alexis. Berbagi oksigen di antara mereka. Napas mereka masih terengah-engah. Mata mereka saling menatap dalam, mencari kebenaran di mata masing-masing.
Lalu perkataan Ferdinand membuat Alexis membeku di pangkuan pria itu.
"I love you so much, Alexis. Would you be mine? For now and forever?"
YOU ARE READING
Past and Present - Original story
RomanceLelucon macam apa ini, Tuhan? Kenapa setelah delapan tahun, Kau kembali mempertemukan kami? Kenapa disaat aku mulai melupakan dia? Dia masih sama, bahkan bertambah tampan. Dengan bahunya yang tegap dan dadanya yang bidang. Dia masih sama. Suka seka...
