This chapter is dedicated to @jannahnoera who gave Past And Present a lot of votes. Thank you so much
Rasa bersalah Alexis semakin besar dari hari ke hari menjelang pernikahan nya sejak kejadian di mobil Ferdinand. Dan rasa cinta kepada Ferdinand yang belum sepenuh nya hilang justru menjadi lebih kuat. Ini benar-benar buruk.
Ingin sekali rasa nya Alexis berlari menemui Alex dan membatalkan semua nya. Membatalkan persiapan pernikahan yang sudah delapan puluh persen. Dia merasa bersalah pada Andrew. Andrew adalah laki-laki baik dan dengan teganya dia mengkhianati laki-laki itu.
Kejadian di mobil benar-benar diluar perkiraan nya. Pernyataan cinta Ferdinand yang secara terang-terangan menganggu pikiran nya selama seminggu belakangan.
Dan Ferdinand, pria itu belum berhenti. Dia selalu mengirim kan buket bunga tulip dan berbagai hadiah ke butik nya. Ya, setelah kejadian itu Alexis memilih menyibukkan diri di butik. Pengalihan pikiran yang sempurna.
Tapi itu pun belum cukup karena setiap kali istirahat makan siang, Ferdinand pasti mengunjungi butik nya. Entah membawakan makan siang atau pun mengajak nya makan diluar. Semua ini tidak terdengar ke telinga Alex, atau setidaknya belum. Karena kakak tersayang nya itu sampai sekarang tidak mengatakan apapun. Jadi Alexis berasumsi bahwa pasti kakak nya tidak tahu mengenai ini semua.
Rasa bersalah Alexis semakin besar saat dia mengingat bahwa dia belum pernah sekali pun berkencan dengan Andrew. Mereka hanya beberapa kali keluar untuk makan malam keluarga. Tidak benar benar berdua. Mungkin sabtu malam nanti Alexis harus pergi berdua dengan Andrew. Mungkin dengan itu dia bisa perlahan membuka hati nya untuk Andrew.
"Miss Alexis?"
"Iya?" Alexis menatap Claudia-pegawai nya dibutik ini dengan pandangan bertanya.
"Ada tuan Ferdinand dibawah. Dia ingin menemui anda, miss."
Helaan napas lelah keluar dari mulut Alexis. Mata nya lalu menatap jam yang melingkar dengan manis di tangan nya. Jam makan siang. Baiklah. Here we go again.
"Aku akan menemui nya setelah ini,"
Setelah Claudia menutup pintu nya, Alexis memasukkan barang-barang nya ke dalam tas. Lalu berdiri di depan cermin setinggi badan di ruangan nya. Merapikan pakaian dan rambutnya sebentar. Kemudian melangkah keluar ruangan.
"Aunty Alexis!"
Tubuh Alexis sedikit terdorong ke belakang saat dengan tiba-tiba tubuh mungil menabrak nya dan memeluk kaki nya erat.
Kenzo.
Alexis tersenyum lalu berjongkok di depan anak laki-laki tampan itu. Tangan nya mengusap rambut Kenzo kemudian memeluk tubuh mungil itu erat. Gadis itu kemudian melepaskan pelukan nya dan menatap bocah di depan nya.
"Hei, pahlawan aunty. How are you, hero?"
Kenzo tersenyum cerah mendengar panggilan Alexis untuk nya.
"I'm good, aunty. Kenapa aunty tidak pernah ke rumah grandpa dan grandma lagi? Kenzo kangen aunty,"
"Umm.." mata Alexis beralih menatap pria yanh berdiri di belakang Kenzo dengan senyum simpul nya. Seolah meminta pertolongan untuk menjawab pertanyaan anak nya.
"Aunty Alexis sedang ada banyak kerjaan, sayang. Sekarang Kenzo sudah bertemu dengan nya, kan?"
"Ya, papa. Papa, can we go out with aunty Alexis? Aku ingin pergi ke taman bermain, papa. Please," mata bulat Kenzo memandang papa nya dengan tatapan memohon.
"Tentu saja, sayang. Kita akan bermain," bersama calon mama kamu.
"Yeay! Aunty, come on!" Kenzo bersorak riang lalu menarik tangan Alexis keluar dari butik.
YOU ARE READING
Past and Present - Original story
RomanceLelucon macam apa ini, Tuhan? Kenapa setelah delapan tahun, Kau kembali mempertemukan kami? Kenapa disaat aku mulai melupakan dia? Dia masih sama, bahkan bertambah tampan. Dengan bahunya yang tegap dan dadanya yang bidang. Dia masih sama. Suka seka...
