Duapuluh Satu

2.6K 129 0
                                        

"Alexis?"

Alexis memutar tubuhnya, menatap laki-laki di hadapan nya dengan bingung.

"Ya?"

"Kau Alexis kan? Kita pernah bertemu di  Point Viance. Saat menolong kekasih mu yang mabuk itu."

Ingatan Alexis memutar kembali kejadian beberapa hari lalu. Saat dia menolong Ferdinand dan berakhir dengan tidur bersama. Tidur yang sebenarnya.

"Ah, iya, aku ingat. Tapi dia bukan kekasih ku.." Alexis lupa siapa nama laki-laki didepan nya. Dia tidak punya ingatan yang bagus. Apalagi jika hanya bertemu sekali.

"Arga, aku Arga. Apa kau sudah melupakan ku? Astaga, aku saja masih bisa mengingat mu dengan baik." Jawab Arga dan di akhiri dengan senyum menggoda. Tentu saja dia hanya bercanda. Tidak mungkin dia berani menyentuh milik sahabatnya yang bodoh itu.

"Umm, well, maafkan aku. Jujur saja ingatan ku tidak begitu bagus." Alexis tersenyum canggung. Tidak enak karena dia sempat melupakan laki-laki di depan nya. Yang seharusnya bukan menjadi masalah karena mereka hanya bertemu satu kali, dalam waktu yang tidak tepat pula.

"It's okay. Aku hanya bercanda. Apa kau mau masuk kesana?" Tunjuk Arga pada Starbuck di samping mereka.

"Yeah, aku baru akan masuk kesana tadi."

"Kalau begitu apakah kita bisa minum kopi bersama? Umm, tidak apa jika kau tidak mau. Aku tidak akan memaksa." Tawar Arga. Sebenarnya dia hanya ingin mengobrol dengan Alexis. Mencari tahu beberapa hal agar si bodoh itu segera bertindak. Well, dia tidak akan diam dan membiarkan sahabatnya yang bodoh itu kecewa, tentu saja.

"Ya, ya, tentu saja. Lebih baik ada teman mengobrol dari pada sendirian, kan?" Alexis tersenyum simpul. Rusak sudah rencananya hari ini untuk menjernihkan pikiran. Tapi, dia juga tidak sampai hati untuk menolak tawaran Arga. Meskipun Arga sebenarnya hanya orang asing baginya.

"Kalau begitu, ayo masuk!" Arga berjalan di depan dengan Alexis yang mengikuti dari belakang.

"Kau mau pesan apa?"

"Caramel macchiato, please."

"Espresso satu, caramel macchiato satu ya,"

Alexis memegang cup caramel machiato nya kemudian berjalan ke meja untuk dua orang yang terletak di sudut ruangan dekat jendela.

"Jadi, bagaimana kabar kekasih mu itu?"

"Kak Ferdi maksud mu? Tidak, dia bukan kekasih ku. Dan ku rasa dia baik-baik saja sekarang."

Arga menaikkan sebelah alis nya saat Alexis mengatakan 'ku rasa'.

"Ku rasa?" Jelas dia tidak baik-baik saja, Alexis. Ucap batin Arga.

"Yeah, well, aku belum berhubungan dengan nya sejak kejadian di Point Viance."

Arga tercengang mendengar penjelasan Alexis. Sejak kejadian di Point Viance? Itu sudah hampir satu minggu yang lalu. Dasar bedebah satu itu. Arga benar-benar harus turun tangan sepertinya.

"Tapi, kau yakin kau bukan kekasihnya? Karena aku sangat yakin mendengar dia terus menerus memanggil 'Alexis, Alexis' saat dia mabuk." Pancing Arga. Dia tahu Ferdinand itu bodoh dan brengsek, tapi mungkin tidak dengan Alexis.

Alexis terperangah, "Benarkah?"

"Ya, sebelum kau datang. Dia terus melantur ingin bertemu dengan mu dan ingin kau memaafkan nya."

Alexis tidak menjawab, alih-alih wanita itu hanya menundukan kepala nya dan mengaduk-ngaduk caramel machiato nya. Pandangan nya kosong.

"Sebenarnya apa hubungan mu dengan laki-laki itu?" Lagi-lagi Arga berusaha memancing Alexis untuk mengatakan sesuatu tentang si bodoh itu.

Past and Present - Original storyStories to obsess over. Discover now