Sepuluh

3.5K 161 4
                                        

Aku memeluknya dengan erat saat dia sudah duduk di samping ku. Menenggelamkan kepala ku di lekukan lehernya dan menghirup aroma nya dalam-dalam. Entah sejak kapan aku mulai menyukai kebiasaan ini.

Saat ini aku sangat stress karena ada banyak masalah akhir-akhir ini. Dan pelukan Lexi bisa meredakan stress ku. Aku suka aroma nya, campuran antara strawberry dan vanilla, itu bisa menenangkan aku. Aku juga suka saat dia mengelus kepala ku dan punggung ku seperti ini. Aku kecanduan akan pelukan nya.

"Ada masalah apa kak?" Lihat? Dia sangat perhatian pada ku dan itu membuat ku nyaman untuk berlama-lama bersamanya.

"Ada yang menyabotase pengiriman kayu jati untuk pesanan mable, kakak rugi besar Lexi. Kau tahu kan kayu jati itu sangat mahal?" Aku berkata lirih tanpa melepaskan pelukan ku.

"Astaga, siapa yang melakukan nya?" Alexis masih tetap mengelus kepala ku dengan lembut.

"Aku belum tahu, kami sedang menyelidiki nya," aku mengeratkan pelukan ku. "Aku takut jika customer itu minta ganti rugi karena kita terlambat mengirimkan barang."

"Ssh, tenanglah kak. Kita akan menyelesaikan masalah ini bersama-sama. Aku akan membantu kakak untuk menjelaskan masalah ini pada customer, siapa tahu mereka mau bekerja sama. Kak Ferdi tidak perlu takut."

Aku mengangkat wajah ku untuk menatapnya, dia tersenyum hangat pada ku. Matanya memancarkan ketulusan. Ooh Alexis, siapa pun yang memiliki mu pasti sangat beruntung. Wanita ini benar-benar baik dan sangat tulus. Dia juga cantik. Senyum nya juga sangat menular, membuat siapa pun yang melihat nya tersenyum akan ikut tersenyum. Dia seolah membawa kebahagiaan untuk orang-orang di sekelilingnya.

Aku teringat ciuman kami di hotel, tidak menyangka bibir yang dapat tersenyum manis ini ternyata benar-benar manis-secara harfiah. Sejak ciuman pertama kami itu, aku jadi sering memperhatikan bibir nya yang merah ranum itu. Aku penasaran apa aku bisa mencium, melumat dan merasakan bibir manis itu lagi. Aku tahu aku pernah bilang bahwa aku tidak akan pernah macam-macam pada nya, tapi sungguh aku rasanya ingin mencium bibir itu lagi. Sebut aku brengsek, karena kenyataan nya bukan hanya pelukan nya yang menjadi candu untuk ku, tapi juga ciuman nya. Dan fakta bahwa ciuman itu adalah ciuman pertama Alexis semakin menganggu pikiran ku, membuat ku makin tidak tahan untuk mencium nya. Jangan tanya aku tahu dari mana, aku dapat merasakan nya tanpa perlu bertanya dengan wanita itu. Aku tahu karena awalnya dia membalas dengan sedikit kaku, dia seperti bingung harus melakukan apa.

"Kau sudah makan siang?"

"Belum kak, aku menunggu untuk makan bersama kakak," ooh, dia sangat manis. Aku tersenyum lebar saat melihat senyum malu-malu nya.

"Kalau begitu ayo kita pesan makanan. Kau ingin makan apa?"

"Terserah kakak saja,"

Andai saja dia tidak terlalu muda, aku pasti sudah menikahi nya-kami berjarak lima tahun. Oke, sekarang aku terdengar seperti seorang pria brengsek berhati batu yang melihat umur dalam cinta. But, hei, I even didn't trust this love things anymore. Ya, aku akui, aku tidak percaya dengan cinta lagi sejak kejadian itu. Bagiku cinta itu hanya mitos atau apalah kalian menyebutnya, sesuatu yang tidak benar-benar ada. Konyol memang, seorang pria menanggap bahwa cinta itu tidak ada. Kenapa aku terdengar seperti bajingan yang menebar cinta tapi tidak mau mempertanggung jawabkan cinta itu? Aku tahu, mungkin Alexis berpikir bahwa aku tertarik padanya, well, aku memang tertarik padanya, tapi bukan berarti aku ingin menjadikan nya kekasih atau istri kan? If you think that i'm such a jerk, an asshole, or anything you want to say, then do it. Neither do I, I'm gonna say to myself that i'm such an asshole.

Kami berbincang dan sesekali Alexis tertawa saat dia mengatakan sesuatu yang lucu. How could she looks like she doesn't have any problem in her life? She always looks so happy, seolah dia tidak punya beban dalam hidupnya.  Is it a truth or it just a pretend? I don't know, she never told me about her feelings. Yet, she always ask how my feelings. And it's kinda hurt my ego.

Kenyataan bahwa dia selalu menanyakan bagaimana perasaan ku, padahal aku tidak pernah menanyakan perasaanya, membuat ku berpikir bahwa aku bukan kakak atau teman-argh, I don't even know what we are, stupid-yang baik. You know, I should do the same thing as what she does to me.

"Apa kau ada acara malam  ini?" And this idea suddenly come up in my mind. Dia tertegun dan berhenti tertawa, memandang ku dengan pandangan 'are you kidding me' or something like that. She looks surprised.

"Umm, tidak. I just- well, i usually stay at home in weekend. So, no, i don't have any plans in this night. Why you asked that?"

"Aku hanya ingin mengajak mu keluar," dia tersenyum dengan mengernyitkan dahinya. Seolah berpikir kenapa aku tiba-tiba mengajak nya keluar. Well, trust me, I wondering the same thing.

"So, you suddenly turned into a teenage or what," dia tersenyum geli menatap ku.

"No, of course not. Aku hanya ingin jalan-jalan, merefresh otak ku. You know how busy I am, right?"

"Well okay then, i'll accompany you."

"Great, I'll pick you up at 7,"

***

Dan disinilah aku sekarang, jam tujuh tepat aku sudah duduk di teras rumah nya. Mama nya awal nya terkejut saat melihat ku, well we supposed to be a neighborhood. Dulu, kami bertetangga, dan enam tahun yang lalu orang tua ku memutuskan untuk pindah. Aku tidak tahu kenapa orang tua Alexis masih tetap tinggal disini. I mean, they're rich enough to move in an elite regency. Alex-kakak Alexis-sudah mengembangkan perusahaan papa nya sampai keluar Jawa. Jadi aku yakin mereka bisa saja pindah ke perumahan elit. Tapi dari dulu keluarga Alexis memang seperti ini, low profile. Bahkan Alexis memilih untuk bekerja di perusahaan lain, padahal bisa saja dia menjadi direktur di salah satu cabang perusahaan nya. Saat aku tanya kenapa, dia hanya berkata bahwa dia ingin mandiri. Dia ingin orang-orang menghormati nya karena kemampuan nya. Aku salut akan pemikiran nya, tidak banyak perempuan yang seperti dia. Kebanyakan hanya bisa meminta tanpa mau berusaha.

"Hei kak, maaf ya lama," aku melihat Alexis yang berdiri di ambang pintu. She looks so cute. Dia memakai ripped jeans putih, hoodie abu-abu dan sepatu kets putih. Rambutnya di biarkan tergerai dan wajah nya terlihat polos tanpa make up. Cantik dan natural di saat yang bersamaan. Untung tadi aku hanya memakai jeans hitam dan sweater putih. Setidaknya,  we looks match.

"Why take so long for make up?"

"Sebenarnya, aku tadi baru saja mandi jadi sedikit lama, maaf." Dia tersenyum lebar, menunjukkan barisan gigi putihnya. Is she kidding me? Dia baru saja mandi? Apa itu berarti dia melupakan ajakan ku?

"Did you forget that you have to accompany me?" Aku menatapnya tajam.

"No, i'm not. Aku tadi hanya ketiduran. Kau tahu, seharian ini aku menemani mama belanja, jadi aku merasa lelah lalu ketiduran. Maaf," dia menunjukkan senyum bersalah nya.

"It's okay, come on." Aku menarik tangan nya untuk berjalan ke Audy hitam ku.

"So, where do we go?" Katanya setelah memasang seatbelt.

"Don't know. You decide," aku mulai menyalakan mobil.

"Ayo ke puncak," mata nya berbinar menatap ku.

"What? Are you kidding me?"

"Kau bilang mau refreshing kan?"

"Iya, but, Lembang?"

"Apa salahnya? Kau bisa menikmati udara segar disana, kau juga bisa menghindar dari suasana Jakarta yang penuh sesak." Dia lagi-lagi tersenyum lebar. It's sounds ridiculous, but I think it's a good idea.

"Tapi, ini sudah jam setengah delapan. Memang mama mu mengijinkan untuk menginap?" Pikiran tentang kami akan menginap tiba-tiba menyentak ku. Ini tidak bagus. Bagaimana bila aku tidak bisa menahan diri seperti di Jogja?

"Umm, you're right. Lalu kemana?" Bagus, setidaknya dia berubah pikiran. Tapi kenapa sebagian diri ku menyesal karena kita tidak jadi ke Lembang? Argh, you such a jerk Ferdi. Buang pikiran kotor itu dari otak mu.

"Entahlah,"

"You're so weird,"

"What?! Did you say that i'm weird?"

"Yes, kau sangat aneh. Kenapa mengajak ku keluar kalau tidak tahu mau kemana?" Dia benar juga. Kenapa aku tidak memikirkan ini sebelumnya.

"Baiklah, kita akan ke Lembang kalau begitu.

Past and Present - Original storyStories to obsess over. Discover now