Duapuluh dua

2.7K 117 0
                                        

***

"My stupid bro, Ferdinand!" Arga menyapa Ferdinand lalu duduk dengan santai di sofa ruang kerja Ferdinand.

"Kalau lo hanya datang untuk sesuatu yang tidak penting, lebih baik pergi. Gue sibuk," Ferdinand tidak menggubris keberadaan Arga. Mata nya tetap serius mempelajari berkas-berkas di meja nya.

"Oh come on, don't be a bad ass. Justru gue kesini karena ada sesuatu yang sangat-sangat penting yang harus lo tahu." Arga memberi jeda sejenak. Menanti reaksi Ferdinand. "Mengenai Alexis," lanjut Arga setelah tidak mendapat respon apapun dari Ferdinand.

Arga menyeringai melihat Ferdinand yang dengan tiba-tiba mengangkat kepalanya saat mendengar nama Alexis.

"What's happen with her? Is something bad happened to her? Is she okay?" Tanya Ferdinand bertubi-tubi.

"Woaa, relax bro. She's fine. Even better."

Ferdinand mengernyit bingung. Sebenarny apa maksud laki-laki ini?

"Even better?"

"Yeah, I met her fiance few days ago. Well, beberapa hari yang lalu masih calon. Tapi mungkin sekarang sudah resmi."

"Fiance?!"

"Well, yeah, itu yang kemarin gue dengar. Namanya Andrew, Andrew Prakasa Widyatama. Gue yakin lo mengenal dia."

Terdapat kerutan dalam di dahi Ferdinand setelah mendengar siapa yang menjadi tunangan gadisnya. Andrew Prakasa Widyatama. Arsitek muda berbakat, pemilik Made Colors-perusahaan arsitektur yang lumayan berkembang setelah dua tahun berdirinya. Dan juga saingan Ferdinand dalam beberapa tender.

"Lo kenal dia kan?"

"Umm," ingatan Ferdinand melayang pada saat dirinya dan Alexis pergi ke Jogja untuk urusan bisnis. Ferdinand sangat yakin bahwa laki-laki yang ditemui nya dulu sama dengan laki-laki yang diceritakan Arga.

"Oh, apa benar lo belum menghubungi Alexis sejak lo teler di Point Viance?"

Kerutan di dahi Ferdinand tercetak jelas setelah mendengar pertanyaan Arga. Dari mana pria ini tahu bahwa dia belum menghubungi Alexis? Dan apa tadi dia bilang? Bagaimana dia tahu bahwa Alexis yang mengantar nya pulang?

"Dari mana lo tahu?" Desis Ferdinand tajam.

"Tahu apa? Lo yang belum menghubungi Alexis? Atau Alexis yang menolong lo di Point Viance?" Sebelah alis Arga terangkat melihat reaksi sahabatnya yang bodoh itu.

"Lo tahu yang mana yang gue maksud."

"Oke, gue akan mulai dengan tragedi Point Viance. So, gue yang menghubungi Alexis untuk menjemput lo yang waktu itu hampir nggak sadar."

"Apa?! Jadi ini semua rencana lo?!"

"Habis gue udah nggak tahan dengan sikap bodoh lo yang cuma bisa diam tanpa memberi kan penjelasan apapun pada Alexis." Jawab Arga dengan mengangkat kedua bahunya acuh. Seolah apa yang dia lakukan itu tidak penting.

"Lo tahu nggak gue selama ini nggak menghubungi Alexis karena gue nggak yakin kalau yang menolong gue malam itu dia?"

"Ya itu mungkin karena lo aja yang terlalu bodoh untuk sadar,"

"The fuck Arga,"

"Itu sudah nggak penting sekarang. Yang harus lo pikirin sekarang adalah pertunangan Alexis."

"Gue harus gimana? Dia sudah bertunangan sekarang. Nggak ada lagi yang bisa gue lakukan." Ferdinand menatap pemandangan kota Jakarta melalui kaca besar di belakang mejanya. Membelakangi Arga.

Past and Present - Original storyStories to obsess over. Discover now