Lima

4.6K 222 1
                                        

Ferdinand sedang berciuman dengan seorang wanita dan sepertinya aku menganggu mereka. Ferdinand melepas ciuman nya dan menatap ku dingin. Aku menggelengkan kepala ku pelan, tidak percaya dengan apa yang ku lihat. Bagaimana bisa? Bagaimana mungkin dia melakukan hal menjijikkan itu di kantor. Beruntung bukan orang lain yang melihat ini.

"Ehm," wanita itu berdeham, menyadarkan aku dari kebisuan ini.

"Mm, maaf pak, saya hanya ingin memyerahkan proposal. Maaf jika mengganggu." Aku berjalan ke meja kerja nya dan meletakkan proposal itu.
Setelahnya, aku bergegas keluar.

Aku menahan agar air mata ku tidak tumpah. Ya Tuhan, apa lagi ini? Kenapa dia berubah sejauh ini? Kak Ferdi yang aku tahu tidak seperti ini. Dia tidak pernah membentak dan berkata ketus. Dia juga tidak pernah melakukan hal seperti tadi. Aku merasa bahwa kak Ferdi dan Pak Ferdinand adalah orang yang berbeda. Fisik mereka sama, tapi jiwa nya tidak.

Tapi, apa yang ku tahu dari nya? Dari dulu pun aku tidak tahu apa-apa tentang nya. Aku tidak tahu apa kesukaannya dan apa kebiasaan nya. Aku bahkan bingung bagaimana mungkin aku mencintai dia saat aku tidak tahu apapun tentangnya. Mungkin saja ini sifat nya yang sebenarnya. Dingin, brengsek dan tak berperasaan.

Aku sedang mencoba mengatur napas ku agar tidak menangis dan terlonjak saat mendengar suara dingin nya dari interkom, "Masuk. Sekarang."

Keringat dingin keluar dari tangan ku saat aku memasuki ruangannya. Tatapan tajam dari nya yang menyambutku saat aku masuk. Diam-diam aku menarik napas panjang. Entah kenapa aku jadi sangat takut. Aku sama sekali tidak tahu apa yang akan dilakukkannya. Aku takut karena aku tidak mengenal sisi orang ini sebagai Ferdinand.

"Kau tahu apa kesalahan mu." Suara dingin menyapa pendengeran ku. Aku hanya mengangguk kemudian menunduk. Memilin-milin tangan ku gelisah.

"Kau tahu apa salah mu hah?!" Aku terlonjak mendengar dia membentak ku.

"Iya pak," suara ku terdengar kecil sekali.

"Beraninya kau masuk tanpa seijin ku?! Pikir mu ini kantor mu hah?!" Ya Tuhan, aku tidak pernah dibentak seperti ini sebelumnya. Keringat dingin keluar makin deras. Jantung ku berdegup kencang.

"Tapi pak, tadi saya sudah mengetuk pintu, karena tidak ada sahutan jadi saya pikir bapak tidak ada di dalam." Ujar ku lirih. Ayolah, kemana sisi pemberani Alexis.

"Lalu kau bebas keluar masuk ruangan ku begitu?! Kau itu hanya sekretaris ku, paham?!" Kenapa dia semarah ini hanya karena aku melihat dia berciuman? Seharusnya dia malu, bukannya melampiaskan amarah nya pada ku. Aku tidak tahu bahwa dia sangat temperamental.

"Sekali lagi kau melakukan itu, kau akan mendapat hukuman." Kepala ku terangkat, melihatnya dengan terkejut. Hukuman dia bilang? Tapi aku bukan seorang siswa. Astaga.

"Sekarang keluar dari ruangan ku."

***

Sejak kejadian kemarin, aku sedikit menjauh dari nya. Tidak benar-benar menjauh karena hampir setiap hari kami bertemu. Hanya saja aku berusaha untuk tidak terlalu dekat dengan dia. Aku bahkan takut untuk membalas tatapannya. Tapi tetap saja, hati ku yang bodoh ini tetap mencintai nya meskipun aku takut pada sosok nya yang baru.

"Alexis tolong ke ruangaan saya," suara nya terdengar dari interkom. Entah apa yang dia inginkan sekarang.

Aku berjalan ke kursi di depan mejanya dan duduk disana. Kepala ku aku tundukkan. Aku takut jika kejadian beberapa hari yang lalu terulang lagi.

"Kau tahu kan nanti malam ada pesta untuk penyambutan ku?" Ah ya pesta itu, pesta yang menyebabkan dia memarahi ku habis-habisan. Omong-omong aku jadi teringat, dia berarti sudah seminggu bekerja disini.

Past and Present - Original storyStories to obsess over. Discover now