Tujuhbelas

2.9K 138 1
                                        

"Maaf nona, anda tidak bisa masuk. Mr. Ferdinand sedang sibuk sekarang."

"Menyingkir dari hadapan ku brengsek!"

Ferdinand terkejut saat mendengar keributa di luar dan pintu ruangan nya yang tiba-tiba di buka dengan keras.

"Wanda?" Laki-laki itu berjalan mendekati Wanda.

PLAKK

Ferdinand merasakan pipi nya sedikit nyeri karena tamparan Wanda yang lumayan keras. Gadis itu meluapkan seluruh emosi nya saat menampar pria brengsek di depan nya.

"Kau?! Apa kau puas sekarang ha?! Dasar laki-laki brengsek! Beran-berani nya kau menipu Alexis! Kau bahagia sekarang?!"

"Apa yang-"

"Dengar ya, kau Ferdinand Surya Sunirat yang terhomat, jangan pernah kau kembali lagi ke kehidupan nya. Laki-laki brengsek seperti mu tidak pantas mendapatkan gadis sebaik Alexis. Kembali lah ke keluarga kecil mu itu. Leave her alone! Jika aku melihat mu masih mendekati nya, maka aku bersumpah akan membuat mu menyesal seumur hidup!" Wanda mengacungkan jari nya dan menunjuk tepat di wajah Ferdinand.

"Jangan bersikap baik lagi pada nya jika semua itu hanya kepalsuan belaka. Berhenti menyakiti nya. Belum puas kah kau sudah menyakiti nya delapan tahun yang lalu? Dan sekarang kau kembali lagi pada nya? Hanya untuk menyakiti nya?" Ferdinand tersentak mendengar perkataan Wanda. Menyakitinya lagi? Delapan tahun yang lalu? Apa maksudnya?

"Tunggu Wanda, apa maksud mu?"

"Kau tidak tahu? Sahabat ku yang bodoh itu sudah mencintai mu sejak dia masih SMP! Dan kau menyakiti nya dengan memperkenalkan tunangan mu pada nya! Dan sekarang kau kembali menyakiti nya setelah membuat dia jatuh cinta lagi pada mu! Sumpah demi Tuhan, aku rasa nya ingin membunuh mu sekarang." Mata Wanda berkilat penuh amarah. Marah akan kelakuan pria brengsek di depan nya.

"Ap.. apa.. apakah itu benar? Dia.. mencintai ku selama ini?" Jantung Ferdinand rasanya seperti ditusuk ribuan belati. Kenapa dia tidak pernah memperhatikan nya? Kenapa dia tidak pernah tahu bahwa Alexis mencintai ya?

"Dimana dia, Wanda? Aku ingin bertemu dengan nya."

Wanda tertawa sarkastik mendengar kata-kata Ferdinand. Bertemu, katanya? Jangan harap.

"Sekarang kau menyesal? Menyesal karena sudah kehilangan gadis yang bisa mencintai mu dengan tulus selama itu? Ku peringat kan pada mu, ini adalah terakhir kali nya kau bisa bertemu dengan Alexis. Kau dan Alexis hanya lah dua manusia yang di takdirkan untuk bertemu di masa lalu dan di masa sekarang, tidak akan ada masa depan untuk kalian. Tidak akan pernah ada."

"Wanda, aku mohon, pertemu kan aku dengan nya." Ferdinand meraih tangan Wanda dan menatapnya penuh harap.

Wanda menatap tangan nya yang di genggam Ferdinand, kemudian menyentaknya dengan keras.

"Then what? You gonna hurt her again like before? You wish!"

"Tidak, aku mohon. Percayalah pada ku, aku ingin berbicara dengan nya."

"Percaya pada mu? Setelah apa yang kau lakukan? Tidak akan, Ferdinand." Wanda tahu ini tidak sopan. Memanggil orang yang lebih tua lima tahun dengan namanya saja. Jika mama nya disini, dia pasti akan mengomel habis-habisan. Tapi, saat ini Wanda tidak perduli dengan sopan santun. Bahkan laki-laki di depan nya ini tidak pantas mendapat rasa hormatnya.

"Jangan mendekati nya lagi. Kau hanya bisa menyakit nya, Ferdinand. Biarkan dia bahagia tanpa mu."

***
Alexis's View

"Hei, sweetheart." Aku memandang kak Alex yang berdiri di ambang pintu. Tanpa senyuman. Senyum ku sudah hilang sejak hari dimana kebenaran tentang aki-laki itu terungkap.

Past and Present - Original storyStories to obsess over. Discover now