Delapan belas

2.7K 132 0
                                        

Alexis's View

Aku membaringkan kak Ferdi di ranjang nya. Untung saja ada security yang mau membantu ku memapah kak Ferdi. Jika tidak, aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan. Kak Ferdi terlalu berat untuk ku papah seorang diri.

Aku melepaskan sepatu kak Ferdi dan menyelimuti nya. Apa yang terjadi kak? Kenapa kau lari ke minuman sialan itu? Apa yang membuat mu seperti ini?

Tangan ku terangkat untuk membelai kepala nya. Merasakan halus rambut nya. Salah satu hal yang sangat ku sukai akhir-akhir ini.

"I'm gonna miss you, kak." Aku mencium lembut dahi nya. Ah, aku benar-benar akan merindukan nya. Tapi, apa yang bisa ku lakukan jika dia saja tidak menginginkan ku?

"Goodbye, my love." Aku melihatnya sekali lagi, kemudian beranjak pergi.

"Alexis?" Tubuh ku mematung saat merasakan tangan ku di cekal. Itu pasti kak Ferdi, kan? Tidak ada siapa pun disini, jadi itu pasti dia kan? Tapi, bagaiamana mungkin dia masih sadar? Aku yakin tadi melihat empat botol vodka kosong di depan nya. Harus nya dia tidak sadar, kan?

"Is that you? Is that really you?" Aku memalingkan wajah ku untuk memandannya.

"Oh, ya Tuhan, ini benar-benar kau." Kak Ferdi kemudian menarik ku duduk di ranjang nya.

"Apa mungkin?" Tangan nya terangkat dan dia menyentuh wajah ku dengan telunjuk nya.

"Astaga, hahaha," aku mengernyit bingung mendengar dia tertawa. "Aku pasti sudah gila, kan? Mana mungkin dia ada disini? Minuman itu benar-benar mengacaukan pikiran ku. Hahaha," dia benar-benar tidak sadar.

"Oh, Alexis, aku mohon maaf kan aku. Aku tidak bermaksud menipu mu. Aku akan menceraikan jalang itu. Aku mohon kembali lah," detik berikutnya kak Ferdi menunduk dan aku bisa melihat bahu nya terguncang.

Apa dia menangis?

"Kembali lah. Jangan tinggal kan aku, aku mohon. Aku akan melakukan apa pun untuk mu. Aku mohon, Alexis."

Hati ku rasanya tersayat mendengar kak Ferdi, terlebih lagi suara nya yang parau saat mengatakan itu. Apa mungkin dia juga memiliki perasaan yang sama? Tapi, dia sudah menikah. Dan aku tidak ingin menjadi wanita jahat dan egois. Aku juga sudah berjanji untuk menikah dengan kak Andrew.

Ingin sekali aku tinggal. Tapi, aku tahu, aku sudah tidak memiliki kesampatan. Tuhan tidak menuliskan takdir untuk masa depan kita. Aku tahu, seharusnya aku tidak mendahului takdir Tuhan. Tapi, apa yang bisa ku lakukan? Akan ada banyak hati yang tersakiti jika kami bersama.

Mungkin memang benar. Aku selalu mengatakan ini, entah untuk yang keberapa kali nya. Tapi, aku dan kak Ferdi memang tidak memiliki masa depan bersama. Kami hanya di takdirkar untuk masa lalu dan masa sekarang. Tidak ada masa depan untuk kami.

Aku bisa saja membuat kak Ferdi menceraikan istrinya. Tapi, aku tidak sejahat itu. Belum lagi, ada seorang anak yang akan menjadi korban jika kak Ferdi bercerai. Dia akan kehilangan kasih sayang orang tua nya. Tidak, tidak, bukan ini yang ku inginkan.

"Kak Ferdi, ini memang aku."

Wajahnya terangkat untuk menatap ku.

"Benarkah?"

Aku mengangguk menjawab nya. Aku bukan orang jahat. Tapi, aku mohon, biarkan aku bersikap egois untuk terakhir kali nya. Setelah malam ini, aku akan pergi sejauh mungkin. Dan ku pasti kan, dia tidak akan pernah melihat wajah ku lagi.

Jujur saja, ini sangat menyakitkan. Saat kau harus pergi demi kebahagiaan orang banyak, dan rela terluka untuk mereka. Tapi, aku yakin bisa mengatasi ini. Aku berhasil bertahan untuk delapan tahun. Bertahan sekali lagi selama sisa hidup ku tentu tidak akan ada masalah kan?

Past and Present - Original storyStories to obsess over. Discover now