Duapuluh Tujuh

2.6K 139 3
                                        


***

"Pa, Kenzo mau naik itu!"

"Tidak boleh, Ken. Itu untuk orang dewasa, tinggi mu belum mencukupi."

"Benarkah?" Kenzo memandang wahana di depan nya dengan sedih. Melihat orang-orang berteriak saat rollercoaster itu naik turun dengan kecepatan ajaib. Sepertinya sangat menyenangkan.

"Ayo, kita main yang lain Ken." Alexis menarik tangan mungil Kenzo untuk berjalan mengelilingi tempat bermain itu. Mencari wahana yang pas untuk anak lima tahun sepertinya.

Dibelakang mereka, Ferdinand menatap Alexis tajam. Lebih tepatnya menatap kaki jenjang Alexis yang terekspos. Jelas saja, Alexis hanya memakai hotpants sebatas paha nya. Dan itu membuat Ferdinand geram. Pasal nya laki-laki di sekitar mereka terlihat mencuri pandang pada kaki Alexis sebelum naik memperhatikan wajah manis nya. Dan setelah melihat wajah manis Alexis, mereka akan lebih sering memperhatikan gadisnya. Benar-benar sial.

"Bagaimana dengan itu?" Kenzo menunjuk wahana yang hampir mirip dengan rollercoaster tadi namun berukan lebih kecil dan medan nya ada di air. Membuat orang-orang yang menaiki nya akan terciprat air di akhir permainan.

"Mari kita tanya kan pada petugas nya."

Ferdinand menatap Alexis dan Kenzo yang tengah berbicara dengan petugas taman bermain. Senyum kecil terbit di wajah tampan nya. Anaknya dan gadis itu terlihat sangat serasi. Mereka terlihat seperti keluarga bahagia. Ferdinand sangat yakin Alexis akan menjadi ibu yang baik untuk Kenzo.

"Papa, ayo kita naik ini! He allowed me! Cepat, papa!"

"Kita akan naik ini?"

"Ya?"

"Apa kau yakin kau berani?" Ferdinand mensejajarkan tinggi nya dengan tinggi Kenzo.

"Tentu saja! Jangan bilang papa yang tidak berani menaiki ini?" Kenzo tersenyum menggoda papa nya.

"Tentu saja papa berani! Nah, ayo kita naik ini."

Mereka kemudian naik ke kereta yang terdiri dari tiga baris kursi. Alexis duduk di samping Kenzo. Karena anak itu yang meminta nya tadi. Meninggalkan Ferdinand duduk dengan canggung bersama orang asing di belakang mereka.

"Kau yakin tidak berubah pikiran?" Alexis membalikan tubuh nya untuk menatap wajah pucat Ferdinand.

Ferdinand menatap Alexis yang tersenyum menggoda pada nya dengan datar.

"Baik, terserah kau saja kalau begitu."

Sepuluh menit kemudian Alexis dan Kenzo tertawa-tawa setelah menaiki wahana tadi.

"Papa, kenapa papa tidak bilang bahwa papa takut? Aku merasa bersalah sekarang." Kenzo menatap Ferdinand yang berjalan terhuyung dengan wajah polos.

"Huh? Kau senang sekarang karena berhasil mempermalukan papa?"

Kenzo dan Alexis kembali tertawa kemudian melakukan tos. Ferdinand menatap kedua nya dengan tajam. Alexis dan Kenzo ternyata gabungan yang buruk. Mereka menertawakan nya habis-habisan dari tadi. Ini pasti karena gadis itu yang membisikan sesuatu untuk mengejek nya pada anak nya.

"Oh kak Ferdi, maaf kan aku, tapi aku benar-benar tidak bisa melupakan wajah pucat mu. Itu terlihat sangat lucu, benar kan Kenzo?"

Kemudian mereka kembali tertawa.

Benar kan? Memang dia yang membuat Kenzo juga ikut menertawakan aku. Dasar gadis kecil nakal. Tunggu saja pembalasan ku.

"Oh, kalian sangat suka tertawa ya sepertinya? Kalau begitu rasa kan ini!" Laki-laki itu kemudian memeluk Alexis dari belakang dan menggelitiki pinggang nya.

Past and Present - Original storyStories to obsess over. Discover now