Maaf atas keterlambatan nya
Enjoy..
Alexis duduk ditaman dengan matanya yang terus menatap sekumpulan anak kecil yang sedang bermain di depan nya. Tanpa tersadar gadis itu tersenyum. Miris. Tidak pernah satu kali pun terbesit dalam pikiran nya bahwa dia akan berakhir dengan laki-laki lain. Bukan pria yang sampai sekarang masih dicintai nya, bahkan ketika dia tahu bahwa pria itu telah berkeluarga.
Dia gila. Dia sudah tahu itu.
Begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk dipikiran nya. Apakah kehidupan pernikahan nya nanti akan baik-baik saja? Apakah dia bisa bertahan dalam pernikahan yang bahkan tidak diinginkan nya? Apakah nanti dia akan memiliki anak bersama dengan Andrew? Dan yang paling penting, apakah dia pada akhirnya bisa mencintai Andrew dan melupakan Ferdinand sepenuhnya?
"Apa menurutmu anak-anak kita nanti akan semanis mereka?"
Alexis terkesiap saat mendengar suara yang tiba-tiba menariknya dari pikiran nya sendiri. Gadis itu lalu menoleh kesamping.
"Kau?!" Alexis merasa jantung nya berhenti berdetak saat tahu siapa yang duduk di sampingnya.
"Hei, maaf karena aku belum menghubungi mu sejak kau menolong ku. Dan aku juga ingin berterima kasih untuk itu." Ferdinand menatap Alexis dengan senyum yang terpaksa dan tatapan yang sendu.
"Tidak masalah," tatapan Alexis kembali pada anak-anak di hadapan nya. Mencoba mengabaikan pria di samping nya dan juga jantung nya yang secara mengejutkan masih bisa berdetak dengan cepat saat didekat pria ini.
Jantung sialan.
"Aku membayangkan kita duduk di halaman belakang rumah kita dan tengah memperhatikan anak-anak kita yang sedang bermain." Senyum tulus terbit di wajah Ferdinand. Pandangan nya menerawang jauh.
"Jangan bicara omong kosong. Kita sama-sama tahu itu tidak akan pernah terjadi."
Jantung Ferdinand seperti di ambil dari tubuhnya saat mendengar kata-kata Alexis yang diucapkan dengan nada datar.
"Aku akan mewujudkan nya. Aku berjanji untuk itu." Ada keseriusan dalam nada Ferdinand dan itu membuat Alexis tersenyum kecil.
"Jangan menjanjikan sesuatu yang tidak mungkin."
"Kenapa kau-"
"Karena kau telah menikah dan sebentar lagi aku pun begitu."
"Aku sedang dalam proses percerain! Berhenti bersikap seolah kau tidak menginginkan ku!" Ferdinand menatap tajam gadis di samping nya. Dia benar-benar tidak suka saat Alexis menyinggung masalah pernikahan gadis itu dengan Andrew. Tidak. Ferdinand tidak akan pernah membiarkan pernikahan itu terjadi.
"Aku memang sudah tidak menginginkan mu. Kau berbohong pada ku, aku tidak yakin kau akan jujur nanti nya."
"Maaf kan aku, aku benar-benar tidak bermaksud untuk membohongi mu. Aku mohon jangan seperti ini," tangan Ferdinand meraih bahu Alexis dan membuat gadis itu menghadap nya.
"Apa yang kau ingin kan? Kembali seperti dulu? Itu tidak mungkin,"
Hatinya sangat sakit saat Alexis berkata gadis itu tidak lagi mengingkan nya. Ditambah lagi dengan fakta yang diberikan bahwa dirinya dan Alexis tidak akan mungkin kembali seperti dulu.
"Aku akan membuat kita seperti dulu lagi Alexis. Kita akan hidup bersama. Kau, aku dan juga Kenzo. Dan sebelum itu terjadi, terserah kau mau melakukan apa. Aku tidak akan mengganggu mu."
Hanya untuk sekarang.
***
"Bagaimana dengan gaun ku? Apa sudah siap?"
"..."
"Ahh, begitu. Baik aku nanti akan kesana."
"..."
"Ya, ya, tentu saja. Aku akan datang dengan calon suami ku. Ya, terima kasih."
Alexis menutup sambungan teleponnya dan menghela napas pelan. Kata-kata Ferdinand masih terngiang di pikiran nya.
Kita akan hidup bersama. Kau, aku dan juga Kenzo.
Sekali lagi Alexis menghela napas nya. Kenyataan nya itu tidak mungkin. Mungkin nama Ferdinand memang tidak pernah ada dalam takdir hidupnya. Begitu pun sebaliknya. Tidak akan ada masa depan untuk mereka. Yang harus Alexis lakukan sekarang hanya lah melupakan nya dan mulai melihat orang benar-benar tulus mencintai nya. Maka dia akan terhindar dari sakit hati yang terus menerus dia rasakan.
"Hei, sister."
Alexis tersenyum simpul saat melihat wajah Alex dari cermin di depan nya.
"How are you?"
"Good,"
"I'm glad to hear that. Kau tahu bahwa aku akan melakukan yang terbaik untuk mu kan?" Alex memeluk pinggang Alexis dari belakang.
Lagi-lagi Alexis menghela napas pelan, seakan ada sesuatu yang menghimpit dada nya.
"Ya," Tidak mungkin aku mengecewakan mu dengan mengatakan bahwa aku masih ragu dengan pernikahan ini, kak.
"Aku sangat menyayangi mu,"
"Aku tahu," Alexis tersenyum dengan lembut lalu mengusap pelan lengan Alex.
"Bisa kah kau melepas kan ku? Aku tidak ingin ada yang masuk dan berpikir bahwa kita mengidap brother-sister complex."
"Dasar gila," Alex memukul pelan kepala Alexis, membuat gadis itu terkekeh pelan.
"Lalu bagaimana dengan wanita itu? Kau sudah menemui nya? Dia masih marah padamu? Pokoknya kau harus membawnya ke pernikahan ku, tidak ada alasan." Alexis melipat tangan nya di depan dada dan menatap Alex tajam.
"Entah lah Lexi. Sangat sulit untuk meyakinkan nya. Aku sudah kehabisan cara."
"Jadi kau mau kehilangan dia? Terserah kalau begitu, aku tidak akan ikut campur lagi. Tapi jangan harap kau bisa menghadiri pernikahan ku."
"Apa? Kau bercanda kan?"
"Tentu saja tidak,"
"Uhh, baik lah baik. Aku akan mencoba nya lagi. Oh omong-omong tadi ada orang yang mengantar kan paket untuk mu."
"Eh siapa?"
"Entah lah, tukang pengantar nya pun juga tak tahu. Aku menaruh nya di kamar ku. Akan ku ambil kan nanti, kau bisa melihatnya sendiri."
"Baiklah, terima kasih kak."
Alexis menatap punggung Alex yang berjalan keluar. Dahi nya mengernyit bingung.
Siapa kira-kira yang mengirimkan paket itu? Kak Andrew? Wanda? Tapi jika memang benar dari mereka, mereka tidak perlu mengirimkan nya melalui pesuruh kan?
Jadi siapa?
YOU ARE READING
Past and Present - Original story
RomanceLelucon macam apa ini, Tuhan? Kenapa setelah delapan tahun, Kau kembali mempertemukan kami? Kenapa disaat aku mulai melupakan dia? Dia masih sama, bahkan bertambah tampan. Dengan bahunya yang tegap dan dadanya yang bidang. Dia masih sama. Suka seka...
