***
"How do i look?"
Wanda memperhatikan teman nya dari atas ke bawah lalu kembali lagi ke atas. Teman nya itu memakai mini dress berwarna peach dengan aksen bunga-bunga kecil.
"Umm.."
Gadis itu menatap ke kanan dan ke kiri, mencari sesuatu. Kemudian tangan nya mengambil sebuah kalung dengan bandul yang tidak terlalu besar. Ia lalu memakaikan nya di leher jenjang Alexis.
"Now you look perfect. Lo tau? Lo itu beruntung punya temen fashion designer macam gue." Wanda menyeringai lebar dengan mata yang kembali memandangi Alexis.
"Ya ya, keep saying that, bitch." Alexis tertawa pelan kemudian mengambil tas selempang nya kemudian berjalan keluar kamar.
"Have fun, girl!" Wanda berteriak kencang sebelum Alexis menuruni tangga.
"Hai, you look.. awesome." Andrew menatap Alexis dengan kagum. Yeah, dia yakin dia tidak salah pilih.
"Thanks, should we go now?" Alexis berdiri dengan canggung di depan pintu rumahnya.
Sialan, kak Ferdi! Kenapa aku tidak blushing saat kak Andrew memuji ku? Sial sial sial.
Andrew tersenyum kemudian menarik tangan Alexis menuju Audi nya.
"Kita mau kemana?" Tanya Andrew pada gadis disamping nya.
"Nonton?"
"Tidak. Bukankah kita terlalu tua untuk itu?"
Alexis menghembuskan napas pelan sebelum membuang pandangan nya ke kaca pintu disampingnya.
"Terserah kak Andrew saja kalau begitu,"
Dia sangat berbeda dengan kak Ferdi. Kak Andrew terlalu kaku. Semakin dekat dengan tanggal pernikahan, semakin besar keraguan Alexis untuk menikah dengan kak Andrew.
"Kita akan makan di restoran ku."
"Kakak punya restoran?"
"Ya, hanya bisnis sampingan."
Andrew sangat sempurna. Baik, kaya dan tampan. Bahkan dia juga punya restoran. Padahal perusahaan arsitektur nya sudah sangat maju. Semua wanita pasti akan menyukai tipe laki-laki seperti ini. Tapi tidak bagi Alexis. Bagi Alexis, cinta nya adalah Ferdinand. Sudah banyak laki-laki yang mendekat, namun dia tetap bertahan pada Ferdinand.
Entah terlalu bodoh atau terlalu naif.
Empat puluh menit di dalam mobil hanya diisi oleh keheningan. Andrew bukan tipe orang yanh banyak bicara, begitu pula Alexis. Bisa dibayangkan akan seperti apa kehidupan pernikahan mereka nanti?
"Selamat datang pak Andrew, mari ikut saya." Seorang gadis muda menuntun Alexis dan Andrew ke meja untuk dua orang di sudut ruangan.
"Suasana yang menyenangkan,"
"Ya, tim ku yang merancang dekorasi nya."
"Ah, sudah ku duga." Alexis tersenyum menatap Andrew.
"Apa setelah ini kita bisa ke Starbucks?"
"Kenapa? Apa makanan disini tidak enak?"
"Tidak tidak, makanan disini sangat enak. Kau punya chef yang bagus, kak. Hanya saja, aku sudah lama tidak kesana. Aku ingin cake nya."
Andrew tersenyum menatap calon istri nya. Sangat manis.
"Yeah, tentu saja."
"Apakah anda sudah siap memesan, tuan?"
Seorang gadis cantik berdiri di samping meja Alexis dan Andrew. Perempuan mungil dengan rambut cokelat gelap dan bibir semerah kelopak mawar. Bahkan Alexis menatap kagum pada nya.
"Aku ingin black pepper steak dan red wine nya. Alexis?"
"Sama kan saja ya,"
"Baik tuan, nyonya. Mohon ditunggu sebentar."
Pelayan itu mengambil buku menu dan membungkuk sebentar kemudian berlalu pergi.
"Tidak kah dia terlalu cantik untuk seorang pelayan?"
"Yeah, Dave sangat pintar memilih karyawan." Andrew tersenyum lebar saat menatap gadis tadi.
"Siapa Dave?"
"Dia teman ku yang mengelola restoran ini. Teman ku itu menyukai gadis tadi. Josephine."
"Josephine? Nama yang indah."
***
"Papa, ayo. Aku kan harus cari kado untuk Lyla. Kenapa kita ke toko buku?"
"Iya, nanti kita cari kado setelah beli buku. Ada buku yang ingin papa beli, memang kamu tidak mau buku cerita baru?" Ferdinand mengenggam tangan mungil Kenzo untuk memasuki toko buku.
"Mau, mau! Kenzo mau buku superhero, papa! Kenzo kan mau jadi superhero nya mama." Kenzo tersenyum senang dan menarik-narik Ferdinand ke rak buku cerita.
Mereka sudah biasa ke toko buku ini. Bahkan pegawai nya pun sampai mengingat mereka. Toko ini memiliki koleksi buku yang lengkap, itu lah mengapa Ferdinand selalu kemari saat membutuhkan sebuah buku. Kenzo yang menyukai buku cerita pun jadi senang saat dibawa ke toko ini.
"Tentu saja, jagoan. Let's fine out the book. Tapi setelah itu kamu harus ikut papa cari buku untuk papa."
"Aye aye, captain!"
Ferdinand tertawa pelan kemudian mengacak puncak kepala Kenzo dengan sayang. Dia adalah hal terbaik yang pernah diberikan Tuhan. Saat kau telah menjalani kehidupan pernikahan, anak adalah hadiah terbaik dalam hidup kalian. Sesuatu yang sangat ditunggu dan diharapkan. Maka saat seorang anak hadir, kau pasti akan melakukan apapun untuknya. Termasuk merelakan nyawa mu sendiri.
"Kamu mau yang mana?" Ferdinan berjongkok untuk mensejajarkan tingginya dengan Kenzo.
"Umm.." tangan mungil Kenzo menyusuri buku-buku yang ada di rak. Dia kemudian mengambil sebuah buku dengan superhero yang sedang terbang di halaman depan nya.
"Ini!"
"Baiklah. Sekarang kita-" ucapan Ferdinand terhenti saat dia melihat seseorang yang dikenal nya berjalan memasuki toko buku.
Dia berjalan dengan seorang laki-laki dan sesekali berbicara dengan laki-laki itu. Ferdinand tersenyum saat mengingat siapa laki-laki itu. Jelas sekali terlihat bahwa dia menyukai perempuan yang berjalan di samping nya. Dari caranya memandang dan memperhatikan gadis itu dengan serius. Ya, dia jelas menyukai perempuan manis itu.
"Kenzo, ayo kita kesana. Papa ingin menemui seseorang."
YOU ARE READING
Past and Present - Original story
RomanceLelucon macam apa ini, Tuhan? Kenapa setelah delapan tahun, Kau kembali mempertemukan kami? Kenapa disaat aku mulai melupakan dia? Dia masih sama, bahkan bertambah tampan. Dengan bahunya yang tegap dan dadanya yang bidang. Dia masih sama. Suka seka...
