Bagian 7 : Baru dimulai

282 25 0
                                        



Satu bulan berlalu dengan cepat. Ulangan semester berhasil dilalui mereka berlima dengan mudah. Beberapa murid masih suka membicarakan kemana hilangnya Abigail, tapi pembicaraan itu berakhir tanpa penjelasan.

Kekuatan Hemma juga sudah lebih meningkat. Ia belajar lebih cepat, bermodalkan tekad demi menyelamatkan Abigail. Tidak ada yang bisa menandingi tekad dan kehendak. Selama sebulan terkahir, Hemma benar-benar berlatih keras. Bahkan kekuatan yang ia miliki sekarang sudah hampir setara dengan The Senses lainnya yang berlatih dari jauh-jauh hari. Anka berdecak kagum, juga Tyo. Sedangkan Mellta dan Aga lebih memilih bangga dalam diam.

Besok para The Senses akan memulai petualangannya. Mencari Abigail, pun mencari The King. Apa yang selama ini mereka pelajari akhirnya akan berguna esok hari. Kesiapan mereka sudah matang. Daya tahan tubuh pun sudah dapat disejajarkan dengan tentara terbaik yang ada di Dunia Bumi. Mereka harus kuat, bersatu, demi mengalahkan The King dan menyelamatkan dua dunia.

Tok! Tok! Tok!

Hemma yang sedang mengemasi beberapa barang untuk dibawa besok menoleh ke arah pintu yang diketuk.

"Ganggu?"

Hemma menggeleng, mempersilakan Mellta masuk. Ini sudah tengah malam, ada urusan apa Mellta sampai mendatangi kamarnya?

"Ada apa?" akhirnya Hemma bertanya. Ia menaruh ranselnya dan duduk di kasur, sedangkan Mellta memilih duduk di kursi meja belajar.

Beberapa saat sunyi, namun akhirnya Mellta angkat bicara. "Soal Abigail." Ia menghela napas sekali sebelum melanjutkan. "Mungkin yang lain nggak bilang apa-apa sama kamu, tapi aku nggak bisa diam saja. Aku sudah janji dengan diriku sendiri kalau di antara kita berlima nggak boleh ada rahasia. Seburuk apa pun rahasia itu, jika masih bersangkutan dengan The Senses atau The King, nggak boleh dirahasiakan sama sekali. Aku harap kamu bisa ngerti setelah aku jelasin ini. Karena kemungkinan terburuk pasti akan selalu datang buat kita." Lalu ketika Mellta hendak kembali melanjutkan perkataannya, Hemma terkekeh sedikit hingga membuat Mellta mengerutkan kening tidak mengerti.

"Aku tahu, Ta. Jauh sebelum kalian tahu."

"Eh?"

Hemma mengangguk lalu tersenyum kecil. "Aku sudah kenal Abigail lebih dulu dari kalian, jadi aku tahu apa yang selama ini kalian tutup-tutupi dari aku. Selama ini, kalian pasti berpikir kalau Abigail adalah The King, bukan?" Mellta diam tidak menjawab. Sepertinya ia sedikit bingung dengan situasi saat ini. Kenapa Hemma justru sudah tahu?

"Awalnya aku nggak tahu apa arti keraguanku dengan Abigail. Aku cuma bisa bertanya-tanya dalam hati. Banyak hal janggal yang aku temuin di diri Abigail. Tapi aku nggak berani nanya langsung. Ada sesuatu yang seolah ngelarang aku untuk nanya langsung. Makanya aku bersikap wajar-wajar aja supaya Abigail tnggak curiga.

"Aku ngasih tahu kekuatan The Senses yang kupunya ke dia pun bukan sekedar ngasih tahu tanpa pikir panjang. Nggak mungkin, kan, rahasia yang selama ini aku sembunyikan rela aku bagi ke orang yang bahkan belum genap seminggu aku kenal?"

"Tapi bukannya kamu suka dengan Abigail?"

Sekali lagi Hemma tersenyum, tapi kali ini lebih tepatnya tersenyum getir. "Ya, aku emang suka dengan Abigail. Bahkan saking sukanya aku sama dia, aku nggak rela kalau dia adalah The King. Tapi balik lagi ke tujuan The Senses yang sesungguhnya. Aku nggak bisa mengutamakan egoku, kan, demi keselamatan dua dunia?"

Mellta kembali terdiam, tertohok seketika. Perkataan Hemma benar sekali. Mereka tidak boleh mementingkan ego masing-masing. Ini bukan hanya tentang diri mereka sendiri, tapi ini tentang dua dunia yang terancam. Perkataan Hemma membuatnya berpikir, apa selama ini ia sudah egois terhadap Aga? Selama ini ia terlalu mengkhawatirkan keadaan Aga yang suka menghadapi anak buah The King seorang diri. Apa yang dilakukan Aga itu memang berbahaya, tapi itu semata-mata demi keselamatan mereka. Ia seharusnya tidak boleh seperti itu. Aga bukan manusia biasa yang akan kalah hanya dengan melawan anak buah The King.

"Kamu benar. Seharusnya kamu nggak boleh seegois itu, Ta. Aga bukan manusia biasa. Dia The Senses yang punya banyak kelebihan dibandingkan manusia lainnya. Khawatir mungkin boleh, itu wajar, tapi kekhawatiran kamu ngebuat Aga goyah. Kamu adalah kelemahan Aga, Ta. Seharusnya kamu sudah tahu itu karena kamu yang lebih kenal dia daripada aku." Hemma menepuk pundak Mellta. Ia mendengar semuanya. Mendengar semua isi hati Mellta. Mungkin sedikit lancang, tapi apa boleh buat?

"Besok lawan kita bukan lagi anak buah The King. Kemungkinan besar lawan kita besok memiliki kekuatan jauh di atas anak buah The King yang selama ini kita lawan. Jadi aku minta sama kamu, buang jauh-jauh egomu. Mungkin menurut kamu itu adalah hal yang baik, tapi nggak untuk yang lain. Apapun yang terjadi besok, kita harus berjuang bareng. Jangan pernah menjadi kelemahan bagi yang lain. Kita harus saling menguatkan, oke?"

*****

Keesokan harinya, tepat pukul 5 pagi semua The Senses sudah berkumpul di ruang tengah. Mereka tidak banyak membawa barang. Hanya satu ransel untuk setiap orang.

"Kalian siap?"

Mereka semua mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Tyo.

Tyo mengeluarkan sebuah bolpoin berbentuk aneh dari dalam sakunya. Ia mengetukkan bolpoin tersebut ke lantai rumah, dan seketika lubang dengan dasar tak terlihat menganga sedang. Semuanya terlihat kagum, hanya Aga yang masih dapat mengontrol ekspresi. Tapi tidak ada waktu untuk kagum dengan alat canggih ciptaan Tyo. Mereka semua harus fokus.

"Lubang ini bisa ngebawa kita ke Dark House. Nggak langsung ke sana sih. Tapi setidaknya bisa ngebuat kita sampai ke titik paling dekat untuk ke sana. Dark House dikelilingi hutan belantara. Tertutup sesuatu yang sulit ditembus. Tidak dapat dicari oleh manusia biasa. Tapi kita bukan manusia biasa, kan?"

Ketika tidak ada yang menjawab pertanyaan itu, Tyo melanjutkan.

"Alat ini belum seratus persen sempurna. Alat ini kemungkinan akan ngebuat kita mencar di hutan sana. Nggak ada yang tahu di mana kita akan muncul."

"Jangan ngelakuin hal bodoh kalau kalian masih sendiri. Hindari kontak fisik dengan apa pun. Baik hewan, tumbuhan yang terlihat aneh, atau bahkan anak buah The King. Jangan lakuin apapun. Tunggu kita berkumpul satu dengan yang lain baru kita buat strategi."

Semuanya mengangguk mengerti mendengar perintah Aga.

"Jangan ceroboh. Jaga diri kalian baik-baik selagi sendirian. Aku nggak pengen ada yang terluka di antara kita."

Tyo, Anka, dan Hemma memandang satu sama lain. Pesan itu memang untuk mereka semua. Tapi mereka bertiga tahu siapa yang dimaksud Aga untuk kata-kata terakhirnya. 'aku nggak pengen ada yang terluka....'

"Semua perlengkapan yang kalian butuhkan ada di masing-masing ransel. Sudah lengkap. Semuanya ada. Baju yang kita pakai juga bukan baju biasa. Baju, sepatu, dan semua barang yang ada di badan kita adalah barang-barang canggih ciptaanku untuk penunjang kehidupan kita di sana. Semoga kita bisa berkumpul secepatnya nanti," Tyo berucap menutup percakapan.

"Kita berangkat sekarang,"

Setelah Aga berkata seperti itu, ia langsung melompat menjadi yang pertama ke dalam lubang itu. Diikuti Anka,Hemma, Mellta, dan terakhir Tyo. Mereka masuk satu persatu menuju Dark House. Menuju tantangan baru. Menuju petualangan mereka untuk menyelamatkan dua dunia. Dan aku ingin memberi tahu kalian satu hal. Cerita ini sebenarnya baru saja dimulai...

* * * * *

TBC...

Jadi sebenarnya yg kalian baca selama ini masih prolog loohhh wkwk. JK ._.v

Kelanjutan cerita ini tergantung mood, ide, dan waktu yaa. Kalau semuanya dapet, updatenya pasti cepet.

Ohiya, semangat buat anak SMA/MA yang besok UN! Anak SMK mendoakanmu ㅋㅋㅋㅋ

Love, Alfina

100417

THE SENSESCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang