Rivan POV
Aku menaikkan sebelah alisku menatap lurus kepada sosok lelaku bertubuh sedikit lebih pendek dariku.
"jadi apa yang mau loe bicarakan ?" kataku akhirnya. Makanan di hadapan kami sudah habis dan tersisa 2 cangkir kopi ang sudah tak lagi panas, aku akin inilah waktu yang tepat untuk bicara.
"bukannya gue yang harusnya nanya ? ngapain lo kesini ?" balasnya tajam.
"apa itu pertanyaan ?" balasku tak kalah dingin. Heol, aku tak akan mengalah pada orang yang telah mencoba merebut Hamly dariku. Meski dia bilang dia dan hamly tidak ada hubungan khusus –kecuali kakak adik tanpa hubungan darah mungkin- instingku tetap saja memaksaku waswas padanya. "karena jawabannya sangat jelas. untuk Hamly"
Kulihat dia menghela nafas.
"kalau lu suk-"
"mencintainya" koreksiku cepat,
"yeah terserah, kalo loe cinta sama hamly kenapa loe nyakitin dia ? atau lebih tepatnya melepaskannya ?" ucapnya menatap lurus. Maka akupun menceritakan semuanya berdasarkan sudut pandangku sampai akhirnya dia menghela nafas lagi.
"huhhh, gue nggak tau mesti ngomong apa. Meskipun loe cemburu sama gue seharusnya loe nggak bereaksi seperti itu. Seharusnya loe lebih perjuangin dia. Oke gue akuin sejak awal gue nggak pernah suka sama hamly. Tujuan gue nggak lebih dari manas-manasin loe biar cepet nunjukin perasaan loe ke dia. Yah gak bisa di pungkiri kalau gue juga ambil peran disini." Katanya panjang lebar. Aku menjadi lega mengetahui bahwa dia tidak memiliki perasaan pada Hamly.
"sudahlah, aku tak peduli. Sekarang yang terpenting bagaimana gue dapetin dia lagi" kataku.
"well sepertinya tak akan semudah dulu" balasnya. Aku menaikkan alisku bingung. "hamly sudah punya pacar" mataku lansung melotot mendengarnya.
"siapa bajingan itu ?" kataku dingin.
"memangnya kau mau apa ?" tanyanya.
"menghajarnya mungkin agar meninggalkan hamly. Kalau tidak, um mungkin membunuhnya ?" ucapku membuatnya tersendat saat meminum kopinya.
"bagaimana kalau hamly mencintainya"
"aku tak peduli"
"bagaimana kalau hamly bahagia bersamanya ?"
"aku cukup yakin bisa lebih membahagiakannya"
"wah kau sangat keras kepala ucapnya" bersandar padaa kursinya.
"terimakasih, kuanggap itu pujian." Kataku lalu dia mengeluarkan handphone dan menunjukan foto hamly bersama seorang wanita.
"namanya Anya. Dia perempuan jadi-" dia menatapku sejenak sementara aku hanya memasang ekspresi dingin. "jangan bilang loe tetep mau ajar ini cewek ?" katanya shock, aku hanya mengangguk. Apa peduliku ? mau dia laki-laki atau perempuan, menyentuh hamly maka berarti mati. "dan hamly akan membencimu selamanya" Lanjutnya membuatku bungkam, ah itu tak terpikirkan olehku. Membayangkan hamly dengan orang lain membuat otakku hanya bisa membayangkan adegan kekerasan.
"ah itu tidak terpikirkan" kataku.
"sekarang gue yakin kalau otak loe emang koslet kalau sudah masalah hamly" katanya. "oke gue bakal bantu loe, bagaimanapun gue juga punaya andil disini. Tapi ada syaratnya." Katanya membuatku lagi-lagi menaikkan alis.
"apa?" kataku santai meminum kopi di hadapanku, aku harus sedikit rileks.
"bantu gue deket sama dena"
"Pftttttt" aku menyemburkan kopi kewajahnya, itu reaksi spontan.
"yak. Kau kenapa eoh ?" marahnya.
"loe yang sialan. Kalau loe suka sama dena kenapa nganggu hamly. Loe juga sama begonya kataku" kesal. Sepertinya memang mustahil berbicara dengan Edwin sialan tanpa menarik urat leherku.
"terserah. Bagaimana penawaran gue ?"
"tentu, dengan senang hati"
"jadi ini rencanya". Kata Edwin lalu menjelaskan banyak hal. Ku akui itu rencana yang sangat bagus, hanya saja aku tidak suka hal yang bertele-tele. "ngerti ? dan ingat kalau loe nyakitin Hamly lagi, saat itu gue akan datang bersama malaikat maut buat loe" katanya.
"woah gue takut" ucapku mengejek. Lalu kami membicarakan banyak hal yang tentunya terkait dengan keadaan hamly selama setahun ini.
***
"argghhh lelahnya." Keluh hamly entah pada siapa. Dia sedang merebahkan diri di kamar kostnya. Ia baru saja menemani Anya berjalan-jalan dan berkumpul bersama teman-teman arisnnya. Hamly rasanya ingin bunuh diri mendengarkan cerita mereka yang berisik dan tidak ada habisnya. Hanya saja ia tetap harus menjaga sikapnya sebagai 'seorang kekasih yang baik'.
TING
TING TING
TING TING TING
Suara bell berbunyi, hamly berpura-pura untuk tak mendengarkannya tapi bunyi bell itu makin lama makin parah.
"aishh tidak bisakah aku istirahat sebentar saja" ucapnya lalu bangkit untuk membuka pintu dan melihat siapa yang sedari tadi memencet bell kamar kostnya.
Ceklek
"ada ap-"
"HAMMLYYYYYYY" teriak seseorang. Hamly tak sempat melihat karena orang itu lansung saja menubruk hamly sampai terdorong kebelakang dan memeluk hamly sangat erat.
"de-Dena. Lo kok bisa disini" kata hamly yang akhirnya sadar siapa yang kini tengah memeluknya erat.
"hamly gue kangen banget sama elo, lo nggak kangen gue ? kok lo ninggalin gue ? nggak ngasih kabar apa-apa sama gue ? kok lo jahat banget hiks" ocehan Dena yang panjang lebar diakhiri dengan isakan.
Hamly tidak bodoh, ia tahu bahwa ia telah menyakiti sahabatnya itu. Ia bahkan merasakan bahunya basah, Dena menangis ?
"sorry den, banyak hal yang terjadi." Katanya pelan. Dena pun melepaskan pelukannya.
"lo salah paham hamly, semua yang lo pikir di SMS lo itu salah. Gue dan kak Ri-"
"Dena." Potong hamli cepat. "bisa nggak ngomongin dia nggak ? please lirih Hamly."
Dena menatap raut sedih hamly pada akhirnya mengangguk.
"oke tapi loe setidaknya harus tau gue nggak suka sama dia, dia nggak suka sama gue dan kita nggak ada hubungan apa-apa. " Katanya tegas. Hal itu membuat hamly bingung setengah mati, tapi ia tetap tak mau ambil pusing toh dia sudah bertekad untuk melupakan masalalunya.
"kita ke café depan sana yuk, gue juga kangen sama loe den" kata hamly menarik dena. Wanita itu hanya tersenyum penuh arti.
Ia mengetikan pesan kepada seseorang
Gue udah ketemu hamly, thanks win udah ketemuin gue sama sahabat gue. :*
KAMU SEDANG MEMBACA
Fade Out (BoyxBoy)
RastgeleBohong jika bisa berhenti mencintainya, tapi bukankah akan lebih buruk untuk bertahan saat tau hatinya bukan untukmu ? Aku akan menghilang... - Hamly Dia menghilang... Aku hancur, aku jatuh. Semua baru kusesali karena mendiamkannya. Sekarang di men...
