Hari pertama masuk sekolah, tahun ajaran baru, sekolah baru, teman-teman baru, semua serba baru. Langit berjalan menyusuri koridor seraya bersiul-siul. Langkahnya sedikit-sedikit terhenti, hanya sekadar untuk menghadap kaca jendela dan bercermin di sana. Tangannya langsung merogoh sisir kecil yang selalu ia bawa kemana pun pergi. Ia merapikan rambutnya dengan slow motion. Rambutnya yang sedikit panjang itu, sengaja ia rancung-rancungkan ke atas.
"Hey! Lo gak punya cermin di rumah apa?" teriak Juni, perempuan berambut keriting dan berkulit hitam manis itu tampak melipat kedua tangannya di depan dada. Ia menahan emosi. Merasa risih karena Langit yang bercermin di jendela, tepat di samping kursinya. Ingin sekali ia memberikan seribu sisir dan cermin pada Langit, supaya lelaki itu segera menjauhi jendela di sampingnya.
"Woles aja sis, gue ngacanya aja sama jendela kelas, kenapa jadi lo yang sewot sih?" Langit semakin memajukan wajahnya mendekati kaca jendela, tersenyum evil pada Juni. Bahkan, ia sempat memberikan kedipan matanya untuk perempuan yang sedang cemberut. Berniat untuk menggoda perempuan itu, namun tidak berhasil.
Langit malah semakin mendekatkan wajahnya dengan jendela. Bahkan, hampir menempel. Ia memperlihatkan wajah orientalnya. Wajah tampan yang sebentar lagi akan membuat dirinya dijuluki sebagai pria 'most wanted'. Hanya saja, Juni terlalu peduli. Perempuan itu malah mengalihkan pandangannya pada buku tulis yang masih kosong.
Detik berikutnya Langit berjalan lagi, lalu ia terhenti di sebuah pintu bertuliskan 'X IPA 7' cepat-cepat ia masuk. Ternyata ini ruangan yang dicari-carinya tadi. Langit menyapu pandangan ke seluruh penjuru kelas. Ternyata yang mengomel tadi sekelas dengannya.
***
Langit berdiri di depan kelas, ia menekuk sebelah kakinya seraya memasukkan kedua tangan di saku celana. Ia mengusap pelan rambutnya ke belakang dan sedikit mengacungkannya ke atas. Lalu membenarkan kerah baju seragamnya. Ia berdiri tegap, layaknya seorang pramugara yang sedang memberikan instruksi pada penumpang.
"Ehm ... ehm ... kenalin, gue Langit. Kalian boleh panggil gue Langit, atau Agit, atau apa pun terserah kalian. Yang penting jangan panggil gue Lala, karena kalau gue dipanggil Lala, gue bakalan di marahin sama Tingky Wingky, Dipsi, sama si Po. Satu hal lagi, kenapa gue nggak mau dipanggil Lala, karena menurut gue nama Lala terlalu imut buat wajah gue yang baby face ini."
"HUUU ...!"
"Tenang-tenang, kalian nggak usah iri sama gue."
"Langit! Cepetan lo perkenalannya, jangan banyak bacot. Nanti gue lempar pake botol minum gue nih. Cepetan lo kasih tahu tempat tinggal lo, yang lain juga pada pengen perkenalan kali." Rio─lelaki yang baru menjabar ketua murid beberapa menit yang lalu itu berteriak, tangannya sudah mengambil ancang-ancang untuk melempari Langit dengan botol minuman.
"Sabar bro, bentar lagi gue juga selesai. Oke langsung aja, tempat tinggal gue di rumah. Gue tinggal bareng bonyok. Gue juga menetap di bumi dan nggak punya niat buat pindah ke planet Mars apalagi ke Pluto. Karena menurut gue, hidup di bumi itu menyenangkan. Nggak kaya di planet-planet lain. Udah cuman itu aja, nanti kalau mau tanya-tanya tentang gue bisa di backstreet aja."
"Iya, gue mau kok backstreet sama lo!" teriak Mela dengan wajah centilnya. Ia tersenyum sok manja, membuat Langit harus mengedikkan bahunya.
"Huuu...!"
"Si somplak dan si centil sama-sama gila," guman Juni. Namun ternyata, gumamannya bisa terdengar oleh semua penghuni di kelasnya.
Langit berjalan di samping Juni, "Apa lo Jun? Iri ya sama gue?"
"Ih apaan sih? Dasar somplak!" Juni cepat-cepat mengedikkan bahunya sambil menatap sinis ke arah Langit.

KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Terlalu Pagi
Spiritual"Gue Langit, anak kelas sepuluh ipa tujuh." Langit mengulurkan tangan, bibirnya melengkung bak bulat sabit sempurna. Matanya sedikit berbinar, "lo siapa?" Perempuan itu tak menyambut uluran tangan langit, ia menyatukan kedua telapak tangannya di dep...