"Fath lo dipanggil sama Bu Tina tuh. Katanya lo abis buat onar di sekolah ini." Wina berdiri tepat di depan Fathiya yang sedang membaca. Wina bertubuh tinggi, ia memang anak basket di sekolahnya. Mempunyai wajah sedikit garang dan omongan yang ceplas-ceplos. Tak salah kalau teman-teman di kelas mengandidatkan dirinya sebagai ketua murid. Meski di kelasnya masih banyak lelaki.
Fathiya segera mendongak, gadis berkerudung lebar itu tidak mengerti dengan maksud perkataan Wina. "Kamu salah kali, aku nggak buat onar. Dari tadi aku ada di kelas."
"Ya mana gue tahu. Tadi Bu Tina bener-bener manggil lo buat ke ruang BK. Udah deh, lo samperin dulu sana! Nanti kalau lo nggak dateng, dikira gue nggak nyampein pesannya ke lo."
"Ya sudah kalau begitu. Makasih ya Win." Fathiya menutup bukunya lalu berdiri. Ia berjalan keluar menuju ruang BK. Meskipun ia merasa tidak membuat onar, setidaknya ia harus bertemu dengan Bu Tina terlebih dulu. Mungkin ada hal lain yang ingin disampaikan Bu Tina pada Fathiya.
***
"Assalamualaikum ...." Fathiya segera masuk ke BK.
Ruang BK memang selalu menjadi ruangan yang laris dikunjungi oleh siswa-siswi. Bukan hanya orang-orang yang berbuat onar saja yang datang ke sini. Ada pula siswa-siswi yang datang kemari hanya untuk bercurhat-ria. Apalagi tahun ajaran baru seperti ini, biasanya BK selalu dipenuhi oleh siswa-siswi kelas sepuluh yang merasa tidak cocok dengan jurusan. Ada juga siswa-siswi kelas sepuluh yang ingin pindah kelas karena merasa tidak betah di kelas barunya. Maklumlah, mereka masih labil.
"Waalaikumsalam... eh ada apa Fathiya? Tumben datang kemari?" Bu Tina tampak terkejut melihat kedatangan Fathiya. Bu Tina yang sedari tadi sedang menuliskan sesuatu, kini menghentikan aktivitasnya.
"Bukankah Ibu tadi memanggil saya?"
"Loh siapa yang bilang?"
"Tadi kata Wina, katanya Ibu memanggil saya."
"Bukan Fathiya bukan kamu. Sepertinya Wina salah faham. Ibu menyuruh Wina untuk memanggil Langit."
"Nama saya kan Langit Fathiya Muchtar, Bu."
"Tapi bukan kamu yang Ibu panggil, Ibu menyuruh Langit kelas sepuluh ipa tujuh. Bukan kamu, sebelas ipa tujuh."
Fathiya tampak mengangguk-angguk pelan. Sekarang ia mengerti.
"Kalau begitu, Fathiya. Ibu boleh minta kamu buat memanggil Langit ke sini?"
"Tentu saja Bu, saya akan memanggilnya sekarang."
***
Fathiya tahu betul letak kelas sepuluh ipa tujuh, karena itu merupakan kelas yang pernah ia tempati dulu. Ia mengetuk pintu pelan, tidak berani membuka pintu sebelum ada yang membukanya dari dalam.
"Cari siapa ya?" tanya Juni, ia lalu tersentak saat melihat Fathiya yang ada di hadapannya.
"Juni ... ternyata kamu di sini juga? Kakak kira kamu tidak jadi sekolah di sini." Fathiya lalu tersenyum dan berbicara dengan antusias.
"Iya nih Kak, aku juga awalnya nggak mau sekolah di sini. Tapi, gimana lagi, udah nanggung, udah daftar, udah keterima, kan sayang kalau harus dilepas gitu aja."
"Haha ... iya Jun, kamu benar. Oh ya, Jun di kelas ada Langit nggak?"
"Langit? Oh si somplak itu? Ada kak, bentar ya, aku panggilin." Juni lantas meninggalkan Fathiya, "Langit! Ada yang nyari tuh."
Langit yang sedari tadi sedang memainkan game 'get rich', kini mengalihkan pandangannya pada Juni. "Siapa Jun? Cewek atau cowok?"
"Cewek!"
"Cakep gak?"
"Ganteng! Ya cantiklah, namanya juga cewek."
"Oke deh. Makasih Manis," ucap Langit segera beranjak sambil menatap manja pada Juni.
Ya ampun, cowok itu. Bener-bener somplak!
Langit berjalan keluar dan mendapati Fathiya yang sedang berdiri, "Hai cewek! Ada apa nih? Manggil-manggil gue? Mau kenalan ya?" Langit bergaya so cool seraya memasukkan kedua tangannya ke saku celana.
Fathiya sedikit bergidik mendengar perkataan Langit. Namun ia tidak terlalu mempedulikannya, "Kamu dipanggil sama Bu Tina. Kamu harus menemui beliau, sekarang."
"Bu Tina? Siapa Bu Tina?"
"Beliau guru BK di sekolah ini. Kamu tinggal menemuinya di ruang BK." Fathiya hendak meninggalkan Langit, namun langkahnya terhenti saat tangan lelaki itu menahan pergelangan tangannya. Hal itu sontak membuat Fathiya melotot.
"Anterin gue ke BK dong, gue nggak tahu ruangannya ada di mana. Tadi aja pas gue nyari ruang kelas harus muter-muter dulu. Boleh ya boleh?"
"Boleh, tapi mohon. Lepaskan tangannya!" Fathiya sedikit menaikan volumenya saat mengucapkan dua kata terakhirnya.
"Oh, oke-oke." Langit segera melepaskan tangannya dan mengacungkannya ke udara, "gue nggak bermaksud buat pegang-pegang lo.
Tanpa menjawab, Fathiya segera berjalan. Mengomando Langit untuk mengikuti sampai ke ruang BK.

KAMU SEDANG MEMBACA
Langit Terlalu Pagi
Spiritüel"Gue Langit, anak kelas sepuluh ipa tujuh." Langit mengulurkan tangan, bibirnya melengkung bak bulat sabit sempurna. Matanya sedikit berbinar, "lo siapa?" Perempuan itu tak menyambut uluran tangan langit, ia menyatukan kedua telapak tangannya di dep...