Chapter 6 _ Hidden Memory

4.3K 461 14
                                        

Yeri POV

Pagi ini aku membuka mata dengan helaan nafas lelah. Entah mengapa akhir-akhir ini mimpi itu kembali muncul. Saat di mana sosok bayangan hitam yang selalu muncul itu tak lagi memberiku punggung. Melainkan dada bidang yang berdiri terlalu dekat dengan penglihatanku.

Jika di ingat lagi, aku sering memimpikan scene itu. Meski begitu aku masih tak bisa menebak seperti apa rupa wajah sosok hitam tinggi tegap itu. Yang jelas, dilihat dari postur tubuhnya, dia adalah seorang lelaki bertubuh proporsional.

Dan entah bagaimana, aku bisa sangat yakin jika mimpiku tentang sosok itu bukan hanya mimpi biasa. Melainkan ingatan yang hilang dari memori otakku di masa lalu. Dan seandainya itu benar, sosok itu pastilah berarti untukku hingga selalu hadir dalam setiap mimpiku.

Aku mengusap pelan wajah kusut khas bangun tidur. Melirik sekilas jam kecil berbentuk kepala beruang di meja nakas samping ranjangku. Pukul 6.12 a.m. Dan rasanya sangat malas jika mengingat ini adalah hari senin. Bukan hari senin, alasan yang menjadi sangat menyebalkan seperti kebanyakan orang. Aku karyawan baru yang masih sangat bersemangat untuk bekerja, dan itu memang hal menyenangkan bagiku karena aku sangat menykai pekerjaan ini. Hanya saja, hari bekerja menjadi sangat menakutkan bagiku sekarang.

Ini bukan masalah pekerjaanku yang terlalu berat atau senior di kantor yang menyebalkan. Memang ada beberapa orang kantor yang selalu menatapku sinis. Namun itu tak menjadi masalah karena sejauh ini partner satu divisiku sangan terbuka dengan orang baru. Tapi masalahnya ada pada CEO kami yang mengerikan.

Bukan aku tidak menyadari, sikap yang ditunjukkannya terlalu jelas untuk tidak dimengerti. Jujur, dia pria yang baik dan juga menyenangkan – sejauh yang aku rasakan. Dan jangan lupakan wajahnya yang tampan. Tapi, terkadang aku merasa risih dengan sikapnya yang terlalu terbuka dalam menunjukkan perasaannya. Bahkan sering kali melupakan keadaan sekitar, dan itu sungguh memalukan.

Seperti beberapa waktu lalu misalnya. Di depan pegawai lain, dia terang-terangan mengajakku makan malam. Tentu saja hal itu membawa pandangan aneh dari para pegawai. Memang siapa yang tidak heran jika melihat perubahan yang sangat drasti dari orang itu. Menurut info yang ku dapat,

Pertama! Dia tipe orang penyendiri dan menyukai ketenangan. Selalu marah jika merasa tak nyaman dengan kebisingan.

Dua! Dia terlalu emosional. Setiap masalah kecil selalu berakibat fatal bagi si pembuat kesalahan.

Tiga! Dia tidak menyukai wanita. Bukan berarti 'gay' tapi mereka bilang pria itu tak pernah terlihat tertarik pada wanita. Dan tidak akan mau berurusan dengan makhluk bernama wanita.

Jika semua itu benar, bukankah ini sangat mengejutkan?!. Beberapa pegawai wanita pernah menggosipkan jika CEO itu sedingin es, aura kelam yang menakutkan, lirikan tajam yang membuat gemetar, dan ucapan tidak manusiawi setiap merasa kesal, serta wajah datar tanpa senyum tulus atau bahkan senyum formalitas.

Lalu apa yang ia tunjukkan padaku selama ini?. Dia terlihat seperti pria normal lainnya ketika tengah melancarkan aksi pendekatan pada seorang wanita. Tidak ada wajah datar seperti yang mereka katakan, bahkan pria itu selalu memasang senyum hangat bagaimanapun kondisinya. Aku juga tidak merasakan aura kelam yang mengerikan darinya, meski sebenarnya memang sedikit menakutkan setiap berada di sampingnya. Dan itu bukan karena aura dinginnya, tapi karena sikapnya yang kelewat manis.

Aku bangkin dari tempat tidur dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri. Udara musim dingin semakin terasa beku, terlebih di pagi hari. Biasanya, kebanyakan orang akan bermusuhan dengan air saat seperti ini. Mandi adalah pilihan terakhir yang akan mereka ambil sebelum beraktifitas. Cukup dengan cuci muka, gosok gigi dan parfume serta bedak juga lipstic.

ETERNAL (2) || √Cerita yang bikin terobses. Temukan sekarang