' Waktu mengubah segalanya. Termasuk rasa yang terkikis oleh keadaan '
Bagi seorang Jeon Jungkook yang pekerja keras, waktu sangatlah berharga. Sejak memasuki dunia bisnis, Jungkook tak pernah sedikitpun bermain dengan waktu. Dua belas jam perhari ia gunakan untuk berkutat dengan berbagai berkas perusahaan. Beberapa jam merenungi kisah masa lalunya dan sisanya digunakannya untuk tidur.
Jungkook sangat menghargai waktu. Karena itulah ia tak menyukai keterlambatan. Pekerjanya di tuntut untuk sempurna tanpa cacat, sama halnya dengan waktu istirahat. Lelaki itu tidak memiliki toleran keterlambatan setelah jam makan siang, tentu di luar kegiatan kantor.
Tapi kali ini, lelaki itu seakan tak perduli. Dia tahu waktu istirahat telah berakhir sejak dua jam yang lalu. Tapi yang ia lakukan saat ini hanya terdiam di dalam kamarnya. Dengan seorang gadis yang terlelap dalam pelukannya. Kim Yerim! Kekasih yang tak memiliki ingatan tentang mereka.
" Maaf membuatmu tertekan " Lirih lelaki itu, mengusap lembut kepala gadisnya. " Aku hanya semakin sulit mengendalikan diri. Aku ingin segera memelukmu tanpa perduli kau ingat atau tidak padaku "
Tadi, setelah kalimat terakhir yang dia lontarkan pada sang gadis. Yeri masih baik-baik saja hingga beberapa menit berikutnya. Namun semakin lama, lengan Jungkook yang melingkar di pinggang sang gadis terasa lebih berat. Lelaki itu mengintip raut gadisnya, dan mencelos saat mendapati wajah itu memucat tampak menahan sakit. Dan detik berikutnya, gadisnya tak sadarkan diri.
Jungkook yang panik segera mengangkat tubuh gadis itu dan membaringkannya di ranjang. Mengambil ponselnya untuk menghubungi dokter keluarganya agar segera datang. Dia sempat menyesal karena terlalu gegabah menunjukkan masa lalunya pada Yeri. Tapi, setelah dokter mengatakan gadis itu baik-baik saja dan wajar terjadi dalam proses mengingat. Lelaki itu memutuskan akan melanjutkan.
Tangannya masih setia mengusap lembut kepala sang gadis. Bergumam sesuatu tentang apa yang akan ia lakukan setelah gadis dalam dekapannya sadar. Mengucapkan pelan janji-janji yang sejak dulu ingin ia sampaikan. Dan memberikan kecupan-kecupan ringat di setiap inci wajah gadisnya.
" Bangunlah! " Ucapnya pelan.
Seakan mendengar apa yang Jungkook pinta, kedua mata itu mengerjap. Melenguh pelan dan dengan perlahan kelopak itu terbuka. Sorot bingung itu langsung bisa Jungkook tangkap dari sang gadis. Lelaki itu tersenyum lembut dan berujar pelan.
" Sudah bangun?! "
Yeri mengerjap beberapa kali sebelum membelalak kaget dan reflek mendorong dada bidang Jungkook, bermaksud menjauhkan tubuh mereka. Namun tentu, lelaki itu menahannya dengan mempererat kuncian tangannya di pinggang sang gadis.
" Tenanglah sayang! "
Yeri kembali membulatkan matanya. Sejujurnya, gadis itu sedang ketakutan dengan keadaan yang tengah terjadi saat ini. Terlebih sikap aneh atasannya yang dengan santai menyebutkan kata 'sayang' untuknya. Dia menunduk, sebisa mungkin menyembunyikan wajahnya dari Jungkook. Entah kenapa gadis itu juga merasa malu tanpa alasan yang jelas.
" Hey! " Panggil Jungkook. Meraih dagu gadisnya dan membawa tatapan mereka untuk bertemu. " Maaf jika aku egois, Yeri! Tapi aku tidak akan berpura-pura lagi seperti tidak ada apapun di antara kita " Ucapnya pelan namun terdengar sangat tegas. " Kita memiliki masa lalu, dan sampai detik ini tidak ada kata berakhir di antara kita. Aku tahu kau bahkan tak mengingatku sama sekali, tapi bisakah kau percaya padaku? "
Yeri hanya diam, bingung dengan apa yang harus ia katakan. Jantungnya tak lagi berdetak dengan normal, terasa sedikit sakit karena berdetak terlalu keras dan cepat. Pandangan mereka masih terkunci satu sama lain hingga detik berlalu menghantarkan menit. Perlahan Jungkook mendekatkan wajahnya dan mengecup lembut kening Yeri yang lagi-lagi hanya bisa mematung.
KAMU SEDANG MEMBACA
ETERNAL (2) || √
Fanfiction[ COMPLETE ] Read first 'Tomorrow Will Surely Come' - then enjoy this story!! . . No matter how many times this season comes around I swear that my love won't change Waktu tidak pernah mempermainkanmu! Dia ( sang waktu ) hanya sedang mengujimu. Senj...
