Chapter 1

1.7K 145 6
                                        

Melody pov

Shit.

Dihari pertama aku sekolah, Sudah terlambat. Ini semua karena Raffi. Ya! Karena Raffi, Semalam Anak itu memintaku menemani nya bermain Playatation hingga jam 10 malam aku baru bisa pulang ke rumah! Dan sekarang, Aku sedang mendengar ceramah kakak osis.

"Heh! Dengar yang gue ngomong tidak?!" Ucap salah satu Osis cewek kepada ku, Yang aku tau nama nya itu Nisa. Aku menyipitkan mata, Menatapnya. "Apaan lo?! Liat gue begitu, Mau Nyolot?!"

Aku hanya memutar Bola mataku.

"Eh, Gak sopan! Lo baru aja putar mata lo? Hukuman lo, Jalan jongkok dari sini sampai si Justine si Ketua osis, Disana lihat?"

Double shit.

Jarak Tempat aku berdiri dengan Ketua osis yang di tunjuk Nisa. Aku mendengus malas, namun tetap berjalan jongkok, Jarak nya sekitar 5meter. Sial. Benar-benar sial.

Akhirnya aku mulai berjalan jogkok mnuju ketua osis sekolah ku. Justine. Saat sudah dekat kearah Justine, Si ketua osis itu akan mengerti aku berjalan mendekat kearah nya, Dia malah menjauh.

Triple shit.

Dia megerjaiku. Akhirnya aku berhenti dihadapannya.

"Terlambat, huh?"

"Iya kak." Ucap ku pelan. Capek, Tentu saja!

"Oke. Silahkan masuk kedalam kelas yang sudah dibagikan."

Aku menganguk lalu berpamitan.

--

"Dihukum, Huh?" Tanya Raffi dengan nada seakan mengejek. "Terlambat? Hahahaha, mohon bersabar ini ujian.."

Aku mencebikkan bibirku kesal. Apa raffi tak tau bahwa aku terlambat karena nya?

Aku memilih Diam, dan tentu sjaa Raffi lansung tertawa. Sekarang kami sedang berada di Rumahku, Menunggu makan malam jadi. Yah, Raffi terbiasa makan Malam dirumah ku saat kedua orang tua nya keluar kota mengharuskan Ia tinggal sendiri di rumah.

"Sudah-sudah, Sana ke meja makan. Bantu ibu siapin makan malam." Lerai Ayahku. Aku dengan malas berjalan menuju dapur bersama Raffi yang menggandengku, Tentu saja dengan cengiran diwajah nya.

"Gimana sekolah nya?" Tanya ibuku saat kami baru selesai makan malam.

"Buruk."

"Baik."

Aku mendengus saat Raffi berbicara tepat ketika aku berbicara juga.

"Dihukum ya tadi pagi? Kamu sih, Main nya sampai tengah malam.. untung kemarin Ayah belum kunci pintu." Omel Ibu, Aku memasang wajah sebal.

"Trus Raffi, kamu mau tidur di rumah atau disini saja?" Tanya Ibu pada Raffi.

"Di rumah aja. Kan, Mama pulang besok siang.. Mama berangkat cuma mantau pembangunan Salon dan butik mama di Makassar."

Ibu hanya menangangguk. Kami lansung merapikan piring-piring kotor, Setelah itu aku mengantar Raffi sampai depan rumah saja. Toh, Rumah nya tepat disamping rumah ku.

"Gue pulang dulu, Besok kita ke sekolah nya bareng ya!"

Aku mengangguk. Demi tuhan, Mood ku masih begitu turun. Seperti nya aku butuh ice cream Vanilla untuk mengembalikan Mood ku.

"Maaf."

"For what?" Aku menatap bingung kearah Raffi.

"To..day?" Aku mengernyit lalu mengangguk paham. "Udah dimaafin belum nih?"

"Udah." Hening, "Yaudah, sudah malam nih. Balik ke rumah lo sana."

"Usir?"

"Iya!"

Raffi terkekeh, Tangan kanan nyaa terulur mengacak lembut rambut ku.

"Nite girl, Nice dream."

"Hm, you too."

--

"Lo serius?"

Aku terkejut. Saat mendengar kabar bahwa Raffi ingin pinda ke kelas IPS. Ilham, papa nya meminta nya untuk pindah kelas agar kelak bisa meneruskan bisnis keluarga.

"Iya. Jadi, mungkin minggu depan kita udah gak sekelas lagi.."

Aku terdiam. Selama ini, Aku sudah terbiasa sekelas bersama Raffi. Duduk sebangku dengan nya, dan terus menerus menerima semua kejahilan cowok itu. Tapi, saat mendengar Ia bakal pindah kelas seakan ada batu yang menghantam dada ini, Sakit.

"Yaudah deh, Kemauan bokap lo dari pada pindah sekolah?"

"Emang kalau pindah sekolah kenapa?" Tanya Raffi.

Aku meminum jus jeruk yang dipesan Raffi. Lalu menggeleng pelan, "Gak kenapa-kenapa sih."

"Yaudah, Nanti gue di X-IPS4."

Aku hanya mengangguk. Tidak bisa berbuat apa-apa, Hanya bisa diam.

■■

Semoga kalian suka sama cerita ini.
Jangan lupa buat Vote dan Komen, dan Follow karena cerita ini akan Aku Private.

Makasih.

Stay ✔️Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang