9

4 0 0
                                        

"Langit dan bumi itu berjauhan, pantaskan diri saja"

*******

"Kamu kangen Ayah kamu Chik?" Chika segera meletakan foto keluarga yang ia genggam pada meja disampingnya. Mulai mengalihkan tatapannya pada Kharis

"Waktu malem Ayah hubungin Chika bun, tapi gak Chika jawab. Malem banget habisnya"

"Chika janji 'kan bakalan terus ada disamping bunda?" Chika mengangguk

"Chika boleh kangen sama Ayah, boleh ketemu juga. Bunda gaakan larang. Tapi Chika harus tahu, kalau rumah Chika itu disini sama bunda"

"Emangnya Ayah sekarang dimana bun?"

"Sama keluarganyalah Chik, Ohiya Chik waktu bunda kerumah Oma, ada mamahnya Nata juga lho"

"Ngapain bun?"

"Diundang tante kamu, dia cerita banyak soal Nata sama bunda. Disana Nata dapet peringkat juga, dia punya banyak temen disana, udah lama ya kita gaketemu Nata"

"Iya bun"

"Dulu bunda inget banget, Nata nangis-nangis sama mamahnya buat tolongin kamu yang lagi main hujan-hujannan ditaman komplek, baju kamu kotor semua. Nata pengen tolongin kamu, tapi dia gasuka kotor. Jadi deh dia ngerengek sama mamahnya buat tolongin kamu. Padahal kamu kesenengan banget waktu itu" Chika tertawa mendengar cerita Kharis saat ia dan Nata masih kecil dulu.

******

"Lupain Chika A, dia adik kamu" Sakha menundukan kepalanya, berhadapan dengan Ibu dan Ayahnya saat ini, Sakha paham bahwa ia harus segera menyelesaikan masalah ini

"Sakha bakalan berusaha Yah"

"Wajib itu A, akhiri hubungan kalian. Sebelum semuanya semakin jauh"

"Ini semua pasti salah ayah A, seharusnya ayah memperkenalkan kalian saat kalian kecil dulu" lanjut Ayahnya -Danu-

"Ini semua takdir Yah, mungkin jalannya memang seperti ini. Sakha dan Chika memang harus dipertemukan bukan dipersatukan" Danu mengusap punggung Sakha sambil tersenyum tipis

"Ayah bangga sama kamu A"

"Tuntutan ini Yah, mana mungkin secepat itu Sakha lupain Chika.....

*******

"Kha kamu kenapa sih diem aja? Kamu dengerin aku cerita 'kan?" Chika memandang wajah Sakha

"Ada yang pengen aku omongin sama kamu Chik"

"Kamu tuh ya, biasanya juga tinggal ngomong gausah pake bilang-bilang segala. Mau ngomong apa sih Kha?" Chika menyenderkan kepalanya dibahu Sakha.

Sakha memantapkan hatinya untuk mengakhiri semua ini. Ini salah, mereka tidak bisa terus-terusan seperti ini. Kalau Chika yang tidak mengerti maka Sakha yang harus mengerti, sebagai seorang kakak.

"Aku mau kita putus" Dan kata-kata itu mampu mebuat Chika membelalakan matanya

"Kamu gausah bercanda deh Kha"

Heart In YouCerita yang bikin terobses. Temukan sekarang