M a s a K e c i l I

411 34 9
                                    

20 tahun yang lalu.

Kala itu, Ryosuke yang berumur 4 tahun bermain-main di taman bermain dekat rumah ditemani mamanya. Saat itu, taman bermain sedang sepi-sepinya, jadi hanya ada Ryosuke kecil yang bermain-main. Ryosuke dengan bahagianya berlari-larian dan mencoba permainan yang ada satu persatu, seakan-akan taman bermain itu hanyalah miliknya seorang. Akan tetapi hal itu tidak berlangsung lama, karena 15 menit kemudian, salah satu tetangganya datang membawa anaknya pula.

"Eh, Mbak Yamada, lagi momong juga?" dengan ramah, tetangga itu menyapa mamanya Ryosuke.

"Inggih, Mbak Chinen. Ryosuke dari tadi rewel terus di rumah, minta jalan-jalan..." Mama Yamada menjawab sapaan tetangganya dengan ramah pula. Mama Yamada kemudian menoleh ke bawah dan melihat tetangganya menggandeng anak kecil.

"Ehh... Dek Yuri sekarang udah besar yaa... Dek Yuri umur berapa sekarang?" tanya Mama Yamada.

"Tiga!" Jawab Dek Yuri dengan semangat, sambil menunjukkan empat jarinya kepada Mama Yamada.

"Eh, Dek. Tangannya salah tuh," Ujar Mama Chinen yang lalu membetulkan jari Dek Yuri. Sementara itu, dari kejauhan, Ryosuke yang melihat Dek Yuri langsung berteriak kencang.

"Dek Yuriiiiiiii ayo dolaaaaaaaan!!!" Ajak Ryosuke kepada Dek Yuri yang beda umurnya hanya terlampau 6 bulan.

"Tuh Dek, diajak main sama Mas Ryo," Mama Chinen pun menyuruh anaknya untuk menghampiri Ryosuke dan mengajaknya bermain bersama, agar mama-mama muda dapat bersantai di bangku taman sambil mengawasi anak-anaknya.

"Mas Ryo, ngapain?" Tanya si Chinen Jr.

"Aku punya tamiya baru lo!" Ryosuke dengan bangganya memamerkan tamiyanya yang baru saja dibelikan papanya seminggu yang lalu, sebagai hadiah ulang tahunnya yang ke empat.

"Waaah... kereeen..." dengan mata berbinar-binar, Dek Yuri memuji mainan baru Ryosuke.

"Ayo main di trek-trekan sana!" Ajak Ryosuke yang lalu menarik tangan Dek Yuri menuju sirkuit khusus untuk bermain tamiya.

"Deloken yo, ini tamiyanya cepet banget lo," ujar Ryosuke. Ia menyalakan tamiyanya, dan langsung meletakkannya di jalur sirkuit. Begitu diletakkan, tamiya itu pun langsung melesat dengan cepat.

"Waaaaaah!!! Keren banget!!!!" Dek Yuri bertepuk tangan dengan semangat, terpukau dengan kecepatan tamiya Ryosuke. Namun sayang sekali, tak lama kemudian, keterpukauan Dek Yuri berubah menjadi perasaan kaget, karena tiba-tiba saja tamiya yang melaju terlalu cepat itu keluar dari lintasan, dan secepat kilat terlempar mengenai kepala Ryosuke.

Tak!

Suara tamiya yang berbenturan dengan jidat Ryosuke terdengar sangat keras, dan Ryosuke langsung jatuh terduduk saking kerasnya benturan itu terjadi.

"Mas Ryoooo!!!" Dengan segera, Dek Yuri mendekati Ryosuke dan berjongkok untuk melihat keadaan Ryosuke. Dek Yuri melihat Ryosuke memegangi jidatnya, dan kedua matanya sudah siap untuk menumpahkan air mata.

"Huweeeeeeeeeee!!!! Sakeeeeeeeet!!!! Aaaaaaaaaa!!!" Hanya selang beberapa detik, Ryosuke pun menangis sekeras-kerasnya, hingga terdengar oleh para mama muda yang sedang asyik ngerumpi.

Mendengar tangisan Ryosuke, para mama muda itu pun gelagapan dan langsung berlari menuju ke tempat anak-anaknya bermain. Namun, begitu Mama Yamada dan Mama Chinen datang untuk melihat apa yang sedang terjadi, mereka malah dikejutkan dengan pemandangan yang ada di depan mereka.

"Mas Ryo, mananya yang sakit???" Dek Yuri memeluk erat Ryosuke, ingin menenangkan teman bermainnya. Dengan sesenggukan, Ryosuke kecil menunjuk jidatnya yang kemerahan akibat ditabrak tamiya. Dek Yuri pun dengan cekatan langsung melakukan tindakan penyelamatan. Ia mengelus jidat Ryosuke lembut, diiringi dengan menghembuskan angin dari mulutnya beberapa kali, sebelum kemudian Dek Yuri memberikan dahi Ryosuke sebuah kecupan kecil. Ajaibnya, tangisan Ryosuke langsung mereda begitu Dek Yuri mengecup dahinya lembut.

"Masih sakit?" tanya Dek Yuri. Ryosuke menggelengkan kepalanya.

"Mamanya Dek Yuri mesti melakukan ini kalau Dek Yuri jatuh, dan sakitnya langsung ilang. Keren ya?" ucap Dek Yuri dengan senyuman super manisnya, dan Ryosuke hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda setuju. Dengan begini, misi penyelamatan Dek Yuri pun berjalan dengan mulus.

Sementara di sisi lain taman bermain, dua orang mama muda menangis terharu menyaksikan aksi penyelamatan yang baru saja dilakukan oleh si kecil Yuri.

"Mbak Chinen... Dek Yuri kok pinter banget..." ujar Mama Yamada terheran-heran

"Iya Mbak, aku juga baru tau Yuri bisa kayak gitu..." balas Mama Chinen tidak kalah herannya.

"Ryosuke-ku tak jodohin sama Dek Yuri aja deh, Mbak..." kata Mama Yamada ceplas-ceplos, dan dijawab oleh Mama Chinen dengan jawaban yang sangat tidak terduga.

"Iya deh, Mbak. Gapapa... Saya restuin..."

Selesai.

Hm mamah-mamah muda ternyata diam-diam YamaChii shipper yha.

Yamada-kun and His Mischievous BaeTempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang