Dari tadi gue cuman maju-mundur manis. Dean lagi ada di lapangan, main futsal kayak biasanya.
"Apa sih, ni orang!" omel Manda yang udah beberapa kali menabrak punggung gue. "Aneh lo."
Gue cengengesan. "Marah-marah mulu lo. Cepet tua nanti," ucap gue masih dengan cengiran. Gue kembali melanjutkan langkah gue menuju kantin bersama Manda.
Ke kantin, tentu aja harus lewat lapangan. Lewatin Dean. Ya, sebenernya sih nggak ada masalah juga ya. Tapi—
"Oi, Drey!"
Panjang umur, Dean memanggil nama gue dan sekarang lagi jalan ke arah gue. "Kantin?" tanyanya singkat.
Gue mengangguk memberikan jawaban. "Nggak ada belajar buat olimpiade emangnya? Kok main futsal?" tanya gue untuk memperpanjang topik.
"Nggak ada," jawabnya. "Gurunya lagi nggak masuk."
"Ooo," aku mengangguk-anggukkan kepala lagi. "Lo emangnya nggak makan ya? Tiap istirahat futsal mulu gitu."
Dean tergelak. "Ya makanlah! Mati ntar kalo nggak makan. Biasanya makannya abis istirahat, sering masuk telat di mapel setelah istirahat."
"Pantesa—"
"Ye, Kunyuk! Deketin cewek mulu lu. Inget Dhea! Buru ah, sini main lagi," celetuk salah satu temannya Dean, yang membuatku bergeming.
"Apa sih! Temen, Geblek!" balas Dean sewot. "Eh, gue balik main dulu ya. Tiati makannya, Drey."
Gue mengangguk lagi lalu melanjutkan langkah menuju kantin, yang ternyata Manda udah lebih dulu meninggalkan gue.
Dari situ, gue tersadar. Kalau sedari awal, gue hanya terjatuh sia-sia.
•••
a.n: kzl g?
KAMU SEDANG MEMBACA
Fall Over Vain
Short StoryDia sosok yang nyata, namun selalu menjadi bagian dari imaji yang kubuat. Aduh, dramatisnya sih begitu. Padahal mah, ini hanya tentang kehidupan seorang perempuan di SMA yang awalnya pengen ngerasain gimana rasanya pacaran tapi gak ada yang deketin...
