Eleven

16 5 0
                                        

Budayakan vote sebelum baca  😍

"Mau ngomong apa sih Dit? Dari tadi dokem aja" tanya Dafa sambil mengaduk jus mangga ketiga miliknya. Saat ini Dafa dan Adit sedang duduk berdua di kafe. Arya? Dia belum datang ada urusan katanya. Arya bilang ia pasti datang! hanya sedikit terlambat.

Malam ini mereka berencana akan melanjutkan perbincangan tadi sore yang tertunda oleh azan magrib. Tadi saat azan magrib mereka memutuskan untuk pulang ke rumah dan janjian kumpul di kafe dekat sekolah jam setengah delapan malam. Saat ini jam menunjukan pukul 07.59, dan itu bertepatan dengan bel kafe yang berbunyi sebagai pertanda ada orang yang masuk.

Dafa menghela nafas lega saat melihat orang yang sedari tadi mereka tunggu. Karena sudah 2 gelas jus mangga yang Dafa habiskan tapi Adit masih saja mendiaminya seolah pikirannya lebih penting dari orang yang ada di depannya.

"sorry telat" ucapnya sambil bertos ala lelaki dengan Dafa. Namun ketika akan melakukannya dengan Adit tangannya berhenti di udara karena Adit tak meresponnya sama sekali. Ia yakin Adit masih kesal padanya padahal masalalunya dengan Maudy adalah urusannya, untuk apa Adit trauma akan hal itu?

"Gue pesen minun dulu ya" ucap Arya sebelum menjatuhkan dirinya di bangku kafe. Tanpa kata Adit mendorong jus jambunya ke arah Arya seolah memberi isyarat bahwa itu untuknya.

"Buat gue?" pertanyaan bodoh, tapi untungnya Adit mau menanggapi walau hanya anggukan kecil. Arya hanya mengangkat bahunya cuek dan duduk di kursi yang kosong.

"Jadi gimana? Arya udah dateng tuh Dit, katanya mau ngomong banyak hal"

Adit berdehem sebentar sebelum mulai berbicara panjang. "Oke sebelumnya gue minta selama gue ngomong jangan dipotong kalo gue belum nyuruh jawab" Dafa dan Arya hanya menggangguk nurut.

"Gue punya 3 pertanyaan buat... "

"Banyak amat" potong Dafa.

"Diem" gertak Adit dengan sedikit penekanan.

"Gue ulang. Gue punya 3 pertanyaan buat lo Ar. Sttt!!!" peringat Adit dengan menempelkan jari telunjuknya ke bibir menyuruh Arya diam dan tidak protes. Kata yang hampir keluar dari mulut Arya pun tertelan kembali akhirnya.

"Gue mau lo jawab jujur dari lubuk hati lo yang paling dalam" lanjut Adit.

"Hmmm.. " Arya hanya bergumam tak jelas. Setidaknya dia tidak berbicara pikirnya.

"Pertama. Lo nyaman sama Maudy? Jawab" printahnya.

"Boleh jawab nih?" tanya Arya santai yang justru terkesan nyolot. Dafa hanya duduk anteng bermain games di ponselnya. Toh bagi Dafa ini tidak ada urusannya dengannya.

"Kan tadi gue bilang jawab. Ya jawab lah PEA" ucap Adit menekan kata 'pea'.

"Mybe yes mybe no"

"Ambigu amat jawaban lo. Yang bener yes or no?"

"Lo mau gue jawab jujurkan. Ya itu jawabannya"

"Intinya?"

"Biar cepet nyaman aja dah"

"Oke lanjut. Pertanyaan kedua lo suka sama Maudy? Jawab"

Arya sempat mengerutkan keningnya. Namun akhirnya ia tetap menjawab "suka?" itu pertanyaan bukan pernyataan, tapi sepertinya Adit salah tangkap.

"Lo suka sama Maudy?" dan bodohnya Arya hanya mengangkat kedua bahunya pertanda ia tidak tahu, salahnya Adit berpikir kalo itu tandanya dia cuek, karena mengangkat bahu adalah kebiasaan Arya saat dia cuek.

Sedikit senyum terbentuk dari bibir Adit dan itu membuat Arya bingung sebenarnya apa maksud dari senyum itu. Tapi dasarnya orang cuek ya gitu gak peduli.

Really? Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang