If our love was a story book
We would meet on the very first page
The last chapter would be about
How I’m thankful for the life we’ve made
- Breathless by Shayne Ward-
Peluh menetes di dahi Devan, lama ia berkeliling taman kota dengan sepeda hitam miliknya. Keadaan taman yang cukup penuh membuat ia kesulitan mencari seseorang. Devan memutuskan untuk duduk di salah satu bangku taman sambil mengunyah kacang rebus yang di belinya tadi.
Meskipun begitu, Devan tetap mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru taman. Berharap ada seorang perempuan yang mengaku bahwa ia pengagum rahasia di balik origami itu. Meskipun sudah menjelaskan secara detail tentang bagaimana bisa ia menaruh hati pada Devan, tapi tetap saja cowok itu tak memiliki gambaran pasti siapa Avicenna sebenarnya. Benar mungkin bahwa nama perempuan itu tak pernah terselip di pikiran Devan. Tapi apa salahnya belajar mencintai seorang tanpa nama? Mungkin Devan ingat sosoknya tapi tidak tahu namanya.
"Van!!" sapaan yang terdengar menggema dari arah berlawanan membuat Devan mendongak dari kegiatannya membuka kulit kacang.
Seorang perempuan berlari kecil menghampiri Devan yang menatap bingung. Jadi ini orangnya? Perempuan itu langsung duduk di bangku yang sama, sambil mencomot beberapa buah kacang yang Devan taruh di sebelahnya.
Kenapa beda banget sikapnya waktu di kelas sama di sini?
Batin Devan mengamati bagaimana riangnya cewek itu. Devan berani mengakui, Arinda lebih cantik jika tersenyum seperti ini. Rambutnya yang diikat tinggi tanpa poni membuat rona merah di pipi Arinda terlihat jelas. Berbeda jauh dengan Arinda yang biasanya di kelas dengan posisi selalu menunduk menatap buku atau novel pembunuhan best seller. Bahkan Devan sampai curiga bahwa Arinda mempunyai jiwa Psychopath sedari dini.
"Oh iya, dia lagi ke kamar mandi katanya. Tunggu dulu aja, Van"
"Dia siapa?" tanya Devan.
Arinda terkekeh pelan, "Pura-pura lupa ya?"
"Apaan sih, gue gak paham"
Devan semakin bingung dengan tingkah aneh Arinda. Kemana Arinda yang cuek dan sok misterius? Kenapa jadi Arinda yang cerewet dan menyebalkan. Devan benar-benar tidak paham tapi Arinda malah berbelit-belit.
"Gue emang mau ketemu seseorang. Tapi lo gak perlu tahu siapa orang itu" tandasnya.
"Lo mau ketemu cewek yang sering ngirim surat cinta di loker elo itu ya?" tanya Arinda menyelidik.
"Tahu dari mana?!" ucap Devan menaikkan satu oktaf suaranya.
"Santai aja, Van. Gak perlu kaget gitu. Gue tahu semua bahkan lebih dari sekedar yang lo tahu"
"Jadi, lo tahu siapa cewek itu?"
Arinda mengangguk, "Mau dengar cerita dari gue sebelum lo tahu siapa cewek itu?"
"Ck, bilang dulu siapa namanya"
"Oke-oke, lo emang gak sabaran. Ingat cewek yang gagalin rencana lo buat ngikutin gue ke perpustakaan itu?"
Kini giliran Devan yang mengangguk. Bayangan siswi bersurai sebahu itu kembali hadir dalam ingatannya. Ia ingat sekaligus bingung, kenapa Arinda tahu bahwa Devan mengikutinya?
KAMU SEDANG MEMBACA
Senbazuru Tegami (END)
NouvellesPuluhan surat berbentuk origami bangau terlihat memenuhi loker Devan minggu-minggu ini. Semenjak hubungannya dengan Kendra kandas, surat itu datang seolah berusaha menghilangkan luka lama. Ingin ia membalas dan bertanya banyak hal. Tapi si pengirim...
