7 Juli 2017
Hai cewek origami yang manis.
Ketemu lagi dengan Si ganteng Devano. Lagi-lagi lo ngomong begitu, gak perlu sering minta maaf ke gue. Gue senang kok bisa berbalas surat begini setiap hari sampai ragu lo hilang. Berasa kembali ke masa lampau dimana Ayah sama Bunda masih pada unyu. Oh iya, ngomongin Ayah sama Bunda, gue jadi ingat janji yang kemarin. Oke gue akan cerita tentang kehidupan dari mulai janin sampai jadi ganteng kaya gini.
Gue lahir tanggal 28 Maret. Anak terakhir dari dua bersaudara. Cie dugaan lo waktu itu salah, gue gak punya adik ataupun keponakan dan sepupu yang masih kecil. Makanya gue exited gitu kalau liat anak kecil. Kakak gue cowok namanya Galang dia udah nikah setahun lalu. Dan sekarang gue tinggal bertiga aja di rumah bareng Ayah Bunda.
Dugaan lo salah lagi, yang jago beladiri itu Bunda sedangkan Ayah lebih ke tipe bapak-bapak kalem. Bunda juga nggak terlalu lemah lembut, bahkan Ayah sering takut kalau Bunda udah ngomel. Dan satu lagi, lo pernah bilang bahwa banyak cewek tertarik karena harta gue? Secara gak langsung lo ngira gue kaya 'kan? Gue sih aamiin aja ya, tapi bukan kenyataan kok. Gue bukan tipe cowok-cowok tajir pemilik jet pribadi, penerus perusahaan ternama, anak dari pengusaha yang punya banyak aset mewah, ataupun pemilik puluhan asisten rumah tangga.
Bukan, Ayah gue dokter dan Bunda dosen. Mana cukup buat beli jet pribadi? Motor sport gue itu juga hasil jerih payah mereka sebagai hadiah waktu gue menang lomba karate permulaan kelas sepuluh. Di rumah gak ada transportasi lagi selain mobil miliknya Ayah. Karena mobil Ayah di pake buat berangkat kerja, alhasil Bunda selalu nebeng gue kalau ada jadwal ngajar di kampus. Jadi tahu 'kan gue sering telat karena apa?
Kehidupan gue gak semewah tokoh dalam film-film kok. Tapi gue ngerasa kehidupan gue mewah karena kehadiran mereka, Ayah dan Bunda. Bagi gue keluarga itu segalanya. Apapun ucapan yang diberikan Bunda, gue gak bisa menolak. Kecuali yang waktu itu. Bunda gak ngizinin gue jadian sama Kendra dan gue tetep keras kepala, akhirnya kita putus karena alasan gak jelas. Kejadian ini bisa gue ambil bukti bahwa ucapan Bunda itu segalanya.
Apa gue boleh meminta seperti apa yang lo minta? Gue mau lo cerita banyak kayak gini. Gak perlu tentang keluarga, apapun itu yang penting kita ngobrol langsung gak pakai perantara. Oke, mungkin gue udah bilang diatas bahwa gue nyaman-nyaman aja berkirim surat. Tapi tetap aja ada hal yang bikin gue penasaran siapa elo sebenarnya. Bolehkah gue tahu? Gue gak maksa, naluri penasaran gue muncul gitu aja. Apa salah kalau gue penasaran? Tolong bantu gue untuk BENAR-BENAR melupakan Kendra. Gue gak narik ucapan yang diatas, kita ketemu supaya ragu lo bisa hilang. Supaya lo gak ragu lagi bahwa gue tertarik cuma dasar kasihan. Gue yang butuh elo, bukan sebaliknya.
Tertanda,
Devano
KAMU SEDANG MEMBACA
Senbazuru Tegami (END)
Short StoryPuluhan surat berbentuk origami bangau terlihat memenuhi loker Devan minggu-minggu ini. Semenjak hubungannya dengan Kendra kandas, surat itu datang seolah berusaha menghilangkan luka lama. Ingin ia membalas dan bertanya banyak hal. Tapi si pengirim...
