Sakit nya patah hati berimbas pada sulitnya mencari tambatan hati.
-Devano Raditya Jordan-
Devan mengacak rambut frustasi. Berharap cara itu dapat menghilangkan pikirannya tentang surat origami yang akhir-akhir ini menumpuk di loker. Penasaran, tapi ia terlalu malas untuk mencari tahu siapa perempuan di balik surat itu. Devan merebahkan lagi badannya di atas kasur berwarna merah menyala khas Manchaster United.
Sudah tiga hari ini ia terbaring dan bermalas-malasan di kamar. Kondisi fisiknya memang sedang tidak stabil. Diare adalah penyakit yang diungkapkan dokter kemarin, alasannya karena Devan terlalu banyak mengonsumsi saus tomat. Persis seperti ungkapan cewek origami itu.
'Ah, dia lagi' gumam Devan frustasi.
Bahkan akhir-akhir ini pikirannya tak lagi dihantui oleh bayangan Kendra. Apa ia sudah melupakan Kendra karena cewek misterius itu? Devan menggeleng, menerka-nerka perasaan aneh yang datang ketika surat itu menghampiri lokernya. Seperti ada sesuatu tak kasat mata yang menyuruh Devan menarik sudut bibirnya ketika membaca surat itu. Aneh, ia tak pernah merasa seperti ini kepada perempuan yang tidak dikenal. Terlebih cewek itu datang tiba-tiba dalam kehidupan Devan. Tiba-tiba menyatakan perasaannya dan berkali-kali meminta maaf karena telah mengganggu Devan. Tapi Devan tidak merasa begitu, ia tidak terganggu, justru ia senang karena ada seorang gadis lugu yang mencintai seorang berandalan takut emak sepertinya.
Brak!!!
Suara pintu yang dibuka kasar membuat Devan terbangun dari lamunan tentang si cewek origami. Pandangan Devan tertuju pada seorang laki-laki berjaket biru di depan pintu kamar. Tak perlu mempersilahkan masuk, laki-laki itu kini sudah terduduk di sofa kamar Devan. Serasa rumah sendiri pikirnya.
"Sakit gara-gara surat itu?" tanya Bagas.
"Enggak lah, emang apaan" Devan berdecak, bangkit dari tidurnya dan beranjak ke sofa yang di duduki Bagas.
"Bau!! Enggak pernah mandi lo, Nyet?!!" Ucapnya dengan nada tinggi, hidungnya di tutup dengan sebelah tangan.
"Eh garpu siomay! gue gak mandi seminggu pun tetep ganteng" belanya.
Kini Bagas beralih duduk di sofa yang letaknya agak berjauhan dengan Devan. Cowok itu masih bergidik dan memasang wajah 'siap muntah' karena Devan hanya mengenakan boxer dan kaos dalam yang membuat aroma tubuhnya cepat menyebar.
Lagi lagi Devan berdecak menghadapi teman SMP nya itu. Muka Bagas pas-pasan, tapi ia selalu jaga kebersihan. Lihat saja sepatunya yang bersih dan terawat, kaos kaki Bagas juga rutin di cuci setiap sekali pakai. Tak seperti Devan yang sembarangan menaruh kaos kaki futsalnya di loker. Tapi masalah wajah, Devan menang banyak.
"Gue nemu ini di loker lo. Bales gih, dia ngarep banget kayanya" Bagas menyerahkan sesuatu yang ia ambil dari dalam tasnya. Surat.
"Tumben bentuknya bukan origami bangau" Devan membolak balik kertas itu.
"Ya sorry, tadi gue baca dan gak tau cara ngembaliin ke bentuk semula" ucap Bagas dengan kekehan pelan.
"Lo nggak penasaran siapa cewek itu?" Bagas angkat bicara setelah mengetahui Devan larut dalam bacaan surat cintanya.
"Lumayan sih, tapi gue ogah ribet" Devan menutup surat itu dan menaruhnya ke dalam laci meja belajar.
Bagas tersenyum melihat itu. Ia berpikir, mungkin ini saat yang tepat untuk membantu kawannya melupakan sosok Kendra lewat surat itu.
"Cari tahu yuk, Nyet. Siapa tahu jodoh lo"
"Males. Kalo surat itu yang nulis Bu Dona gimana? Dia kan demen banget cubit-cubit kuping gue" jawab Devan sekenanya.
"Males kok suratnya masih disimpen" ledek Bagas.
Devan diam, apa ia harus menuruti kata-kata Bagas? Apa ini jalan keluar dari masalah patah hatinya? Apa ini adalah petunjuk bahwa Kendra harus dilupakan? Devan bimbang hingga otaknya menemukan satu pilihan, "Nyari tahu siapa dia? Kenapa enggak?"
Bagas tersenyum puas. Ia beranjak dari sofa dan mulai melangkah keluar kamar Devan.
"Nanti kita bahas ini lagi, lo mandi dan jam tujuh malem harus udah siap, suratnya jangan lupa lo bawa. Setuju?"
"Setuju ajalah, buat si garpu siomay apa sih yang enggak" Devan memasang wajah genitnya yang ditanggapi Bagas dengan tampang jijik.
"Mau ngobrol di rumah gue apa di caffe yang girly ala Korea itu?" Bagas kembali bertanya dengan wajah meremehkan.
Sontak Devan tercekat, "Jangan bahas hal-hal tentang Kendra lagi bisa gak?"
"Nah, lo marah kan gue bahas soal Kendra? Itu tandanya lo udah move on, Onyet!!"
Bagas buru-buru lari sebelum Devan mematahkan kakinya. Devan memang lemah dan mengalah terhadap perempuan. Tapi pada Bagas? Sekedar mengalah antri mie ayam pun ia enggan.
***
"Gue curiganya Arinda yang nulis ini" ungkap Bagas setelah selesai mengunyah keripik singkong balado favoritnya.
"Arinda si ranking satu itu? Yang cuek dan judes itu 'kan?" Devan belum sepenuhnya percaya.
"Gue baca satu persatu surat itu dan clue nya bener-bener Arinda. Coba baca ulang, Arinda suka biologi, dia pernah sekelas sama elo waktu SMP, Arinda wakil sekertaris gue di OSIS dan gue tahu dia pinter nulis proposal, dan yang bikin gue yakin, Arinda cuma punya satu temen deket. Nah, bener dia 'kan?"
Devan diam. Ciri-ciri yang disebutkan Bagas memang benar, tapi tidak mungkin rasanya perempuan itu menaruh hati pada Devan, mereka jarang berbicara dan tidak terlalu akrab satu sama lain. Devan juga merasa ada yang aneh jika cewek itu benar-benar si pengagum rahasianya. Arinda cuek, judes, alergi film romance katanya, suka nonton film sadis bareng anak-anak cowok di kelas, mustahil jika Arinda mampu menulis surat cinta seperti itu.
"Tapi Arinda ngasih surat di loker gue waktu kapan? Dia kan di kelas terus"
"Kali aja waktu istirahat. Oke! Besok kita cuti makan mie ayam terus ngintipin loker elo, gimana?"
"Ribet banget. Enggak ah"
"Ayolah Devano ganteng. Enggak kasian sama cewek itu? Sampe kapan lo kebayang Kendra terus? Come on bro, forget her! Jangan mau di peralat cewek. Kendra udah bikin lo jadi penurut sama semua yang dia mau, gue tahu lo gak suka film romance tapi lo bela-belain nonton romance supaya ada topik pembicaraan waktu kalian belum jadian 'kan?" Bagas mendesah frustasi.
Yang diberi petuah malah termenung. Mencari jawaban atas pernyataan Bagas barusan. Akhirnya Devan mengangguk tanda setuju. Baik, besok misi dimulai. Misi mencari tahu siapa cewek origami itu yang sebenarnya.
'Siapapun elo, gue merasa seperti tertarik dengan semua yang lo tulis. Gimana rasa tulus dan pengorbanan yang selama ini mampu lo ungkapkan lewat selembar kertas' gumam Devan dalam hati
~To Be Continue~
KAMU SEDANG MEMBACA
Senbazuru Tegami (END)
ContoPuluhan surat berbentuk origami bangau terlihat memenuhi loker Devan minggu-minggu ini. Semenjak hubungannya dengan Kendra kandas, surat itu datang seolah berusaha menghilangkan luka lama. Ingin ia membalas dan bertanya banyak hal. Tapi si pengirim...
