Chapter 9

4.5K 169 6
                                        

Sudah sembilan hari sejak keduanya memutuskan untuk saling diam. Aruna masih saja tidak ingin bertemu Ray, berhadapan wajah dengan Ray pun ia tidak ingin. Seperti kedua orang yang tidak saling kenal. Berbeda dengan Ray, ia selalu mencari kesempatan saat mengajar dikelas Aruna maupun saat jam istirahat. Ray selalu mengawasi Aruna dari jarak jauh, meskipun hanya melihat gerak gerik yang dilakukan Aruna.

Sedikit lega melihat Aruna tertawa lepas dengan temannya, seperti tidak ada beban dalam hatinya. Rasa sakit itu muncul saat Aruna masih tidak ingin bertemu Ray. Gadis itu selalu saja menghindar saat Ray ingin mendekatinya.

Selama itu pula Aretha selalu berusaha menghubungi Ray. Tetapi, selalu diabaikan. Ray benar benar tidak ingin berurusan dengan mantan tunangannya itu. Salah satu alasannya, karena Aretha lah penyebab hancurnya hubungan Ray dengan Aruna. Meskipun belum resmi berpacaran dengan Aruna, Aretha sudah menggagalkan rencana untuk mengabulkan permintaan ketiga Aruna.

Saat ini Ray tengah mengamati Aruna yang sedang duduk dikursi taman sekolahnya ditemani es krim yang ada ditangannya. Kesabarannya sudah mulai habis, ia tidak bisa berlama lama didiami Aruna. Ray melihat sekeliling taman yang sepi. Beruntung tidak ada orang ditaman selain Aruna.  Ia keluar dari persembunyiannya dibalik pohon besar yang ada ditaman berjalan santai menghampiri Aruna.

Ray langsung duduk disamping Aruna tanpa permisi. Aruna yang merasa tempat duduk disampingnya ada orang, ia otomatis memalingkan wajahnya melihat siapa yang duduk disampingnya. Melihat siapa orang yang duduk disampingnya, Aruna berdiri beranjak pergi menuju kelas. Tapi sebelum ia pergi tangannya lebih dulu dicekal oleh Ray.

"Duduk" ucap Ray

"Saya mau kekelas" balas Aruna dengan wajah datar

"Gue mau bicara sama lo, please dengerin gue sekali ini saja"

"Saya gak mau, permisi" Aruna berjalan meninggalkan Ray. Sebenarnya ia tidak tega melihat Ray yang selalu memohon. Ia kembali berhenti berjalan saat mendengar suara Ray yang parau seperti hampir menangis.

"Run please, sekali ini aja dengerin penjelasan gue. Gue sayang sama lo, sampai kapan lo diemin gue"

Aruna membalikkan badan kembali berjalan menuju kursi yang tadi ditempatinya. Perasaannya telah mengalahkan egonya.

"Saya dengerin penjelasan bapak" Ray tersenyum mendengar penjelasan Aruna

"Jadi sebenernya cewek yang lo maksud tunangan gue itu salah. Memang kita sempet tunangan dan gue ngebatalin tunangannya dua tahun lalu. Gue sakit hati, marah bahkan kecewa sama dia. Saat kita ngejalin hubungan gue selalu jaga hati buat dia. Tapi dia ngehancurin kepercayaan gue, dia ketahuan selingkuh sama cowok lain dan parahnya mereka udah ngejalin hubungan selama setahun"

"Maafin gue kak, gue terlalu kekanakan hiks..." Aruna menundukkan wajah menutupi air mata yang terus turun dari kelopak matanya

"Akhirnya lo gak formal lagi sama gue. Jangan nangis lagi ya, ini semua bukan salah lo. Ini salah gue yang telat buat cerita" Ray mengusap punggung Aruna berusaha menenangkan gadis itu supaya tidak menangis lagi

"Maaf kak hiks..." Aruna berhambur memeluk Ray. Ia menenggelamkan wajahnya didada bidang Ray.

Ray tersenyum, membalas pelukan Aruna. Mencium aroma vanilla dari rambur Aruna. Akhirnya hubungan mereka kembali membaik. Ray menangkup wajah Aruna dengan kedua tangannya, menghapus jejak sisa air mata yang mengalir. Aruna hanya tersenyum malu dengan perlakuan manis Ray.

"Senyum dong, jangan nangis lagi"

"Apaan sih kak"

"Ciee malu"

Bad Teacher [HIATUS]Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang