Sebuah ambulance bewarna putih dengan sirine yang berbunyi nyaring siang itu membelah keramaian jalan di kota Seoul. Di dalamnya terdapat seorang wanita korban kecelakaan dengan luka yang cukup parah hingga sekujur tubuhnya penuh dengan darah. Disampingnya duduk seorang pria yang lebih muda dengan darah di tangan dan bajunya. Darah itu bukan miliknya. Namun milik wanita korban kecelakaan itu.
Amber panik melihat keadaan Irene yang terlihat buruk itu. Rasa kesalnya pada Irene tak mampu menutupi rasa khawatirnya pada wanita yang saat ini sedang tak sadarkan diri itu.
Para perawat membawa Irene menuju ruang UGD untuk mendapatkan perawatan. Sedangkan Amber menunggu di depan ruangan tersebut dengan gusar. Tak berselang lama Henry yang mendengar berita tersebut datang dan mencoba menenangkan Amber.
"Pergilah ke kamar mandi dan bersihkan dirimu. Di mobilku ada beberapa baju, kau bisa memakainya." Amber segera pergi menuruti perintah Henry setelah mengambil kunci mobilnya.
Berjam-jam sudah Amber dan Henry menunggu Irene di depan ruang UGD hingga akhirnya seorang dokter muda yang mereka kenal keluar dari ruangan itu untuk memberitahu kondisi Irene.
"H-hyung??" Pekik Amber sedikit terkejut saat sadar jika Irene dirawat oleh sahabatnya sendiri, Bogeum.
"Iya ini aku, kau tidak apa-apa kan?"
"Aku baik Hyung,. Irene noona, bagaimana dia?"
"Kaki dan tangannya patah. Kau tak usah khawatir, ia akan segera siuman."
Amber sedikit bisa bernafas lega saat mendengar Irene selamat. Sesaat kemudian pikirannya kembali khawatir saat ingat jika Irene sedang hamil.
"Dia juga tak apa kan Hyung?"
Amber yang paham jika Bogeum bingung dengan pertanyaannya pun mencoba menjelaskannya lagi. Dan ekspresi Bogeum seketika itu berubah juga.
"Hyung..." Amber kembali memanggil Bogeum karena tak mendapat respon.
Belum sempat Bogeum menjawab seorang perawat memanggilnya karena ada pasien UGD lain yang harus dirawat. Ia pun meninggalkan Amber yang masih risau itu.
"Woahh, takdir Tuhan memang mengerikan. Setelah sekian tahun akhirnya kau ketemu lagi dengan mantan sainganmu, Bogeum hyung." Amber melirik Henry yang menggumam disampingnya.
"Ini bukan waktunya bercanda Hen."
"He, sorry bro. Tapi, bagainana kabar bayinya ya. Kecelakaannya cukup parah, apa selamat juga?" Amber melenggang pergi tanpa memperdulikan omongan Henry menuju reseptionist untuk mengurus administrasi Irene. Ada sedikit ketakutan dalam dirinya jika bayi fiktif yang dibuat Irene itu tak selamat.
Karena masih belum diperbolehkan bertemu dengan Irene malam itu Amber memutuskan untuk pulang ke rumah Henry yang memiliki jarak cukup dekat dengan RS.
~
Pagi itu Amber dan Henry melangkahkan kaki mereka menuju pusat informasi RS Seoul. Setelah mendapatkan informasi yang mereka butuhkan keduanya langsung pergi ke ruangan Irene.
"Kau tak apa?" Henry memulai pembicaraan dalam perjalanan mereka.
"Apanya?"
"Tentang Krystal noona."
Henry yang sudah mengetahui mengenai Krystal karena semalaman ia mendesak Amber untuk menceritakan alasan di balik kecelakaan yang menimpa Irene mulai penasaran dengan perasaan sahabatnya itu.
Seketika itu juga Amber menghentikan langkahnya. Menatapa lantai putih didepannya dengan pandangan kosong.
"Sudah berakhir, aku tak punya hak untuk memintanya kembali." Lirih Amber kemudian melanjutkan langkahnya.

KAMU SEDANG MEMBACA
My Lovely Teacher
FanfictionSuatu ketika hiduplah seorang anak laki-laki yang tampan nan mempesona. Dia merupakan putra tunggal konglomerat Korea Selatan yang memiliki sifat selengean, amburadul, susah diatur, dan pervert. Anak muda itu memiliki IQ yang tinggi, namun ia berpur...