Bab 3 - Teman Lama

2.4K 197 22
                                        

3
~Teman Lama~

"Terkadang, kata menjadi tidak begitu penting untuk terucap. Karena kamu bisa tahu hanya dengan melihat."

***

"Kei...?" gumam Nayya sangsi. Ia terus memperhatikan murid laki-laki yang tengah berdiri di depan kelas, cukup tampan dengan wajah Indo campuran ke Barat-baratan. Semakin dilihat, ia semakin merasa tak asing dengan wajah itu, mengingatkannya pada sosok yang dulu pergi tanpa pernah memberi kabar padanya.

"Kenal?" tanya Safira.

"Kayaknya, sih...."

Bu Kiki menatap semua muridnya sebelum berkata, "Hari ini kita kedatangan murid baru." Kemudian ia menoleh pada murid laki-laki di sampingnya. "Ayo, perkenalkan diri."

Laki-laki itu mengangguk lalu berdeham sejenak. "Hai, nama gue Keifer Parsa. Biasa dipanggil Kei, suka bermusik, bernyanyi dan single ofcourse."

Seisi kelas tertawa. "Promosi anjir," celetuk salah satu murid laki-laki.

"Jadi, beneran lo, Kei!?" Nayya berseru kegirangan.

Kei menoleh ke sumber suara, mengerutkan kening dan matanya menyipit menatap gadis cantik dengan seragam yang berbeda dari yang lainnyaㅡserba panjang lengkap dengan penutup kepala. Namun, tak mengurangi kecantikannya sama sekali. Berpikir cukup lama, lalu matanya membulat. "Nayya!?" serunya kemudian, nampak terkejut.

Nayya mengangguk semangat sambil tersenyum lebar. Kei tersenyum semringah, berniat menghampiri Nayya jika saja tak dihentikan oleh Bu Kiki.

"Nanti saja temu kangennya, sekarang duduk di bangku kosong sebelah sana. Karena pelajaran akan segera dimulai," ucapnya tak terbantahkan.

Kei menghentikan langkah, kembali berbalik. "Iya, Bu," ucapnya patuh dan segera berjalan ke arah bangku kosong paling belakang. Sejenak, ia menoleh lagi ke arah Nayya dan mengedipkan sebelah mata. Membuat Nayya terkikik pelan.

"Siapa, sih?" tanya Safira setengah berbisik, penasaran. "Genit gitu."

Nayya tertawa pelan. "Temen SMP dulu, entar gue ceritain."

Selama pelajaran berlangsung, Kei terus menoleh pada Nayya sambil tersenyum. Tidak menyangka kalau dia akan bertemu lagi dengan sahabatnya itu. Lama, lama sekali. Ia begitu merindukannya, hingga kembali melihatnya bisa membuatnya begitu bahagia.

Bel berbunyi, tanda dua jam pelajaran hari itu sudah habis. Bu Kiki mengakhiri pelajaran dengan memberi anak didiknya tugas untuk meresensi sebuah novel. "Dikumpulkan minggu depan. Yang tidak mengumpulkan, nilai praktek kosong. Terima kasih untuk hari ini, selamat siang."

Begitu Bu Kiki keluar, semua murid riuh dengan keluhan.

"Asem! Cuma seminggu!? Mending, kalo baca novel doang!"

"Iya. Emang ngeresensi gampang, apa!?"

"Aahh dasar Ibu tak berperasaan!"

Dan berbagai keluhan lainnya yang serupa. Nayya hanya terkekeh mendengar berbagai reaksi dari teman-temannya. Kemudian ia menoleh ke arah bangku tempat Kei duduk, dan mendapatinya sedang berjalan dengan langkah cepat ke arahnya. Nayya tersenyum lebar.

"Princess! Wow, it's amazing!" Kei berseru dengan gaya khasnya.

"Jangan manggil itu kunyuk, malu-maluin lo!" tukasnya ketika Kei tiba di hadapannya.

Kei tertawa. "Itu kan panggilan kedayangan. Masih cantik aja ya, lo! Hahaha. Damn, I miss you so bad, Princess!" serunya dan hendak memeluk Nayya.

Not A Love (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang