P.s.
Masih ingat prolog kan? Jadi bab ini ceritanya setelah prolog ya. :)
Happy reading!
=========================
34
Regret
"Ketika penyesalan hadir, maka seluruh pengandaian pun ikut berdatangan. Pengandaian jika dulu ia melakukan hal yang berbeda."
***
Alfi membereskan semua pekerjaannya tepat pukul delapan malam. Karena ia telah berjanji dengan Rudi. Sebelumnya, Rudi bilang kalau ia sudah berhasil mencari tahu semuanya dan mengumpulkan semua bukti.
Pintu ruang Alfi diketuk tiga kali. "Masuk," sahut Alfi.
Pintu terbuka, menampilkan sosok pria yang selalu berpakaian serba hitam. "Malam, Pak," sapa Rudi.
Alfi hanya mengangguk, lalu mempersilakannya duduk. "Jadi, bagaimana?" tanyanya sambil berjalan menuju sofa. Lalau duduk di hadapan Rudi.
"Ternyata dugaan saya selama ini benar, Pak," ucap Rudi mengawali pembicaraan sambil mengeluarkan semua berkas-berkas yang ia bawa.
Alfi memerhatikan dengan seksama. "Maksudmu?"
"Tentang anak laki-laki itu," ucap Rudi menggantung.
"Akbar?" tanya Alfi dan dijawab anggukan dari Rudi.
"Ternyata dia...ㅡ"
"Sebentar," potong Alfi. Ia mengambil ponselnya yang berdering tanda panggilan masuk. Lantas tersenyum melihat nama yang tertera di layarnya.
"Assalamu'alaikum, istriku...," sapa Alfi.
"Wa'alaikumussalam...," jawab Afanin dari seberang. "Mas, kapan pulang?"
"Aku sudah selesai, tapi aku sedang ada urusan dengan Rudi."
"Bisa pulang sekarang tidak?"
"Kenapa? Tumben ... kangen ya?" tanya Alfi melirik Rudi jenaka.
Mendengar itu, Rudi tersenyum kikuk. Ia tahu bos-nya itu pasti sengaja.
"Emm itu ... Nayya, Mas...." Afanin terdengar ragu.
"Kenapa sama Nayya?"
"Dia belum pulang...," ucap Afanin lirih. Lalu mendesah.
"Apa?" Kening Alfi berkerut dalam. "Ini kan sudah malam. Kamu sudah hubungi dia?"
"Sudah, tapi tidak aktif. Aku juga sudah hubungi Akbar. Dia bilang mereka batal pergi. Katanya dia juga tidak bisa menghubungi Nayya. Perasaanku tidak enak, Mas...."
Lipatan di kening Alfi bertambah. "Lalu dia kemana? Coba kamu tanya Arkan, mungkin dia tahu. Atau teman-temannya. Siapa pun. Kamu tenang, aku pulang sekarang."
Sambungan pun terputus setelah mereka saling mengucap salam. Alfi memijat pelipis. Meskipun Nayya suka membantah, melanggar perintahnya, tapi dia tidak pernah ingkar janji. Dan tidak biasanya ponsel Nayya tidak aktif, apalagi tanpa memberi kabar.
"Ada apa?" tanya Rudi yang sejak tadi menyimak pembicaraan Tuannya.
"Anakku belum pulang, tidak ada kabar, ponselnya juga tidak aktif. Aku harus pulang sekarang."
KAMU SEDANG MEMBACA
Not A Love (Completed)
Teen FictionSequel of The Dearest (Duhai Pendampingku) . Ainayya Dzahin Rafanda. Gadis cantik dan periang. Awalnya hidupnya baik-baik saja, hingga ia merasakan sebuah rasa yang selayaknya dialami remaja lainnya pada seseorang. Juga sebuah kenyataan hidup yang l...
