Bab 38 - Apology

1.8K 184 338
                                        

Hai. Oke, saya tahu ini sudah sangat sangat lama sejak terakhir kali saya update. And I'm so sorry for it 🙏 And now, this is for you, 3rb kata lebih. Semoga bisa memuaskan.

Happy reading!

-----------------------------------------------------

38
Apology

"Cinta selalu memberi ruang maaf yang luas bagi segala kesalahan. Asal ada keinginan untuk memperbaikinya." - Guntur Alam

***

"Pa, Nayya mau ketemu Kak Akbar," ujar Nayya saat sarapan di pagi itu.

Alfi dan Afanin sontak menghentikan aktivitas mereka. Saling tatap sebentar, lalu beralih pada anak gadis mereka.

"Kamu yakin?" tanya Alfi lembut, juga sangsi.

Nayya mengangguk. "Nayya tahu Papa sering jenguk Kak Akbar," ujar Nayya tersenyum. "Nayya mau ikut."

Alfi menatap Afanin sekilas, lalu nampak murung. "Tapi dia tidak pernah mau menemui Papa," lirihnya.

Sejujurnya, Alfi merasa menyesal telah membuat Akbar mendekap di dalam penjara. Namun, ia tak bisa apa-apa, karena saat itu ia terlanjur melibatkan polisi. Mereka melihat semua kejadiannya. Meskipun ia tidak menuntut Akbar, Akbar tetap akan diproses secara hukum. Karena itu, mencabut tuntutan dan membebaskannya begitu saja adalah hal yang tidak mungkin. Alfi tidak memiliki kuasa untuk itu. Di mata hukum, Akbar adalah seorang penjahat, dan ia harus mendapat hukuman atas nama keadilan.

Alfi juga ingin membebaskan Akbar. Bagaimanapun, Akbar adalah darah dagingnya. Meski kesalahannya sangat fatal, ia bisa mengerti. Dan apa yang telah dilakukannya, ia ikut andil di dalamnya. Ia tahu, semua terjadi karena dirinya. Karena itu ia berusaha menebus kesalahannya, berusaha memperbaiki hubungan mereka. Ia memaafkannya. Tapi, sepertinya Akbar tak menginginkan hal itu. Ia bisa saja melanggar hukum dengan memberi uang suap. Tapi, ia tak kan melakukan hal kotor seperti itu. Atau Akbar akan lebih membencinya.

"Pa ...."

"Oh. Iya, maaf. Kenapa?" Teguran halus dari Nayya menyadarkan Alfi dari lamunannya.

"Boleh, ya?" pinta Nayya.

"Tapi untuk apa ...? Kamu yakin?"

"Nayya akan baik-baik aja kok, Pa," senyum Nayya. Ia tahu, papanya pasti mengkhawatirkan trauma dirinya.

"Tapi ...."

"Pa, I'm fine. I'll through it." Nayya meyakinkan.

Alfi menatap Afanin, lalu Afanin mengangguk sambil tersenyum pertanda ia mengizinkan keinginan Nayya.

"Baiklah, nanti siang kita ke sana."

Nayya tersenyum. "Makasih, Pa."

Takut. Mungkin Nayya masih merasakan itu. Tapi keinginan untuk bertemu dan melihat kakak laki-lakinya jauh lebih besar dari rasa takutnya. Ia ingin membesarkan hatinya. Sebab, ia tahu, Akbar tidak sepenuhnya bersalah.

Ia bisa mengerti kenapa Akbar melakukan semua ini. Dia sudah banyak terluka. Benar, seperti katanya, mungkin Nayya tak pernah tahu rasanya hidup seperti yang dialami kakak laki-lakinya itu. Tapi melihatnya kemarin, ia bisa merasakan penderitaannya selama ini.

Not A Love (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang