19
Dinner
"Entah apa pun itu orang-orang menyebutnya. Cinta atau bukan, perasaannya memang nyata. Dan mungkin tak seharusnya ia memiliki dan menyimpan rasa itu."
***
"Happy New Year!! Ready for 2018? Hope you reach your dream this year! Bless you! 😊"
Nayya tersenyum mendapat pesan whatsapp dari kakak kelasnya. Ia pun segera mengetik balasan. "Tahun baru kita udah lewat kali, Kak. Hihi 😆✌"
"Oh gitu ya. Jadi selain nggak boleh ngucapin selamat natal, kita juga nggak boleh ucapin selamat tahun baru?"
"Nggak papa sih kayaknya, aku juga gak tahu 😅 yang aku tahu sih, kita sebagai umat islam nggak sepantasnya ikut ngerayain, apalagi sampai bakar-bakar uang. Mending pake buat yang lebih bermanfaat 😆"
"Bakar uang?"
"Bakar petasan, Kak 😅"
"Hahaha. Ada-ada aja kamu."
"Kan emang dibakar Kak, sayang itu uangnya. Kayak ngerokok juga, itu kan beli pake uang, eh malah dibakar. Udah gitu banyak madhorot-nya dari pada manfaatnya lagi. Kan sayang."
"Iya, sayang..."
Tiba-tiba Nayya tersipu membaca balasan terakhir yang terasa ambigu baginya.
"Please Nayya! Jangan baper! Itu sayang bukan sama lo, tapi sama duitnya!" rutuknya pelan.
"Nay?"
Nayya terperanjat. Segera bangun dari tidurnya dan mendapati sang mama berdiri di ambang pintu.
"Iya, Ma?" sahutnya kemudian.
"Mama panggil nggak nyahut-nyahut, kirain tidur."
Nayya nyengir. Sepertinya ia terlalu larut chat dengan kakak kelasnya itu. "Kenapa, Ma?"
"Siap-siap gih. Malem ini kan kita mau makan malam sama keluarga Arkan. Jangan lama-lama ya," pesan mamanya lalu kembali hilang di balik pintu.
Nayya menghela napas. Dan perasaannya mulai tidak enak. Papanya memang sudah memberitahunya kalau malam ini mereka akan makan malam bersama. Nayya menebak makan malam ini untuk membicarakan perjodohannya dengan Arkan. Ia menghela napas berat untuk ke sekian kalinya. Mungkin keputusannya akan mengecewakan banyak pihak, tapi ia tidak bisa memaksa hatinya. Ia tidak bisa.
Nayya kembali melihat deretan chat whatsapp dengan Akbar barusan.
1 message unread
"Lagi sibuk?"
Nayya pun membalasnya. "Mau pergi dulu, Kak. Ada acara. Hee."
"Oh, acara apa, btw?"
"Makan malam 😆"
"Ah, ya! Selamat makan malam, sampai ketemu nanti di sekolah J "
"Iya. Kakak juga ya! 😁"
Nayya lalu mengakhiri chat dan bergegas berganti pakaian. Ia menatap deretan baju di closet, lalu memilih tunik selutut bernuansa pastel dengan celana palazzo plisket dan pasmina instan dengan warna senada. Setelah puas dengan penampilannya, ia pun segera bergegas.
KAMU SEDANG MEMBACA
Not A Love (Completed)
Teen FictionSequel of The Dearest (Duhai Pendampingku) . Ainayya Dzahin Rafanda. Gadis cantik dan periang. Awalnya hidupnya baik-baik saja, hingga ia merasakan sebuah rasa yang selayaknya dialami remaja lainnya pada seseorang. Juga sebuah kenyataan hidup yang l...
