Bab 36 - Lost

1.5K 184 165
                                        

36
Lost

"Dia melukai dirinya sendiri. Melepas kebahagiannya. Kehilangan segalanya."

***

Nayya dirawat di rumah sakit beberapa hari. Dan selama itu, ia belum mau berbicara, pada siapa pun. Jiwanya terguncang, dan kejadian kemarin meninggalkan trauma yang cukup dalam padanya. Alfi dan Afanin jelas sangat terpukul melihat keadaan anak semata wayangnya.

"Sayang, besok kita pulang. Seneng, nggak?" Alfi mencoba mengajak Nayya berbicara. Namun seperti biasa, tidak ada jawaban darinya. Bahkan Nayya selalu tidur memunggungi siapa pun yang berbicara padanya. Alfi menghela napas dalam. "Di luar ada Arkan, katanya mau jenguk. Papa suruh masuk, ya?" kata Alfi yang kemudian bangkit menuju pintu tanpa persetujuan Nayya.

"Nayya gak mau ketemu siapa pun, Pa ...," lirih Nayya berucap.

Alfi tidak jadi membuka pintu. Senang karena Nayya mau berbicara, ia pun kembali menghampiri anak gadisnya. Kemudian meraih dan menggenggam tangannya; menciuminya. Alfi terisak. "Maafkan Papa, Sayang ... maaf ...."

Air mata Nayya meleleh. Entah untuk ke berapa kalinya. Ia tidak menyalahkan papanya untuk kejadian ini. Ia hanya masih belum bisa menerima semuanya dengan baik. Semuanya terlalu tiba-tiba, datang pada waktu yang sama. Semua kebenaran dan rasa sakit yang teramat sangat.

"Nayya mau pulang sekarang," ucapnya pelan.

Alfi langsung mengangguk. Ia akan menuruti apa pun yang Nayya mau. "Papa bicara sama dokter dulu ya Sayang, kamu sama Mama dulu," ucap Alfi lalu keluar ruangan. Tepat saat Afanin kembali dari kantin.

"Om," Arkan berucap sebelum Alfi berbicara pada Afanin. Ia hampir lupa dengan kehadiran Arkan.

"Oh, Arkan. Om minta maaf, tapi Nayya belum mau bertemu dengan siapa pun. Om harap kamu mengerti."

Tatapan Arkan semakin meredup. Ia tersenyum samar. "Oh, begitu ... baiklah. Tidak papa, aku mengerti."

Alfi tersenyum; menepuk pundaknya. Lalu beralih pada Afanin. "Nayya sudah mau berbicara, Ma. Dia bilang dia mau pulang sekarang."

"Alhamdulillah ...." Ekspresi bahagia terlihat di wajah Afanin. Arkan yang mendengarnya pun ikut mengucap syukur dalam hati. Setidaknya ia masih bisa mengetahui perkembangan kondisi sahabatnya.

"Aku mau berbicara dulu dengan dokter, kamu temani Nayya," titah Alfi yang disambut anggukan dari Afanin.

Alfi pun pergi untuk menemui dokter; Afanin masuk ke ruang rawat. Sementara Arkan masih termenung di tempat yang sama. Menatap pintu yang tertutup rapat. Jika ia mau, ia bisa saja memaksa masuk untuk melihat keadaan Nayya. Namun, ia menghormati keputusan sahabatnya yang tidak mengizinkannya masuk. Ia memahaminya. Jadi, ia hanya bisa memberikan doa-doa terbaik untuknya.

***

"Arkan sudah pulang?" tanya Nayya sangsi saat mereka akan meninggalkan ruang rawat.

"Papa tidak melihatnya, mungkin dia sudah pulang," jawab Alfi. "Kenapa kamu tidak mau menemuinya?"

Nayya diam. Alfi pun tidak menuntut jawaban. Ia mengerti mungkin Nayya belum siap bertemu dengan siapa pun termasuk Arkan. Karena ia tahu, Arkan melihat semuanya.

Siang itu, Nayya resmi meninggalkan rumah sakit. Selama perjalanan menuju mobil, tangannya tak lepas menggandeng tangan Afanin. Dan ia selalu menghindari kontak mata dengan siapa pun. Terutama laki-laki.

Not A Love (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang