Bab 14 - Rahmat dan Kuasa-Nya

1.6K 179 57
                                        

14

Rahmat dan Kuasa-Nya

"Rahmat-Nya selalu mendahului kemurkaan-Nya. Dan ketika kita mendatangi-Nya dengan sungguh-sungguh dan memasrahkan segalanya pada-Nya, disitulah ia memberikan rahmat-Nya"

***

Nayya mengaduk makan malamnya tanpa minat. Ia merasa sudah kenyang walau hanya menyuap beberapa sendok nasi. Semua tingkah lakunya itu tak luput dari perhatian Alfi. Ia memperhatikan anak gadisnya yang nampak murung dan tak banyak bicara seperti biasanya.

"Nay," Alfi memanggilnya. Nayya mendongak. "There's something wrong, hm?" tanya Alfi.

Nayya menggeleng pelan. "Nope," jawabnya lesu lalu menaruh sendok. "Ma, Pa, Nayya duluan ya," pamit Nayya kemudian bangkit dari duduknya. Berjalan menuju kamarnya di lantai atas.

Alfi melirik istrinya, meminta penjelasan. "Apa ada masalah?"

"Sepertinya begitu," jawab Afanin. Membuat kening Alfi berkerut bingung.

"Ada apa?" tuntut Alfi lagi.

Afanin menghela napas sejenak. "Katanya dia mau membuat ekskul baru, tapi proposalnya tidak di acc dengan alasan yang menurutnya tidak masuk akal."

Alfi semakin mengernyit. "Ekskul apa?"

"ROHIS," jawab Afanin singkat. Ia sedang menyelesaikan makannya.

"Ekskul apa itu?" tanya Alfi lagi.

Afanin menatapnya lalu terkekeh sebentar. "Rohani Islam. Sebenarnya itu perkumpulan para aktifis dakwah. Mereka berkumpul dalam satu wadah bernama ROHIS. Jadi, di organisasi itu mereka saling menebar kebaikan, melakukan kegiatan berbau islami. Kurang lebih sih seperti itu."

Alfi manggut-manggut, paham. "Lalu, kenapa tidak di acc? Bukankah itu bagus?"

"Itulah yang jadi masalah Nayya, ia kecewa dan tak habis pikir dengan sekolahnya yang tak memberi ia izin dengan alasan itu organisasi yang tidak terlalu penting, juga karena sudah terlalu banyak organisasi di sekolahnya." Afanin menghela napas sejenak. "Melihatnya seperti itu, sepertinya dia benar-benar menginginkan mendirikan ekskul tersebut. Dia bilang, dia ingin membuka ladang dakwahnya sendiri. Dan sebenarnya aku senang dengan idenya itu."

Alfi kembali mengangguk tanpa mengatakan apa-apa. Mungkin sedang memikirkan cara membantu anak kesayangannya itu.

Afanin menatap suaminya curiga. "Mas jangan aneh-aneh loh," ujarnya.

"Aneh-aneh apa sih, Sayang?" geli Alfi.

"Nayya nggak bakal suka kalau tahu Mas ikut campur."

"Ya, kamu jangan kasih tahu dia dong," ujar Alfi dengan senyum jenaka. "Aku hanya akan membantu memudahkan jalannya saja, kok. Gak usah khawatir."

Afanin tersenyum. "Aku bisa precaya padamu, kan?" ujarnya lalu bangkit untuk membereskan meja makan.

"Tentu saja," ucap Alfi tersenyum yang kemudian membantu sang istri beres-beres.

**

Nayya merebahkan tubuhnya di ranjang. Menghela napas beberapa kali. Harinya tadi benar-benar tak menyenangkan. Sudah ditolak soal proposal pembuatan ekskul ROHIS, ditambah masalah Sandi yang secara tak langsung melibatkan dirinya. Ia memejamkan mata mengingat pertemuan sebelumnya dengan Arkan dan Kei sepulang sekolah. Ia sudah tahu siapa yang melaporkan perbuatan teman sekelasnya itu.

"Kenapa lo laporin ke Pak Budi?" tanya Nayya kala itu setelah mendengar pengakuan dari Kei, kalau dialah yang melaporkan semua perbuatan Sandi. Arkan yang juga di sana hanya diam memperhatikan.

Not A Love (Completed)Tempat cerita menjadi hidup. Temukan sekarang