Hanya ada satu kebahagiaan dalam hidup ini, untuk mencintai dan dicintai.
***
"BANGUN!!!! NATASHA BANGUN WOYY!! TEMENIN GUE LARI PAGI WOY!!"
Pagi ini gue bener – bener masih ngantuk banget gara - gara semalam tidur jam 2. Semua orang pasti akan sulit tidur kalau lagi ada masalah. Tapi tidur nyenyak gue terganggu gara – gara teriakan yang luar biasa. Gue yakin itu Fasya. Gak ada orang lain yang bisa masuk kamar gue sembarangan sampe teriak - teriak kecuali Fasya.
Gue ambil bantal dan melemparkannya ke arah Fasya. "Sya, ini masih pagi, tu liat deh baru jam setengah 6 gak perlu teriak – teriak. Kuping gue sakit ni." Ucap gue sambil ngusap telinga.
"Bukannya bilang makasih, malah lempar bantal. Cepetan siap - siap, gue tunggu di bawah." Ucap Fasya.
"Bodo amat lo mau nunggu gue dimana, yang penting sekarang keluar dari kamar gue." Ucap gue ngusir Fasya keluar dari kamar.
Dengan malas gue jalan ke arah kamar mandi dan siap – siap.
Setelah siap dengan pakaian untuk olahraga, gue sama Fasya lari muter – muter di taman dekat rumah gue.
"Nat, lo beneran pacaran sama Vino?" Tanya Fasya. Seketika gue jadi inget kejadian semalam.
"Enggak." Ucap gue walaupun sebenarnya gue juga gak tau gue pacaran atau enggak sama dia.
"Nat, sodara cowok gue ada yang suka sama lo. Dia baik, ganteng, kece badai, tinggi, putih, sopan, pokoknya perfect. Mau gue kenalin gak? Dia juga jomblo, kaya lo." Ucap Tasya.
"Lo juga jomblo, Sya. Gausah ribet – ribet ngurusin gue, urusin dulu diri sendiri."
"Sorry ya, gue gak jomblo. Gue itu single, bukan jomblo." Ucapan Fasya bikin gue bingung. Single sama jomblo itu sama arti, sama – sama sendirian gak ada pasangan.
Enggan untuk menanggapi ucapan Fasya, gue dengan cuek berkata "Terserah lo." Dan langsung lari cepat ninggalin Fasya. Fyi, Fasya itu sebenernya gak suka sama lari, dia payah dalam bidang lari. Kalo dia tiba – tiba ngajak lari, pasti ada sesuatu.
"NATASHA TUNGGU!"
Sesampainya di rumah, gue sama Fasya liat mobil yang terparkir di depan rumah.
"Eh Nat mobil siapa tuh?" Ucap Fasya.
"Gue juga gak tau." Jawab gue lalu masuk ke dalam rumah tanpa permisi. Samar – samar gue mendengar suara orang dari ruang makan keluarga. Akhirnya gue sama Fasya memutuskan untuk ke ruang makan.
Dan ternyata disitu ada Vino dan keluarganya.
"Selamat pagi tante, om." Ucap gue sopan diikuti Fasya.
"Pagi Natasha." Ucap Vino dengan senyumnya. Well, gue ga nyapa lo Vin. Entah kenapa gue jadi benci banget sama dia hanya karena kejadian 3 tahun yang lalu dan kejadian semalam.
"Pagi Vin." Jawab sapa gue terpaksa. Ya setidaknya gue punya kesan baik di mata semua orang.
"Aduh... senangnya liat interaksi manis mereka ya Dilla." Ucap Tante Amira ke mamah tiri gue. Oops.. gue hampir lupa kalau di sini ada mamah tiri gue.
"Ini ada apaan sih?" Ucap Fasya berbisik.
"Gue juga gak tau." Ucap gue berbisik juga.
"Yaudah kalau gitu, tante sama om pergi dulu ya, Vino tetap disini kok." Ucap tante Amira sambil mengedipkan matanya jail ke gue. Gue ga ngerti maksudnya apa.
"Baik tante. Hati – hati di jalan." Ucap gue tersenyum.
Setelah mamah dan papahnya Vino pergi, pandangan gue sama Fasya teralihkan ke arah Vino.
KAMU SEDANG MEMBACA
Don't Go
Teen Fiction[UPDATE SETIAP HARI] Natasha Varayn, perempuan yang dikenal selalu berbicara ketus tanpa mempedulikan orang lain. Selalu bersikap tak peduli pada apapun dan siapapun. Ia seperti itu semenjak keluarganya yang tak harmonis lagi dan menyebabkan...
